jpnn.com, JAKARTA - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) diminta mengantisipasi dampak ketidakpastian ekonomi global terhadap pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia, khususnya akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah.
Pasalnya, dinamika geopolitik global turut berdampak pada stabilitas ekonomi nasional.
BACA JUGA: Jamin Hak Jemaah, BPKH Pastikan Pengembalian Dana Haji Khusus Plus Nilai Manfaat
“Adanya kondisi geopolitik yang panas di belahan dunia lainnya seperti penangkapan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat, perang Rusia-Ukraina yang belum usai, serta persoalan di wilayah Greenland, tentunya kondisi ini juga harus diantisipasi karena berpengaruh terhadap kondisi ketidakpastian nilai tukar Rupiah terhadap dolar,” ujar Politikus Fraksi PDI Perjuangan, Muhamad Abdul Azis Sefudin.
Bukan tanpa alasan, Anggota Komisi VIII DPR RI ini menjelaskan fluktuasi nilai tukar Rupiah berpengaruh terhadap penyelenggaraan ibadah haji karena pembayaran haji menggunakan tiga mata uang yang terdampak apabila terjadi ketidakpastian ekonomi global.
BACA JUGA: HUT ke-56, Pelita Air Bagi-Bagi Tiket Gratis ke Singapura & Lombok
“Nilai tukar Rupiah hari ini sudah mendekati Rp17.000 per dolar AS. Ini sangat berpengaruh karena penyelenggaraan haji menggunakan pembayaran dengan tiga mata uang: Rupiah, SAR, dan Dolar,” terang Azis.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan mitigasi untuk menjaga stabilitas pembiayaan agar pelemahan Rupiah tidak menjadi beban tambahan bagi jamaah haji.
BACA JUGA: Kemenhaj Diminta Siapkan Mitigasi Khusus Bagi Jamaah Haji di Wilayah Bencana
“Nah bagaimana mitigasi untuk menjaga nilai Rupiah dan tidak beban bagi jamaah kita,” seru anggota DPR Dapil Jawa Barat III Kabupaten Cianjur–Kota Bogor ini.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada


