EtIndonesia. Dalam dua hari terakhir, dunia menyaksikan sebuah drama geopolitik berskala besar di Davos, Swiss—panggung berkumpulnya sekitar 3.000 elite politik dan ekonomi global, termasuk lebih dari 60 kepala negara/pemerintahan serta hampir 850 CEO dan ketua dewan perusahaan raksasa dunia. Namun, di tengah kerumunan elite tersebut, sorotan utama hanya tertuju pada satu figur: Donald Trump.
Kehadiran Trump di Forum Ekonomi Dunia tahun ini bukan sekadar formalitas. Dia datang untuk “mengguncang panggung”, menantang narasi lama globalisme, dan memaksakan ulang agenda America First di jantung markas globalisme.
Insiden Langka di Udara: Air Force One Berbalik Arah
Drama dimulai bahkan sebelum Trump menginjakkan kaki di Davos. Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat dengan standar keamanan paling ketat di dunia, tiba-tiba berbalik arah tak lama setelah lepas landas menuju Swiss.
Alasan resmi menyebut gangguan listrik ringan. Namun kesaksian jurnalis yang berada di dalam pesawat menyebutkan, ketika pesawat sudah stabil di ketinggian jelajah, lampu kabin media berkedip lalu padam total selama beberapa detik, memicu suasana tegang.
Setelah mendarat kembali di Pangkalan AU Andrews, tingkat pengamanan langsung dinaikkan ke level tertinggi. Trump segera dipindahkan ke pesawat cadangan C-32—yang biasanya digunakan Wakil Presiden AS—dan diterbangkan ulang agar jadwal Davos tetap terpenuhi. Insiden ini dinilai banyak pengamat sebagai adu strategi senyap yang sudah dimulai bahkan sebelum Trump bertatap muka dengan elite Davos.
Tiba di Markas Globalisme
Trump akhirnya tiba tepat waktu di Davos, lokasi World Economic Forum. Dia mendarat menggunakan helikopter Marine One, disambut karpet merah panjang. Ironisnya, tokoh-tokoh yang selama ini lantang mengkritiknya, justru mengantre untuk berjabat tangan dan berfoto—sebuah gambaran telanjang realitas kekuatan politik.
Dua Ironi Besar Davos
Di luar ruang forum, dua ironi mencolok mencuri perhatian dunia:
- Jet Pribadi dan Klimatologi Moral
Dalam beberapa hari, lebih dari 1.000 jet pribadi mendarat di Davos, membawa dua hingga tiga ribu elite yang berpidato soal perubahan iklim—sambil menghasilkan ribuan ton emisi karbon. Di saat yang sama, publik global diminta menurunkan pemanas rumah, mengurangi konsumsi daging, dan meninggalkan kendaraan berbahan bakar fosil. - “No Kings” vs Para Raja
Sebuah papan besar bertuliskan “No Kings” dipasang sebagai protes terhadap Trump. Ironisnya, tujuh raja Eropa duduk di dalam forum. Dari delapan negara Eropa yang sebelumnya diancam tarif oleh Trump terkait isu Greenland, lima adalah monarki. Pesan protes itu pun berubah menjadi satire.
Hari Pertama (20 Januari 2026): Greenland & Arktik Berubah Arah
Pada hari kedatangannya, Trump mengumumkan kabar paling mengguncang Davos: kesepakatan kerangka masa depan Greenland dan kawasan Arktik telah dicapai bersama NATO. Konsekuensinya, tarif hukuman yang sedianya berlaku 1 Februari 2026 ditunda sementara.
Kesepakatan ini akan dibahas lebih lanjut dalam kerangka sistem pertahanan “Kubah Emas”, dengan rincian tambahan menyusul. Namun garis besarnya mencakup enam poin strategis:
- Akses Wilayah Strategis
AS memperoleh kendali atas beberapa titik kecil di Greenland untuk pangkalan militer dan sistem pertahanan rudal. AS telah memiliki satu pangkalan di sana; tambahan titik di Greenland utara dinilai krusial. - Tanpa Pembelian, Tanpa Batas Waktu
Tidak ada transaksi pembelian bernilai ratusan miliar dolar. Denmark mempertahankan kedaulatan simbolis, sementara kehadiran AS bersifat permanen dan berlaku tanpa batas waktu. - Akses Sumber Daya
AS memperoleh hak partisipasi dalam pengembangan sumber daya mineral Greenland. - Memutus Pengaruh Rusia–Tiongkok
Poin krusial: menghentikan pengaruh Rusia dan Tiongkok di Greenland dan Arktik.
