Disdik dan Disrumkim Tak Sinkron, 17 Kelas SMPN 3 Depok Belum Punya Meja

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS.com – Ketiadaan meja dan kursi di 17 dari 33 ruang kelas SMPN 3 Depok disebut terjadi karena ketidaksinkronan antara Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim).

Kepala Disdik Depok Wahid Suryono menjelaskan, gedung baru SMPN 3 yang diresmikan pada 8 Januari 2026 dengan anggaran Rp 28 miliar dibangun oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim).

Sementara proses pembangunan gedung melalui program ruang kelas baru (RKB) itu terpisah dengan pengadaan mebelnya.

Baca juga: Ratusan Murid SMPN 3 Depok Belajar Lesehan, Sekolah: Sudah Sepakat dengan Orangtua

“Memang harus diakui bahwa ini ada ketidaksinkronan lah gitu ya, enggak pas 100 persen dalam perencanaan,” kata Wahid kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

“Karena kan memang pembangunan RKB itu kan tahun lalu ada di Disrumkim, sementara pengadaan mebel ada di Disdik,” sambungnya.

Akibatnya, mebel untuk seluruh ruang kelas belum tersedia meski gedung sekolah sudah selesai dibangun.

Saat ini, Disdik sedang mendata ulang kebutuhan meja dan kursi di SMPN 3.

Data itu akan dibahas dalam rapat tingkat kota, termasuk perkiraan waktu kapan meja dan kursi bisa tiba.

"Selambat-lambatnya akhir April ya karena ini kan sudah akhir Januari, khawatir enggak keburu. Mudah-mudahan April semuanya sudah selesai," jelas Wahid.

Baca juga: Kekurangan Meja dan Kursi, SMPN 3 Depok Klaim Ide Meja Lipat Datang dari Murid

Sebelumnya, 17 dari 33 ruang kelas SMPN 3 Depok belum dilengkapi meja dan kursi. Akibatnya, murid harus membawa meja lipat sendiri untuk belajar lesehan.

Humas SMPN 3 Depok, Nur, mengatakan dari 33 kelas, baru 16 yang sudah memiliki meja dan kursi lengkap.

"Kalau kita itu ada 33 kelas, kita kekurangan (meja dan kursi) 17 ruangan berarti baru sekitar 16 kelas yang terisi," ucap Nur saat ditemui Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

Meja lipat digunakan untuk murid kelas VII dan VIII berdasarkan skala prioritas, sementara meja dan kursi yang tersedia difokuskan untuk kelas IX.

Keterbatasan sarana belajar ini bermula dari penggunaan satu gedung dan fasilitas bersama antara SMPN 3 dan SMPN 33 Depok.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Setelah gedung baru SMPN 3 diresmikan, sebagian fasilitas masih milik gedung lama.

"Sekarang kan kita sudah misah, nah sebagian itu memang kursi dan meja dari SMP 33, jadi ya dibawa kembali (ke gedung mereka)," ujar Nur.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Flyover Pesing Kebanjiran Saat Hujan Guyur Jakarta, Pemprov Ungkap Penyebabnya
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Status Katulampa Bogor SIAGA 3, Jakarta Siap-Siap Banjir Lagi Malam Ini
• 8 jam laludisway.id
thumb
Peneliti Pukat UGM soal Motif Dugaan Korupsi Bupati Pati: untuk Modal Politik Tak Bisa Dinafikan
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Pembangunan 18 Jembatan Bailey di Aceh Rampung, Akses Jalan Bisa Dilalui Mobil
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Risiko Beban Kerja hingga Burnout di Balik Kebijakan soal Guru BK
• 9 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.