Bisnis.com, JAKARTA - Deloitte Football Money League 2026 mencatat Real Madrid sebagai klub bola dengan pendapatan terbesar sepanjang 2025, tepatnya 1,16 miliar euro atau setara Rp22,91 triliun. Menegaskan posisi Los Blancos sebagai klub terkaya di dunia, sekaligus melampaui rekornya terdahulu.
Berdasarkan riset terbaru Deloitte yang dipublikasikan pada Kamis (22/1/2026) itu, Real Madrid masih menjadi satu-satunya klub sepak bola yang mampu menembus pendapatan di atas 1 miliar euro sejak 2024.
Bahkan, rekor itu ditegaskan lagi dengan pertumbuhan pendapatan 11% secara tahunan (yoy) pada 2025. Tren ini ditopang tumbuhnya segmen komersial yang kini tembus 594 juta euro dan segmen broadcasting yang kini mencapai 335 juta euro. Sebaliknya, segmen matchday justru turun tipis ketimbang tahun lalu menjadi 233 juta euro.
Lead Partner Deloitte Football Money League, Timothy Bridge menjelaskan terkhusus sisi broadcasting, banyak klub yang mengalami pertumbuhan pesat berkat kompetisi FIFA Club World Cup 2025. Real Madrid termasuk di antaranya, apalagi prestasinya terbilang apik karena bisa melaju hingga semifinal.
Sementara itu, kontribusi segmen komersial Real Madrid pertumbuhannya tembus 23% yoy karena performa penjualan merchandise dan muncul commercial partners baru.
"Adapun, segmen matchday Real Madrid turun 6% [yoy], terutama karena penurunan penjualan Personal Seat Licenses, kendati secara nominal sebenarnya masih tergolong besar apabila dibandingkan dengan klub lain," ungkapnya.
Baca Juga
- Hasil Liga Champions: Man City Tumbang, Arsenal dan Real Madrid Berpesta
- Prediksi Skor Real Madrid vs AS Monaco: Head to Head, Susunan Pemain
- Jadwal Liga Champions: Inter Milan vs Arsenal, Real Madrid vs AS Monaco
Bergeser ke penghuni peringkat tiga besar, berturut-turut ada Barcelona dengan total pendapatan 974,8 juta euro dan Bayern Munchen dengan 860,6 juta euro.
Barcelona menjadi sorotan karena mengalami kenaikan pesat, sebab pada 2024 Blaugrana hanya menduduki peringkat ke-6 dengan 765 juta euro saja. Artinya, kenaikan pendapatan Barcelona mencapai kisaran 27% yoy.
Menariknya, pendorong utama kenaikan itu ternyata berkah penjualan Personal Seat Licenses yang laris-manis, padahal stadion Spotify Camp Nou baru dibuka lagi medio November 2025 setelah selesai renovasi.
Selanjutnya, posisi ke-4, ada Paris Saint-Germain (PSG) dengan pendapatan 837 juta euro, naik sekitar 4% yoy ketimbang periode sebelumnya.
Semua segmen pendapatan PSG mengalami kenaikan seiring performa apik mereka di lapangan, terutama berkat kesuksesan menggenggam trofi Liga Champions UEFA.
"Kesuksesan klub ikut menambang daya tawar PSG sebagai merek bisnis, contohnya muncul kerja sama dengan jenama internasional seperti Air Jordan, sehingga kehadirannya di lanskap kultur pop dunia pun terus membaik," jelas Tim.
Kejutan datang dari klub sepak bola yang berada di posisi ke-5, Liverpool yang pendapatannya hanya kalah tipis dari PSG, yakni 836,1 juta euro dengan pertumbuhan tembus 17% yoy.
Deloitte mencatat tahun 2025 menjadi pertama kalinya Liverpool menjadi klub terkaya di Inggris, sebab biasanya masih kalah komersial ketimbang duo klub asal Manchester.
Periode ini, Manchester City tepat berada satu peringkat di bawah Liverpool karena pendapatannya minus 1% yoy ketimbang tahun sebelumnya, menjadi hanya 829,3 juta euro.
Segmen broadcasting The Citizens tampak turun, sementara segmen lain pun cenderung stagnan. Tak heran, saat klub lain naik, Man City dengan mudah kehilangan posisi pertama dan kedua yang konsisten digenggamnya selama lima tahun belakangan.
"Pendapatan itu berkurang karena Man City finis di peringkat ke-3 Premier League dari sebelumnya juara. Pada kompetisi UCL pun Man City terdepak di fase play-off, dari sebelumnya masih bisa menembus perempat final," tambahnya.
Lantas, sisa urutan klub terkaya sampai 10 besar disapu bersih oleh tim Premier League. Berturut-turut Arsenal (821,7 juta euro), Manchester United (793,1 juta euro), Tottenham Hotspur (672,6 juta euro), dan Chelsea (584,1 juta euro).
Manchester United terbilang mengalami penurunan paling parah, sebab terbiasa menduduki peringkat ke-4 atau ke-5 selama 5 tahun terakhir.
Tak heran, prestasi di lapangan yang begitu inkonsisten hingga kerap keluar cepat dari berbagai kompetisi, menggerus pendapatan MU dari sisi broadcasting.
"Posisi ke-8 adalah peringkat paling rendah buat MU dalam sejarah Deloitte Football Money League. MU memang masih bisa meningkatkan pendapatan matchday dan komersial, tapi hasil kinerjanya di lapangan membuat broadcast MU anjlok 52 juta euro, sehingga menjadi 206 juta euro saja, sangat jauh dari rata-ratanya tahun belakangan," ujarnya.




