Asia Mulai Berani Lawan Dolar AS: Ringgit Juara Rupiah Tak Kalah Hebat

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia kembali terbelah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (23/1/2026).

Merujuk data Refinitiv, hingga pukul 11.55 WIB, 6 dari 11 mata uang Asia terpantau menguat, termasuk rupiah. Sementara itu, sisanya masih melemah di hadapan greenback.

Rupiah melanjutkan penguatannya dengan terapresiasi 0,27% ke level Rp16.835/US$, setelah ditutup menguat cukup solid 0,30% pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Setelah sempat berada dalam tren pelemahan dan nyaris menembus level psikologis Rp17.000/US$, rupiah kini berangsur pulih dan mulai stabil menguat.

Penguatan ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung beragam, dengan ringgit Malaysia tampil sebagai pemimpin penguatan. Ringgit melonjak pesat 0,82% ke level MYR4,005/US$. Yang sekaligus menjadi level tertingginya sejak 6 Januari 2021 atau dalam lima tahun terakhir.

Selain ringgit, yuan China dan dolar Singapura juga menguat dengan masing-masing naik 0,14% ke CNY6,9629/US$ dan SGD1,279/US$.

Dolar Taiwan turut menguat 0,13% ke TWD31,553/US$, sementara dong Vietnam naik 0,09% ke VND26.244/US$.

Sementara itu, tekanan masih terlihat pada sejumlah mata uang lain. Won Korea Selatan melemah 0,27% ke KRW1.467,8/US$, disusul peso Filipina yang turun 0,18% ke PHP59,044/US$.

Yen Jepang juga turun 0,11% ke JPY158,57/US$, sementara baht Thailand melemah 0,10% ke THB31,14/US$ dan rupee India turun tipis 0,05% ke INR91,6/US$.

Pergerakan mata uang Asia hari ini tak lepas dari dinamika dolar AS di pasar global. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau relatif stabil di level98,368. Namun, pada penutupan perdagangan sebelumnya, DXY kembali tercatat melemah0,41%ke level98,359.

Dolar AS berada di bawah tekanan setelah pasar global kembali diliputi ketidakpastian menyusul dinamika sikap Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Pernyataan keras yang sempat dilontarkan, lalu diikuti pembalikan sikap secara cepat, membuat investor waspada dan mendorong pengurangan eksposur terhadap aset-aset AS.

Kondisi ini membuat dolar berpeluang membukukan pelemahan mingguan terdalam dalam setahun terakhir. Di saat yang sama, pelaku pasar juga menantikan keputusanBank of Japan (BoJ)yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang utama dunia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ironi Pemkot Madiun: Dapat Penilaian Integritas Tertinggi, tapi Wali Kota Terjerat Korupsi
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Aktivitas Bisnis Neta Indonesia Masih Berjalan, Fokus Jaga Layanan Purnajual
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Gischa tambah emas boccia usai menangkan final sesama Indonesia
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Soal OMC, Pramono: Saya Minta Nambah 2-3 Kali Lagi
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Trump Gugat Raksasa Bank Ini ke Pengadilan, Tuntut Rp84,8 T
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.