Pontianak (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan seekor bayi orangutan betina tanpa induk di perkebunan kelapa sawit warga Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.
"Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu dilaporkan warga terlihat berkeliaran selama beberapa hari di kebun sawit tanpa keberadaan induknya. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan melakukan verifikasi lapangan dan memastikan satwa dilindungi itu berada dalam kondisi sendirian serta berisiko mengalami konflik dengan manusia," kata dokter hewan YIARI, drh. Komara, di Pontianak, Jumat.
Petugas sempat melakukan pencarian induk di sekitar lokasi, namun tidak membuahkan hasil. Untuk memastikan keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.
Setelah dilakukan observasi, proses evakuasi diputuskan tanpa menggunakan senjata bius atau anestesi karena mempertimbangkan usia orangutan yang masih sangat muda.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” kata yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan. “Penanganan manual menjadi pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.”
Proses penangkapan berlangsung lancar. Jani kemudian dimasukkan ke kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Jani diperkirakan berusia sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih bergantung penuh pada induknya.
“Di alam liar, anak orangutan bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, nutrisi, maupun pembelajaran bertahan hidup. Terpisah dari induk pada usia ini sangat berisiko,” ujarnya.
Saat ini Jani ditempatkan di ruang karantina untuk pemulihan kondisi fisik dan mental, serta akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan.
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kejadian ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa liar akibat fragmentasi lanskap dan ekspansi lahan.
“Kasus ini menunjukkan tekanan habitat yang terus meningkat. Kami mengapresiasi respons cepat masyarakat, BKSDA, dan tim lapangan. Ke depan, pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar kasus serupa tidak berulang,” katanya.
Menurut dia, tim masih memantau kawasan sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk. Jika ditemukan, akan diupayakan proses reunifikasi. Namun jika tidak, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga siap dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam penyelamatan tersebut.
“Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat orangutan masih tinggi. Edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan untuk menjaga keanekaragaman hayati,” katanya.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa dilindungi yang populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat dan konflik dengan aktivitas manusia.
Baca juga: BKSDA dan YIARI selamatkan bayi Orangutan di area PETI Ketapang
Baca juga: KLHK selamatkan bayi orangutan tanpa induk di Kabupaten Melawi, Kalbar
Baca juga: BKSDA Kalbar evakuasi satu individu bayi orangutan
"Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu dilaporkan warga terlihat berkeliaran selama beberapa hari di kebun sawit tanpa keberadaan induknya. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan melakukan verifikasi lapangan dan memastikan satwa dilindungi itu berada dalam kondisi sendirian serta berisiko mengalami konflik dengan manusia," kata dokter hewan YIARI, drh. Komara, di Pontianak, Jumat.
Petugas sempat melakukan pencarian induk di sekitar lokasi, namun tidak membuahkan hasil. Untuk memastikan keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.
Setelah dilakukan observasi, proses evakuasi diputuskan tanpa menggunakan senjata bius atau anestesi karena mempertimbangkan usia orangutan yang masih sangat muda.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” kata yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan. “Penanganan manual menjadi pilihan paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.”
Proses penangkapan berlangsung lancar. Jani kemudian dimasukkan ke kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Jani diperkirakan berusia sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih bergantung penuh pada induknya.
“Di alam liar, anak orangutan bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, nutrisi, maupun pembelajaran bertahan hidup. Terpisah dari induk pada usia ini sangat berisiko,” ujarnya.
Saat ini Jani ditempatkan di ruang karantina untuk pemulihan kondisi fisik dan mental, serta akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan.
Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kejadian ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa liar akibat fragmentasi lanskap dan ekspansi lahan.
“Kasus ini menunjukkan tekanan habitat yang terus meningkat. Kami mengapresiasi respons cepat masyarakat, BKSDA, dan tim lapangan. Ke depan, pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar kasus serupa tidak berulang,” katanya.
Menurut dia, tim masih memantau kawasan sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk. Jika ditemukan, akan diupayakan proses reunifikasi. Namun jika tidak, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga siap dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam penyelamatan tersebut.
“Di usia lima tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat orangutan masih tinggi. Edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan untuk menjaga keanekaragaman hayati,” katanya.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa dilindungi yang populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat dan konflik dengan aktivitas manusia.
Baca juga: BKSDA dan YIARI selamatkan bayi Orangutan di area PETI Ketapang
Baca juga: KLHK selamatkan bayi orangutan tanpa induk di Kabupaten Melawi, Kalbar
Baca juga: BKSDA Kalbar evakuasi satu individu bayi orangutan




