Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan pulang yang biasanya hanya memakan waktu satu jam berubah menjadi hampir tiga jam bagi Andi Rusman, karyawan perusahaan startup terkemuka di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.
Kemacetan parah, genangan air membuat jalur pulang menuju Jati Asih, Bekasi, terasa seperti tanpa ujung.
Advertisement
Selepas jam kerja, Andi melaju dari kantornya di Blok M. Namun, baru memasuki Jalan Trunojoyo, arus lalu lintas sudah tersendat. Kendaraan nyaris tak bergerak, klakson bersahutan, sementara hujan yang turun membuat jarak pandang terbatas.
Kepadatan kian terasa saat memasuki kawasan Tendean. Antrean kendaraan mengular dan berlanjut di Jalan Gatot Subroto hingga MT Haryono. Dalam kondisi itu, jalur TransJakarta yang semestinya steril justru dipenuhi sepeda motor. Para pengendara mencoba mencari celah agar bisa bergerak, meski harus berbagi ruang dengan bus yang sesekali melintas.
"Motor sudah masuk semua ke jalur busway. Bus jadi ikut terhambat,” ujar Andi, menggambarkan situasi di lapangan kepada Liputan6.com Jumat (23/1/2026).
Situasi lalu lintas yang semrawut diperparah genangan air. Di sejumlah titik, air menggenang hingga setinggi mata kaki. Andi terpaksa memperlambat laju kendaraannya agar mesin motor tak mati mendadak.
Sepatu dan celana kerjanya basah, sementara rasa lelah mulai terasa di bahu dan punggung.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481413/original/055810000_1769121102-banjir_daan_mogot.jpg)

