PADANG, KOMPAS — Hasil kaji cepat Badan Geologi menemukan sejumlah keunikan pada Sinkhole Situjuah, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Salah satu keunikannya adalah sinkhole terjadi bukan di batu gamping atau karst, melainkan di material vulkanik atau endapan gunung api.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, tim Badan Geologi telah melakukan peninjauan cepat terhadap kasus sinkhole atau lubang akibat tanah ambles di Jorong Tapi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, pada 9-11 Januari 2026. Hasil peninjauan dan analisis uji laboratorium mengungkap sejumlah fakta.
”Fenomena sinkhole di Nagari Situjuah Batua adalah pseudokarst atau karst semu dan karena keunikannya, maka Badan Geologi menamakannya Sinkhole Situjuah,” kata Lana dalam siaran pers yang dikutip Kompas, Jumat (23/1/2026).
Sejumlah keunikan Sinkhole Situjuah, kata Lana, adalah sinkhole terjadi di material vulkanik atau endapan gunungapi, bukan di batu gamping atau karst. Di bawah lubang terdapat sungai bawah tanah yang membentuk rongga di material vulkanik (tuf lapili).
”Mekanisme utamanya karena erosi buluh, yaitu erosi internal yang mengikis partikel tanah dan membentuk saluran-saluran atau ’pipa’ alami,” ujar Lana.
Keunikan lain, lubang sinkhole terisi air dan terlihat kesan warna biru pada air. Fenomena tersebut pada bentang alam karst disebut cenote. Kemudian, derajat keasaman air (pH) agak asam hingga netral.
Lana melanjutkan, ada dua faktor penyebab munculnya Sinkhole Situjuah, yaitu faktor air dan faktor stabilitas tanah. Dari faktor air, penyebabnya adalah suplai air yang melimpah (dari hujan dan air tanah) yang terus-menerus mengalir. Kekuatan air tanah mengikis tanah dari dalam secara perlahan.
Adapun dari faktor stabilitas tanah, lanjutnya, jenis tanah di daerah terbentuknya sinkhole, yaitu tuf/abu vulkanik, mudah terkikis air. Ada jalur retakan-retakan di dalam tanah yang mempermudah proses erosi buluh. Kemudian, perubahan tekanan rongga di bawah ambang batas toleransi sehingga tidak kuat menahan beban di atasnya.
Menurut dia, mekanisme terjadinya sinkhole tersebut bermula dari sungai di atas permukaan lapili tuf yang kemudian mengalami pengendapan di atas lapili tuf dari aktivitas vulkanik seiring waktu geologi. Kemudian, terjadi proses erosi buluh (soil piping) pada sungai lama.
Selanjutnya, terbentuk rongga yang membentuk sungai bawah tanah yang semakin membesar seiring waktu geologi. Secara paralel, terbentuk retakan vertikal dan lubang vertikal di permukaan tanah hingga tersambung ke sungai bawah tanah.
”Gabungan faktor pemicu dari air yang mengganggu faktor stabilitas litologi mempercepat terjadinya sinkhole,” kata Lana.
Sinkhole Situjuah masih mungkin melebar, terutama ke arah tenggara-barat laut. Perkiraan sementara jarak aman dari tepi sinkhole adalah 17 meter ke arah barat daya-timur laut dan 30 meter ke arah tenggara-barat laut.
Adapun peluang kemunculan sinkhole baru masih ada. Walakin, karakternya tidak terjadi secara massal dan bersifat setempat-setempat. Biasanya muncul di sepanjang jalur sungai bawah tanah.
”Sebagian wilayah Nagari Situjuah Batua dan Nagari Tungka yang berada di barat daya Sinkhole Situjuah lebih rentan daripada sebagian wilayah Nagari Situjuah Batua yang berada di timur laut Sinkhole Situjuah,” kata Lana.
Terkait penanganan Sinkhole Situjuah, Badan Geologi memberikan dua opsi. Pertama, dibiarkan terbuka dan melebar alami. Kedua, dicegah agar tidak melebar.
Untuk opsi pertama, sinkhole tidak ditutup, tetapi mesti dihitung kestabilan lubang dan ditentukan radius aman secara detail dan terukur. Kemudian, air dibiarkan mengalir keluar melalui saluran drainase dan air tidak dibiarkan meresap kembali ke tanah sekitar sinkhole.
