Kawasan Asean Berpotensi Produksi 8,5 Juta Barel Bioavtur per Hari pada 2050

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kawasan Asean berpotensi memproduksi hingga 8,5 juta barel per hari bahan bakar berkelanjutan untuk penerbangan atau sustainable aviation fuel (SAF) pada 2050, seiring kebutuhan mendesak dekarbonisasi sektor aviasi.

Temuan ini tertuang dalam laporan Asean SAF 2050 Outlook yang memetakan potensi rantai pasok regional pada 2030, 2040, dan 2050, termasuk skenario permintaan dan pasokan SAF di Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta pasar impor seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

SAF merupakan bahan bakar penerbangan berbasis sumber terbarukan atau limbah yang memenuhi kriteria keberlanjutan, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan dapat langsung digunakan pada pesawat serta infrastruktur yang ada. Bahan baku utama SAF di Asean antara lain minyak jelantah, limbah padi, limbah singkong, dan residu kehutanan.

Laporan tersebut menyebut seluruh negara Asean yang dikaji berpotensi memiliki kapasitas cukup untuk menjadi eksportir bersih SAF. Vietnam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand memiliki ketersediaan bahan baku terbesar, sementara Indonesia, Malaysia, dan Filipina dinilai memiliki jalur distribusi paling efisien menuju pasar Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.

Selain sebagai pemasok, Asean juga diproyeksikan menjadi pasar utama SAF. Permintaan SAF di kawasan ini diperkirakan meningkat dari 15.000 barel per hari pada 2030 menjadi lebih dari 700.000 barel per hari pada 2050, dengan kebutuhan terbesar berasal dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand, serta pasar Asia lain seperti Jepang dan Korea Selatan.

Dari sisi teknologi, metode Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) saat ini menjadi teknologi paling umum, meski biayanya sekitar dua kali lipat dibandingkan bahan bakar jet konvensional, terutama dipengaruhi harga bahan baku. Jalur alternatif seperti Gasification/Fischer-Tropsch, Alcohol-to-Jet (ATJ), dan Hydrothermal Liquefaction (HTL) saat ini 4–7 kali lebih mahal, tetapi kesenjangan biaya diperkirakan menyempit seiring dengan pematangan teknologi dan peningkatan skala produksi.

Baca Juga

  • Energi Angin dan Surya Dominasi Pasokan Listrik Uni Eropa pada 2025, Geser Fosil
  • Bahlil Kaji Ulang Pencabutan Izin PLTA Batang Toru
  • Danantara Utamakan Tata Kelola Proyek PSEL

Deputy Secretary-General for the Asean Economic Community, Satvinder Singh, menyatakan laporan ini menegaskan keunggulan komparatif Asean dari sisi pasokan, khususnya dalam ketersediaan bahan baku bio berkelanjutan.

“Meningkatnya permintaan regional dan global terhadap bahan bakar penerbangan berkelanjutan menghadirkan peluang pasar yang jelas bagi Asean,” ujarnya, dikutip dari siaran pers, Jumat (23/1/2026).

Ia menambahkan bahwa untuk memaksimalkan dinamika permintaan dan pasokan tersebut, negara-negara anggota Asean perlu bekerja sama dalam meningkatkan kapasitas produksi, menerapkan teknologi yang efisien secara biaya, serta membangun kerangka perdagangan dan pasar regional yang kuat.

“Dengan mencocokkan secara efisien sumber daya pertanian yang melimpah dengan permintaan SAF yang terus tumbuh, Asean dapat memosisikan diri tidak hanya sebagai pusat penerbangan berkelanjutan yang mandiri dan kompetitif, tetapi juga sebagai pemasok energi yang andal untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan energi di kawasan Asia-Pasifik,” lanjutnya.

Sementara itu, perwakilan Boeing untuk kawasan Asia Tenggara, Sharmine Tan, menilai peningkatan pasokan SAF akan menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri penerbangan yang lebih bertanggung jawab di tengah ekspansi sektor aviasi regional.

Di sisi lain, Executive Advisor – Energy and Infrastructure GHD, Sachin Narang, menilai ketersediaan limbah pertanian dan kehutanan yang melimpah di Asean berpotensi menekan biaya bahan baku SAF, sekaligus membuka ruang bagi intervensi kebijakan, inovasi, dan investasi.

“Kita berada pada titik yang menarik dalam pengembangan SAF karena Asean memiliki kelimpahan limbah pertanian dan kehutanan yang dapat menjadi bahan baku berbiaya rendah, sehingga mempersempit premi harga antara SAF berbasis HEFA dan bahan bakar jet. Pada saat yang sama, intervensi kebijakan, langkah-langkah yang lebih terarah, peningkatan skala, dan inovasi dapat memperkecil kesenjangan biaya untuk jalur produksi SAF alternatif dalam jangka menengah hingga panjang,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Minta Warga yang Jadi Penambang Alih Profesi Jadi Pasukan Oranye? Ini Alasannya
• 5 jam lalugrid.id
thumb
Pembangunan 18 Jembatan Bailey di Aceh Rampung, Akses Jalan Bisa Dilalui Mobil
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Film Sinners Cetak Rekor Peraih Nominasi Piala Oscar Sepanjang Sejarah
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
51 Desa di Kabupaten Bekasi Terendam, Tinggi Air di Sukawangi Capai 130 Cm
• 4 jam laludetik.com
thumb
Di Davos, Presiden Prabowo Tegaskan Supremasi Hukum sebagai Fondasi Investasi dan Keadilan Sosial
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.