Pantau - Kementerian Pariwisata menyatakan akan menyusun ulang indikator Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) setelah 229 hotel di Bali dinyatakan berpredikat merah dalam penilaian yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2025.
Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Rizki Handayani, dalam acara Pengukuhan Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali di Denpasar pada Jumat, 23 Januari 2026.
"Terkait pariwisata berkelanjutan, tahun lalu kita dibombardir pertanyaan pada komponen penilaian yang dilakukan Kementerian LH, tapi sudah kami sepakati bahwa Proper itu akan disusun ulang kembali," ungkapnya.
Penilaian Proper Akan Libatkan Dua KementerianRizki menjelaskan bahwa indikator penilaian Proper tahun ini akan disusun bersama antara Kementerian Pariwisata dan Kementerian Lingkungan Hidup dengan mengidentifikasi aspek yang relevan serta menghilangkan indikator yang dinilai kurang sesuai.
"Pak Menteri LH bilang diserahkan kepada Kementerian Pariwisata untuk menyusun kembali, tapi tentang pengelolaan sampah di hotel yang diwajibkan," ia mengungkapkan.
Indikator Proper yang dinilai pada tahun 2025 mencakup penanganan sampah, pengendalian pencemaran air, pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), pengelolaan limbah B3, dan pengendalian pencemaran udara.
Namun hasilnya menunjukkan bahwa semua hotel yang dinilai, sebanyak 229 hotel, masih berpredikat merah, sehingga dianggap perlu dilakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap indikator tersebut.
Kemenpar menilai bahwa indikator pengelolaan sampah wajib ada, namun perlu ada pemahaman yang lebih detail tentang bagaimana pelaksanaannya di lapangan.
"Wajibnya oke, tapi bagaimana wajibnya itu dilaksanakan itu yang perlu kita komunikasikan, kami menyadari isu sampah ini isu bersama dan sampah di industri pariwisata perlu dikelola," ujarnya.
Keberlanjutan dan Keselamatan Jadi Fokus UtamaRizki menekankan bahwa keberhasilan hotel dalam mengelola limbah akan memberikan nilai tambah di mata wisatawan, mengingat tren pariwisata berkelanjutan semakin diminati.
"Ini sebenarnya menjadi salah satu citra dari hotel tersebut, namun demikian kita juga punya tantangan, semua pasti punya tujuan dan visi sama tapi bagaimana melaksanakannya di tingkat operasional," ungkapnya.
Selain aspek lingkungan, Kemenpar juga menyisipkan indikator baru dalam Proper yang menyangkut sektor keamanan dan keselamatan wisatawan, terutama di Bali.
Menurut Rizki, keselamatan wisatawan sangat penting karena turut memengaruhi citra pariwisata Bali di mata dunia dan berkaitan erat dengan masuknya investasi.
Jika citra Bali terus membaik, maka potensi masuknya investasi yang berdampak positif akan semakin besar dan dapat menambah devisa negara.
Saat ini, sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa tertinggi keempat bagi Indonesia.




