Ayah-Anak di Situbondo Tewas Tersengat Listrik saat Rumahnya Kebanjiran

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS - Ayah-anak di Situbondo, Jawa Timur, tewas tersengat listrik saat rumah mereka terendam banjir. Sedangkan di Bali, ibu-anak meninggal setelah rumahnya dihancurkan banjir bandang.

Korban tewas di Situbondo adalah Abdul Wahed (45) dan Adinda Putri Rahayu (17). Mereka meninggal pada Rabu (21/1/2026) malam karena tersengat listrik dalam rumah yang kebanjiran di Jalan Madura RT 001 RW 003, Dusun Pecinan, Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo.

Menurut Camat Besuki Yakup Alex Susanto, Jumat (23/1/2026), korban berada dalam rumah saat banjir setinggi 1 meter datang. Banjir dipicu hujan deras pada Rabu pukul 15.00-21.00 WIB. Banjir diduga memicu reaksi aliran listrik.

Kematian korban diketahui oleh warga yang kemudian mengevakuasi kedua jenazah setelah listrik dipadamkan. Ayah dan anak yang naas itu dievakuasi dengan truk ke RSUD Besuki.

Baca JugaDua Hari Terakhir, Dua Tewas Tersengat Listrik di Bekasi
Baca JugaTiga Warga Cilincing Tewas Tersengat Listrik Saat Banjir
Baca JugaBanjir di Bandar Lampung Renggut Korban Jiwa

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan, sungai-sungai dan seluruh jaringan drainase tak mampu menampung curahan hujan pada Rabu itu. Luapan air membanjiri sembilan desa dalam lima kecamatan yakni Kendit, Bungatan, Mlandingan, Besuki, dan Banyuglugur.

Sampai Jumat siang, tim terpadu masih menangani dampak banjir yang sempat memutus lalu lintas jalur pantura Situbondo. Tercatat 6.328 rumah warga di lima kecamatan terdampak banjir.

”Untuk korban meninggal kami tanggung seluruh biaya pengurusan dan penguburan jenazah,” ujar Rio.

Banjir juga menerjang tanggul dan dua jembatan di Desa Randu, Besuki, dan dua jembatan limpas di Desa Wringinanom, Jatibanteng. Selain itu, Jembatan Randu di Besuki dan ada jembatan limpas lainnya di Wringinanom ambruk nyaris putus.

Masih di Jatim, tim SAR mengevakuasi lima kru ponton Indo Ocean Marine yang kandas sekitar 300 meter dari pantai Pulau Gili Iyang, Desa Banraas, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Kelima kru tongkang dalam kondisi selamat tetapi muatan berupa minyak mentah kelapa sawit (CPO) tumpah dan mencemari perairan.

Menurut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Surabaya Nanang Sigit, evakuasi dilaksanakan oleh tim dari Pos Sumenep dengan Rigid Buoyancy Boat (RBB). Tim diberangkatkan dari Pelabuhan Kalianget yang berjarak 15 mil laut ke lokasi kapal kandas.

Nanang mengatakan, Indo Ocean Marine kandas saat ditarik tugboat atau kapal tarik Trans Pasific 66. Evakuasi tuntas pada Kamis pukul 12.00 WIB. Kelima kru yang dievakuasi ialah Jumanto (45), Wibo Ari Murdiyanto (20), Dwi Kurnianto (20), Sudirman (45), dan Brigadir Satu Ribut Prasetyo.

Kepada tim penyidik Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Sumenep, Jumanto mengatakan, kapal mengangkut 3.000 Kiloliter CPO dari Sebamban, Kalimantan Selatan, tujuan Pelabuhan Gresik.

Namun, dalam perjalanan di perairan Sumenep, sejak Rabu petang, ponton dan kapal tarik dihantam cuaca buruk sehingga mencoba berlindung di sekitar Pulau Gili Iyang.

Namun, cuaca buruk yang tak kunjung membaik sampai Kamis dini hari mengakibatkan kerusakan pada ponton sehingga terdampar dan kandas di dekat pantai Pulau Gili Iyang.

Kapal tarik yang tidak ingin ikut kandas lalu melepaskan tali sehingga ponton pun kian kandas. Dalam situasi itu, mereka menghubungi unsur SAR di Sumenep untuk mendapatkan pertolongan.

Baca JugaBanjir Bali, Alarm Krisis Sampah
Baca JugaBanjir Bandang dan Tanah Longsor Landa Bali
Baca JugaBali Kembali Hadapi Potensi Cuaca Buruk

Sementara itu di Bali, hujan deras memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan ibu dan anak. Korban ialah Yuliana Da Costa Makun (29) dan Audrey Natania Banafanu (1,5).

Keduanya terbawa arus Subak Jemanik karena rumah mereka roboh diterjang banjir di Banjar Kuwum Ancak, Desa Kuwum, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

Menurut Kepala Kantor SAR Denpasar I Nyoman Sidakarya, jenazah Audrey telah ditemukan pada Kamis (22/1/2026) pukul 07.00 Wita di Pantai Batu Belig, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Tempat itu sekitar 7 kilometer dari lokasi kejadian.

