JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah cuaca ekstrem para warga Jakarta tetap harus menjalani aktivitas bekerja demi bisa menghidupi keluarganya di rumah.
Tak sekadar menerobos hujan, belakangan ini warga Jakarta juga harus menghadapi banjir yang terjadi di beberapa titik.
Bukan hanya pekerja kantoran, aktivitas para petani di kawasan Marunda dan Rorotan juga terganggu karena sawahnya terendam banjir belakangan ini.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, sebagian sawah di Marunda dan Rorotan memang masih tergenang air dengan ketinggian yang bervariariasi mulai dari 10 hingga 15 sentimeter (cm).
Banjir membuat petani bekerja lebih ekstra, karena harus memanen padinya secara manual menggunakan arit dan terpal sebagai wadah.
Mereka juga terpaksa harus panen sambil berendam air banjir di sawah demi menyelamatkan padinya agar tidak busuk, karena terus terendam hujan.
Namun, di balik musibah banjir yang merendam sawah petani, keberkahan justru menyelimuti warga di sekitar kawasan Marunda dan Rorotan.
Sebab, sawah yang terendam banjir itu justru dipenuhi dengan berbagai macam ikan, seperti lele, mujair, bawal, gabus, dan lain sebagainya.
Menurut warga sekitar, jika semakin tinggi banjirnya, maka semakin banyak pula ikan yang ada di sawah, sehingga banyak warga yang memancing.
Baca juga: Banjir Sawah di Jakut Jadi Berkah, Warga Pancing Ikan untuk Hemat Biaya Makan
Sumber penghasilan baruAbdul Malik (60) menjadi salah satu warga yang memanfaatkan momen sawah banjir ini untuk mencari ikan.
Biasanya, ia akan menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari di sawah untuk sekedar memancing atau mencari ikan dengan jaring.
Bagi dia, banjir yang menggenangi sawah tidak sepenuhnya musibah, melainkan juga keberkahan yang bisa dimanfaatkan.
Sebab, di tengah pekerjaannya sebagai kuli bangunan yang sepi, memancing ikan di sawah yang banjir bisa membantunya tetap berpenghasilan, meski tak seberapa.
Pasalnya, ikan-ikan yang didapatkan Abdul tak hanya untuk dikonsumsi sendiri, melainkan juga dijual ke orang yang mau membeli.
"Nanti dijual ke tetangga atau ada aja orang yang lewat bayarin. Per kilonya itu saya jual Rp 20.000-25.000," jelas Abdul saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu (21/1/2026).
Jenis ikan yang dijual per kilonya itu beragam tergantung apa yang didapatkan Abdul dari kegiatan memancingnya di sawah. Mulai dari mujair, bawal, lele, gabus, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, selama tak ada pekerjaan, ia selalu memancing dan berharap ada orang lewat yang mau membeli ikannya.
Namun, jika tak ada yang membeli, maka ikan-ikan itu dibawa pulang ke rumah untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga, sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk membeli lauk.
Baca juga: Berkah di Tengah Musibah, Sawah Banjir di Jakarta Jadi Tempat Mancing
Abdul mengaku, dalam satu hari bisa mendapatkan lima kilogram (Kg) ikan dari sawah yang terendam banjir di Marunda dan Rorotan.




