JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak pandang bulu untuk memberantas koruptor.
Meski berlatar belakang dari salah satu partai politik (parpol) dengan Prabowo, penegak hukum tidak akan melindungi para pejabat yang memakan uang rakyat.
“Dalam sidang-sidang kabinet, itu kata-kata pemberantasan korupsi, pemerintahan yang bersih, itu adalah diksi yang seringkali diulang oleh Presiden,” ujar Bima dalam Program ROSI Kompas TV, dikutip Jumat (23/1/2026).
“Dan kalau kita melihat pola yang ada sekarang dan fenomena yang terakhir terjadi, ya kita kan melihat bagaimana sebetulnya pemerintah ini tidak pandang bulu. Walaupun misalnya kader dari partai pemerintah, kalau memang terkait dan tersangkut begitu dan terlibat, maka perlakuannya sama,” tambah dia.
Baca juga: Prabowo Sikat 28 Perusahaan Perusak Alam, Ketua DPD: Ini Pesan ke Seluruh Anak Bangsa
Sebagai salah satu pejabat yang masuk dalam Kabinet Merah Putih, Bima mengaku merasakan komitmen Prabowo tersebut.
Bukan hanya dalam sidang kabinet, Bima menyebut Prabowo kerap kali mengingatkan dalam beberapa kesempatan, salah satunya adalah saat Retret Kepala Daerah.
Namun, menurut Bima, Retret Kepala Daerah bukan merupakan kegagalan pemerintah dalam membina kepala daerah.
“Tapi kan yang namanya pembinaan tidak cukup sekali dua kali. Enggak bisa kita mengharapkan taklimat dari Presiden kemudian apa yang dibekali di retret itu menjadi pengingat yang sempurna. Kan enggak bisa,” tegas dia.
Sebab, semuanya harus berjalan secara sistematik dan bersama-sama seiring dengan program yang digagas oleh pemerintah.
Baca juga: Prabowo di WEF: Banyak Rakyat Saya Makan Nasi Garam namun Mereka Tersenyum
“Nah saya lebih melihat bahwa kita sangat perlu untuk memunculkan figur-figur yang justru antitesis dari kasus-kasus ini. Ada Bung Hatta Award yang saya kira pemenangnya itu sangat dihormati misalnya,” ujar dia.
“Dan lebih banyak lagi kita perlu sosok-sosok itu, itu yang kurang. Karena rasanya itu menjadi penyeimbang, karena kita perlu role model juga. Jadi mainstream yang positif inilah yang juga harusnya bisa kita bangun, di samping tindakan-tindakan tadi,” tambah dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang