WEF 2026: Antara Kekuatan dan Harapan

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

World Economic Forum (WEF) Davos 2026 bak menjadi barometer arah dunia. Digelar di tengah ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan transformasi teknologi yang kian cepat, forum ini mempertemukan para pemimpin negara, pelaku bisnis, dan tokoh global untuk membaca ulang peta kekuasaan dunia.

Tema besar yang mengemuka tak lagi soal pemulihan, melainkan adaptasi terhadap tatanan global yang berubah secara struktural.

Diskusi-diskusi di WEF 2026 menunjukkan sebuah kesamaan. Yakni, tatanan lama tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan baru. Proteksionisme, konflik regional, krisis iklim, hingga disrupsi teknologi mendorong dunia memasuki fase multipolar yang lebih kompleks. Dalam konteks inilah, WEF Davos berfungsi sebagai ruang negosiasi ide antara kepentingan nasional, solidaritas global, dan harapan masa depan.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan perubahan tersebut dengan bahasa yang lugas. Menurutnya, dunia tidak perlu meratapi runtuhnya tatanan lama. Justru, negara atau aktor yang pasif berisiko tersingkir dari proses pengambilan keputusan global. Pesan ini mencerminkan meningkatnya kompetisi geopolitik, sekaligus tuntutan untuk hadir secara aktif dalam forum-forum multilateral.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menempatkan multilateralisme sebagai kepentingan strategis bersama. Di tengah menguatnya politik kekuatan, Eropa berupaya mempertahankan sistem global berbasis aturan. Bagi Macron, multilateralisme yang efektif bukan idealisme kosong, melainkan alat untuk menjaga keseimbangan kekuasaan dan stabilitas global.

Nada optimistis datang dari sektor teknologi. Pendiri SpaceX dan Tesla, Elon Musk, mendorong dunia untuk tetap antusias terhadap masa depan. Di tengah kecemasan global, ia melihat kemajuan teknologi sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas hidup. Optimisme, menurut Musk, menjadi pilihan rasional di tengah ketidakpastian.

Dari perspektif negara berkembang, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pendekatan diplomasi inklusif. Indonesia memilih menjalin persahabatan dengan semua pihak, berfokus pada kredibilitas, eksekusi kebijakan, dan pertumbuhan yang berkeadilan. Posisi ini mencerminkan upaya Global South untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam tatanan baru.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti isu perdamaian dan rekonstruksi Gaza. Keterlibatan AS dalam Dewan Perdamaian Gaza menunjukkan bahwa isu kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari agenda global, kendati dibayangi rivalitas kekuatan besar.

WEF Davos 2026 pun menggambarkan dunia yang berdiri di antara realisme kekuasaan dan harapan kolektif, mencari arah baru di tengah ketidakpastian global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
TB Hasanuddin Soroti Peluang Diplomasi Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Kalender Jawa Januari 2026: Tanggal Weton, Hijriah, Masehi
• 8 jam lalutheasianparent.com
thumb
Daftar 9 Rute Transjakarta Berhenti Beroperasi Sementara Dampak Banjir Jakarta
• 12 jam laludisway.id
thumb
AHY Bertemu dengan Rektor UI, Ini yang Dibahas
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Mauricio Souza Belum Pastikan Tiga Pemain Baru Persija Tampil Kontra Madura United
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.