Sebagai imbalan, Trump hanya menunda tarif terhadap delapan negara Eropa. Banyak pengamat menyebut ini sebagai seni transaksi ala Trump: tanpa biaya pembelian, namun meraih kepentingan strategis penuh.
Trump juga menegaskan percepatan produksi senjata—Patriot, Tomahawk, F-35, dan sistem unggulan lain—seluruhnya diproduksi di AS.
Efeknya instan: pasar prediksi Polymarket mencatat peluang AS “memperoleh Greenland” pada 2026 melonjak dari 12% menjadi 55% dalam satu hari.
Pidato Tajam dan Tekanan Terbuka
Dalam pidato lebih dari satu jam, Trump menyinggung Denmark dengan mengingatkan bahwa pada Perang Dunia II negara itu menyerah dalam enam jam. Pesannya tegas: keamanan Greenland, menurut Trump, bergantung pada AS—yang kala itu melindungi dan mengembalikannya tanpa syarat.
Dia juga menyebut kegagalan sistem pertahanan buatan Rusia dan Tiongkok di Venezuela, serta menegaskan Eropa harus bangun dari ilusi bertahan tanpa Amerika. Pernyataan Presiden Finlandia yang sebelumnya menyebut Eropa tak membutuhkan AS, bahkan dikoreksi sendiri dalam 11 menit.
Sekjen NATO mengakui, tanpa Trump, target belanja pertahanan 2%—bahkan 5%—tak akan tercapai. Sementara Volodymyr Zelenskyy secara terbuka mengkritik kemunafikan Eropa: pandai bicara masa depan, enggan bertindak hari ini.
Hari Kedua (21 Januari 2026): Komisi Perdamaian
Pada hari kedua, Trump meluncurkan langkah yang dinilai lebih radikal: pembentukan Komisi Perdamaian, sebuah organisasi internasional baru yang oleh sebagian pihak disebut berpotensi menyaingi PBB.
Komisi ini mengusung prinsip bahwa perdamaian dicapai lewat kekuatan dan tindakan nyata, bukan sekadar deklarasi. Hingga 22 Januari 2026, 59 negara dilaporkan telah menandatangani keanggotaan awal.
Struktur organisasi sangat tegas:
- Trump sebagai satu-satunya ketua,
- Hak veto absolut,
- Masa jabatan seumur hidup (kecuali mengundurkan diri atau tidak mampu bertugas).
Keanggotaan gratis selama tiga tahun; untuk status tetap, biaya 1 miliar dolar AS per negara—logika bisnis khas Trump.
Menariknya, Vladimir Putin turut diundang. Saat ditanya alasannya, Trump menjawab lugas: semua negara—termasuk musuh—harus dilibatkan agar bermain di aturan yang sama.
Secara nominal, komisi ini ditujukan untuk penyelesaian konflik Timur Tengah, khususnya Gaza. Namun bagi banyak analis, inilah panggung tata dunia baru yang berpusat pada Amerika—atau lebih tepatnya, pada Trump.
Pulang ke Washington
Pada 22 Januari 2026, Trump kembali ke Amerika Serikat. Dia menegaskan rencana Greenland terus berjalan dan Komisi Perdamaian akan menjadi terobosan yang belum pernah ada.
Kesimpulan:
Dalam dua hari, Trump mengubah agenda Arktik, menekan Eropa dan NATO, serta memperkenalkan arsitektur tata kelola global baru. Davos 2026 pun tercatat bukan sekadar forum ekonomi—melainkan panggung drama geopolitik yang menggeser keseimbangan dunia.

/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2025%2F07%2F04%2F99c6e519-6e47-4e7b-93dc-bbbe935f2057_jpg.jpg)


