Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menegaskan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah. Penegasan ini menyusul terbitnya Peringatan Dini Cuaca Indonesia dan Prospek Cuaca Sepekan ke Depan periode 23–29 Januari 2026 yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dokumen resmi BMKG mencatat potensi hujan lebat hingga ekstrem pada 23–25 Januari 2026 di sejumlah wilayah. Pada 23 Januari 2026, level Awas hujan sangat lebat hingga ekstrem ditetapkan untuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Level Siaga hujan lebat hingga sangat lebat berlaku di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
BMKG juga menetapkan status Siaga pada 24 Januari 2026 di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan, serta Papua. Pada 25 Januari 2026, status Siaga kembali berlaku di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Selain hujan lebat, BMKG mengeluarkan peringatan dini angin kencang di sejumlah wilayah strategis, antara lain Aceh, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta beberapa provinsi lainnya.
Menko PMK menekankan peringatan dini tersebut menjadi dasar utama penguatan langkah antisipatif pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Dokumen peringatan dini BMKG ini harus menjadi rujukan langsung bagi kepala daerah dan seluruh perangkat daerah dalam mengaktifkan sistem kesiapsiagaan. Ini adalah fase krusial untuk early action guna mencegah jatuhnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar,” tegas Menko PMK, Jumat, 23 Januari 2026.
Menko PMK meminta pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota yang berada pada level Siaga dan Awas, khususnya di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, segera mengaktifkan posko siaga bencana dan sistem komando penanganan darurat.
Daerah juga diminta menyiagakan penuh BPBD, TNI, Polri, dinas teknis, serta relawan. Langkah lain meliputi pengecekan daerah aliran sungai, tanggul, lereng rawan longsor, serta sistem drainase perkotaan, sekaligus menyiapkan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian yang aman serta siap digunakan.
BMKG mencatat sejumlah kabupaten dan kota berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem pada 23 Januari 2026. Di Banten meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Di DKI Jakarta meliputi Jakarta Barat, Utara, Timur, Pusat, dan Selatan. Di Jawa Timur terjadi di Kabupaten Probolinggo. Wilayah tersebut diminta menjadi prioritas penguatan kesiapsiagaan lapangan.
Menko PMK juga mengimbau masyarakat di wilayah rawan untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta aktif memantau informasi resmi BMKG melalui laman dan aplikasi INFO BMKG, mengurangi aktivitas di daerah rawan banjir dan longsor saat hujan lebat, serta menyiapkan tas siaga bencana dan rencana evakuasi keluarga.
“Kesiapsiagaan masyarakat adalah lapis pertama perlindungan. Informasi yang dipahami dan tindakan yang tepat waktu akan menyelamatkan banyak jiwa,” ujar Menko PMK.
Penguatan kesiapsiagaan ini menjadi bagian dari strategi nasional pengurangan risiko bencana berbasis risiko. Peringatan dini BMKG dijadikan dasar koordinasi lintas sektor antara Kemenko PMK, BNPB, BMKG, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, serta pemerintah daerah.
Pemerintah pusat memastikan pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan cuaca ekstrem selama periode 23–29 Januari 2026 dan dukungan penuh kepada daerah hingga potensi cuaca ekstrem berakhir.
Editor: Redaksi TVRINews