”Alirkan air ke bagian stabil, seperti sungai di hilir, atau manfaatkan untuk kebutuhan air baku warga dengan catatan dikaji rinci kelayakan airnya,” ujar Lana.
Untuk opsi kedua, dicegah agar tidak melebar, diperlukan bantuan ahli teknik sipil untuk memperkuat tebing dengan rekayasa teknis. Perlu dihitung dan direncanakan pula jumlah air yang boleh lewat di sungai bawah tanah agar tidak mengganggu kestabilan di hulu dan hilir sinkhole.
"Sinkhole Situjuah memiliki keunikan yang dapat dijadikan destinasi wisata edukasi, asalkan sudah dipastikan keamanannya dan ada pengaturan jarak aman untuk pengunjung serta ada edukasi tentang fenomena geologi,” kata Lana.
Badan Geologi juga mengimbau warga untuk tidak percaya dengan isu air sinkhole berkhasiat karena, berdasarkan uji laboratorium, air ini sama dengan air yang sering dijumpai sehari-hari.
Air berwarna biru, misalnya, adalah fenomena alam—bukan hal mistis—yang terjadi karena partikel-partikel kecil atau zat terlarut di dalam air menghamburkan panjang gelombang warna biru yang ditangkap mata manusia.
”Laporkan jika menemukan gejala awal sinkhole. Jaga jarak aman dari sinkhole yang sudah ditetapkan Badan Geologi. Ikuti arahan dari pemerintah dan ahli geologi,” ujar Lana.
Fenomena sinkhole muncul di sawah warga di Jorong Tapi, Nagari Situjuah Batua, Minggu (4/1/2026) pagi. Fenomena ini muncul setelah sawah itu kering berbulan-bulan.
Diameter lubang yang muncul mulanya hanya sekitar 2 meter dan digenangi air keruh. Namun, pada Minggu (4/1/2026) malam, diameter lubangnya meluas hingga lebih dari 10 meter dan airnya meluber, lalu mengenangi sawah lain. Kejadian langka ini menarik pengunjung dari sejumlah daerah di Sumbar dan provinsi sekitar (Kompas.id, 10/1/2026).
Kualitas air di sinkhole tersebut semakin jernih dari hari ke hari. Pengunjung yang mulanya datang hanya untuk melihat kejadian unik ini, kemudian mulai mengambil air itu untuk dibawa pulang. Warga menyebutnya ”air telaga sawah luluih” atau berarti air telaga sawah ambles. Airnya bening dan sejuk.
Akan tetapi, hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Sumbar menyebutkan, air dari Sinkhole Situjuah mengandung bakteri E coli dan Coliform. Air tidak aman dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu (Kompas.id, 12/1/2026).
Fungsional penyelidik bumi Dinas ESDM Sumbar, Dian Hardiansyah, menyebut, tingkat pH air sinkhole itu 5,4. Adapun normalnya pH untuk air minum berkisar 6-7. ”Artinya, air dengan pH 5,4 itu agak asam, tetapi masih aman untuk dikonsumsi dengan catatan harus dimasak,” katanya (Kompas.id, 10/1/2026).
Warga Jorong Tapi, Salmi, Jumat (23/1/2026), mengatakan, luas lubang memang terus bertambah dari hari ke hari meski tidak semasif kondisi di awal. Diamater Sinkhole Situjuah kini berkisar 14-15 meter.
”Lubang dibatasi garis kuning dan dipagari dengan bambu supaya orang tidak masuk. Sebab, potensi runtuh dan melebarnya lubang masih ada,” ujarnya.
Terkait pengunjung, Salmi menyebut, jumlahnya turun signifikan dibanding awal kejadian. Paling banyak dalam sehari sekitar 100 orang. Sebelumnya, jumlah pengunjung ratusan orang setiap hari.
“Meski jumlahnya jauh menurun, antusiasme pengunjung masih ada, terutama orang yang belum pernah melihat langsung,” ujarnya.
Salmi menambahkan, pengunjung masih ada yang mengambil air sinkhole untuk dibawa pulang. Namun, petugas di lokasi terus mengingatkan agar air dimasak bila hendak dikonsumsi supaya tidak menimbulkan gangguan kesehatan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478784/original/010546900_1768923115-14.jpg)