Air cokelat setinggi hampir 50 cm menggenangi Jalan Daan Mogot Raya, Jakarta Barat. Air itu membuat lalu lintas sedikit tersendat, sebab ketinggian air yang mencapai knalpot motor itu membuat beberapa kendaraan berhenti.
Banyak yang ragu menerobos, hanya satu-dua pemotor yang nekat membelah genangan air itu. Sementara lalu lintas makin padat dengan kendaraan makin bertambah.
Di tengah kebuntuan ini, sebuah gerobak yang didorong beberapa anak muda mencoba menawarkan solusi. Anak-anak muda dengan celana digulung selutut ini menawarkan bantuan jasa angkut motor membelah banjir.
Ada beberapa motor yang berminat. Cekatan mereka menaikkan motor itu ke atas gerobak, mendorongnya melintasi genangan air. Sementara pengemudi nya, ikut naik di atas gerobak sederhana itu.
Fahri Setiawan (18), salah satu dari anak muda itu.
“Nama saya Fahri Setiawan, TB aja,” katanya
Fahri adalah warga Taman Kota dan masih berstatus pelajar. Hari itu buka jasa angkut motor karena sekolah sedang libur.
Bagi Fahri, mengangkut motor di tengah banjir bukan pengalaman baru. Ia sudah melakukannya sejak banjir besar beberapa tahun lalu.
“Sudah, dari banjir yang 2020 itu,” ujarnya.
“Iya, iseng saja. Terus dikasih duit.” tambahnya.
Gerobak yang digunakan Fahri dan kawan-kawannya bukan milik pribadi.
“Minjam, ada,” katanya.
Mereka bekerja bersama-sama tanpa pembagian peran yang kaku. Semua saling membantu.
“Sama teman-teman yang lain,” ucap Fahri.
Banyak Peminat, Satu Motor Rp 50 RibuHari ini, Fahri lumayan beruntung, ada banyak motor yang memanfaatkan jasanya. Sebagian besar pemiliknya adalah pekerja yang hendak pergi atau pulang, sebagian lain adalah kurir paket.
“Ada yang pulang kerja, ada yang mau ngantar paket,” kata Fahri.
Genangan air yang tinggi jadi alasan banyak pengendara memilih jasa angkut. Fahri paham risikonya jika motor dipaksa menerobos banjir.
“Itu kan tingginya sampai knalpot. Jadi kalau motor kemasukan air dari knalpot bisa bahaya, kak. Mogok,” ujarnya.
Hari ini ia sudah mengangkut belasan motor.
“Hari ini 17 motor,” katanya.
Soal tarif, Fahri menyebut tidak ada harga tetap. Semuanya disesuaikan dengan jarak. Tapi, rata-rata ia mematok Rp 50 ribu.
“Tarifnya tergantung jarak. Kalau dari situ lurus terus itu bisa Rp 70-80 ribuan. Kalau dari sini ke stasiun situ Rp 40-50 ribuan,” jelasnya.
Uang itu dibagi rata dengan teman-temannya yang turut mendorong motor.
“Iya, dibagi rata,” tegasnya.
Ia masih mengingat betul pengalaman saat banjir tahun lalu, ketika hasil yang mereka dapatkan cukup besar.
“Kalau kemarin, tahun kemarin kita markir kak di situ, dibuka trotoarnya. Jadi dapet Rp 600 ribu,” ujarnya.
“Enam orang. Seratus-seratus," jelasnya.
Untuk banjir kali ini, Fahri memperkirakan penghasilan dari dua hari berada di kisaran yang sama.
“Dua hari? Ya, Rp 600-700 ribu,"
Namun jasa yang ditawarkan Fahri tentu mempunyai risiko. Ia sudah merasa tak enak badan.
“Masuk angin, kak, tapi aman, masih kuat” katanya.
Meski meraup untung dari banjir, Fahri punya pesan bagi warga terkait banjir.
“Buat warga atau semuanya, jangan buang sampah sembarangan. Sudah itu aja,” ringkasnya.
Fahri tak bisa melanjutkan perbincangan. Ia melihat ada motor yang membutuhkan jasanya. Ia bergegas lari ke gerobaknya, mendorong ke arah mereka yang membutuhkan jasanya. Fahri dan kawan-kawannya terus berjalan-mendorong gerobak, menyeberangkan motor, dan mengisi hari libur mereka dengan kerja yang dilakukan dengan gembira.




