Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan duka cita atas meninggalnya pria berinisial AR (51) di dalam mobilnya di Jalan Latumenten, Jelambar, Jakarta Barat, pada Kamis (22/1).
Peristiwa ini terjadi saat arus lalu lintas sedang macet akibat banjir yang menggenangi lokasi. Pramono prihatin setelah membaca pemberitaan terkait peristiwa tersebut.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, terus terang saya berduka untuk itu. Karena memang yang meninggal, saya sudah membaca beritanya, walaupun belum secara langsung bertemu,” kata dia usai meninjau Kali Cakung Lama, Jakarta Utara, Jumat (23/1).
Ia kemudian memerintahkan Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta untuk mendata dan menelusuri secara rinci kronologi meninggalnya korban.
“Saya tadi sudah memerintahkan kepada Dinas Kesehatan untuk mendata, mencari tahu bagaimana proses meninggalnya,” ujarnya.
Berdasarkan informasi awal yang diterimanya, korban meninggal dunia saat terjadi kemacetan. Pramono menyebut kemacetan tersebut salah satunya dipicu oleh banjir yang terjadi di sejumlah titik di Jakarta.
“Karena memang sebenarnya dari informasi yang saya peroleh, meninggal ketika terjadi kemacetan. Kemacetan juga sebagian karena terjadi banjir,” imbuh dia.
Diduga Meninggal Karena Sakit
Korban diduga meninggal dunia karena sakit. Kanit Reskrim Polsek Grogol Petamburan, AKP Alex Tengbunan, menjelaskan awal mula penemuan jasad AR yang bermula dari kecurigaan warga sekitar.
Penemuan ini berawal saat seorang pemilik bengkel melihat mobil yang dikemudikan AR berhenti tak bergerak di tengah jalan. Saksi kemudian melaporkan hal tersebut kepada petugas lalu lintas yang berada di lokasi.
"Saksi ini menginfokan kepada anggota Lantas bahwa mobil ada yang mogok, ada yang berhenti di tengah jalan. Kemudian Kanit Lantas dan anggota Lantas langsung datang dan mendorong mobil tersebut, namun direm tangan," kata Alex saat dihubungi wartawan, Jumat (23/1).
“Kalau banjir mungkin mobil sulit untuk jalan, tapi karena cuma genangan jadinya pelan-pelan dan padat kendaraan,” ujarnya.
Curiga karena tidak ada respons, petugas mencoba mengecek kondisi di dalam kabin melalui kaca jendela.
"Dibuka pintunya terus anggota ini melihat sopir ini, driver, kepalanya merunduk. Kepalanya merunduk dalam keadaan duduk, memakai kaos abu-abu dan celana jeans biru. Terus dicek kenapa bisa merunduk ini, mungkin tidur atau gimana kan, tapi pas dicek denyut nadinya sudah tidak berdetak," ujar Alex.
Tim identifikasi dari Polres Metro Jakarta Barat segera diterjunkan ke lokasi untuk melakukan olah TKP. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh AR.
Polisi justru menemukan sejumlah obat-obatan di dalam tas korban, yang memperkuat dugaan bahwa AR meninggal karena kondisi kesehatan yang menurun.
"Korban selanjutnya dibawa ke Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kesehatannya," pungkasnya.