”Korban ditemukan pengunjung, dalam posisi telentang terimpit bebatuan. Pelapor kemudian menginformasikannya kepada tim SAR,” ujarnya.

Sidakarya melanjutkan, pukul 14.00 Wita, Yuliana ditemukan warga pencari pakan ternak di tepi Sungai Yehge, Desa Abian Tuwung, Kecamatan Kediri, Tabanan. Posisi korban ditemukan juga sekitar 7 km dari lokasi insiden. Setelah temuan kedua korban, operasi SAR dihentikan.

”Kami berduka dan belasungkawa untuk korban dan keluarga. Kami juga berterima kasih atas kerja tim gabungan. Kami turut mengimbau dan meminta masyarakat meningkatkan kesiagaan dan kewaspadaan untuk menekan potensi menjadi korban karena cuaca buruk masih mengintai,” ujar Sidakarya.

Sementara itu, I Gede Agus Satria Bayu (39), petugas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Ceningan, Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, tewas tersengat listrik saat memperbaiki pompa yang rusak.

SWRO merupakan instalasi pengolahan air laut menjadi air tawar. Alat ini menyediakan air bersih bagi masyarakat Ceningan hingga Nusa Penida. SWRO menggunakan sistem pompa dengan perangkat peralatan listrik bertegangan tinggi.

Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, kurun 21-31 Januari 2026, warga Nusa Dewata agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potenci cuaca buruk.

”Sekarang sedang berada di puncak musim hujan, ada peningkatan aktivitas monsun Asia dan pertemuan angin yang memicu cuaca ekstrem berulang,” ujarnya.

Dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Bali berpotensi diguyur hujan sedang sampai lebat disertai kilat dan petir serta angin kencang. Juga ada potensi gelombang 1,25-2,5 meter di perairan utara Bali dan Selat Lombok. Untuk gelombang 2,5-4 m berpeluang terjadi di perairan selatan Bali dan Selat Bali.

Dalam perspektif kebencanaan, alam tidak membunuh. Yang membunuh itu ketidahtahuan, tidak waspada, tidak siaga, ketiadaan mitigasi dan antisipasi, tidak cepat dalam penanganan

”Kami juga telah memasang 6 alarm peringatan dini banjir di Tukad Badung dari Kampung Jawa sampang Pekambingan,” ujar Bhusana Yadnya.

Pemasangan alat ini untuk mencegah dampak merusak banjir bandang pada 9-10 September 2025 yang mengakibatkan 28 tewas. Sebanyak 12 jiwa di antaranya ialah korban yang bermukim di sepanjang sungai atau Tukad Badung.

Pakar kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo mengingatkan, bencana hidrometeorologi tidak terhindari karena pembangunan peradaban yang mengabaikan tata kelola dan kelestarian lingkungan.

”Dalam perspektif kebencanaan, alam tidak membunuh. Yang membunuh itu ketidahtahuan, tidak waspada, tidak siaga, ketiadaan mitigasi dan antisipasi, tidak cepat dalam penanganan,” kata Amien.

Baca JugaKetidaktahuan yang Membunuh di Pulau Serasan
Baca JugaMenelisik Problem Hulu-Hilir Pemicu Banjir Pantura Timur Jateng
Baca JugaMitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana

Korban-korban dalam bencana hidrometeorologi akan selalu ada selama penanganan setelah kenaasan tidak kembali kepada prinsip tata kelola untuk keselamatan bersama.

Amien amat menyarankan, pemulihan setelah bencana perlu mengutamakan antisipasi. Misalnya, untuk kawasan yang banjir, bagaimana penataan lingkungan sehingga dampak banjir bisa diturunkan ketika datang lagi.

Selain itu, kata Amien, pindahkan warga yang tinggal di tepi sungai, bawah tebing, dan area rawan terjangan. Pelbagai instalasi yang berisiko mematikan yakni gas, lstrik, dan elektronik harus ditata kembali.

”Pohon-pohon peneduh juga harus diperhatikan, jangan sampai mudah tumbang lalu mencelakai. Mitigasi itu utuh dan menyeluruh karena menyangkut keselamatan bersama,” kata Amien.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
RI Gabung Dewan Perdamaian Bentukan Trump, PKS Ingatkan Waspada Tinggi
• 12 jam laludetik.com
thumb
Cuaca Ekstrem, Disdik Kabupaten Bekasi Imbau Sekolah Gelar KBM Daring
• 10 jam laluidntimes.com
thumb
BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca Jabodetabek 24-27 Januari 2026: Siaga Potensi Hujan Sangat Lebat
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Amankan Dua Pelaku Tawuran Maut di Bekasi
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
Pramono Instruksikan PJJ dan Pekerja WFH saat Hujan Agar Tak Kena Macet
• 9 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.