Begini Proses Produksi Sasis Bus dan Truk Hino di Pabrik Purwakarta

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Melihat langsung proses produksi truk dan bus Hino di fasilitas pabrik PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Purwakarta, memberi gambaran jelas bahwa kendaraan niaga tidak lahir dari proses sederhana. Meski secara garis besar, tahapan produksinya memiliki kemiripan dengan manufaktur kendaraan penumpang.

Setiap unit dirakit melalui rangkaian tahapan panjang yang menggabungkan kerja manual terampil, sistem produksi presisi, serta pengendalian kualitas berlapis sebelum akhirnya dinyatakan layak jalan.

Proses dimulai dari area rangka atau chassis. Di tahap awal ini, sasis diposisikan bersamaan dolly dengan sistem one unit one dolly, di mana seluruh komponen utama akan terpasang pada satu unit yang sama sepanjang lini produksi.

Pada tahap ini pekerja melakukan pemasangan awal menggunakan rivet, tightening, dan baut sesuai standar torsi yang telah ditentukan. Lini ini tidak menggunakan konveyor berjalan, melainkan sistem non-conveyor yang memberi fleksibilitas pada setiap pos kerja.

Dari sini, sasis bergerak menuju area final line. Berbagai komponen kelistrikan, sistem keselamatan, hingga part-part kecil dipasang secara bertahap. Seluruh proses dilakukan dengan pengawasan ketat.

Dalam kondisi normal, lini produksi mampu mencapai takt time sekitar 45 menit per unit, dengan kapasitas produksi rata-rata empat unit per hari di satu lini, meski angka ini bisa meningkat menjelang periode permintaan tinggi seperti Lebaran.

Pada lini light (LDT) dan medium (MDT), Hino menerapkan sistem produksi campuran, baik untuk model satu axle maupun dua axle. Terdapat sekitar 19 pos kerja di frame final line, mulai dari pemasangan axle menggunakan nut runner bertorsi presisi, docking mesin, pemasangan shock absorber, radiator, aki, hingga komponen pendukung lainnya.

Mesin yang digunakan pun bukan hasil impor utuh, melainkan diproduksi dan dikerjakan secara in-house melalui proses machining di pabrik yang sama.

Masuk ke tahap trimming, fokus beralih pada penyempurnaan kabin. Dashboard dan interior kabin dipasang, diikuti lampu, bumper, serta pengisian awal bahan bakar sekitar 25 liter. Pada fase ini, detail estetika dan fungsi mulai diuji bersamaan, memastikan setiap kendaraan tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memenuhi standar tampilan pabrikan.

Untuk kabin sendiri, proses welding dilakukan secara terpisah untuk kategori small dan medium. Hino juga memproduksi sejumlah komponen pendukung seperti bracket melalui proses stamping in-house.

Material yang datang akan melalui unloading dan disimpan di rak storage dengan sistem stok minimum, bahkan hanya setengah hari, mengikuti prinsip produksi Toyota Production System. Jok kabin dipasok oleh pemasok lokal, sementara pergerakan material di area tertentu telah dibantu oleh AGV atau Automated Guided Vehicle.

Setelah seluruh komponen utama terpasang, unit kendaraan masuk ke tahap inspeksi produksi. Pekerja melakukan pengecekan visual atau appearance, memastikan keselarasan panel, fungsi dasar, serta kelengkapan komponen. Unit kemudian diserahkan ke area quality control (QC) untuk menjalani inspeksi final yang jauh lebih komprehensif.

Di tahap QC, kendaraan diuji melalui berbagai metode, mulai dari drum test untuk fungsi rem, kecepatan, dan sistem kelistrikan, hingga pengujian sudut lampu. Tak hanya itu, Hino juga melakukan shower test untuk memastikan tidak ada kebocoran kabin, dilanjutkan dengan vibration test guna mendeteksi potensi noise atau kelainan pada sasis maupun kabin.

Sebelum dinyatakan lolos, setiap unit masih harus menjalani running test sejauh kurang lebih dua kilometer. Di sini, aspek handling, respons kemudi, serta performa pengereman diuji secara nyata. Jika ditemukan ketidaksesuaian atau non-conformity, kendaraan akan dibawa ke area repair untuk penyempurnaan ulang sebelum kembali ke jalur akhir.

Seluruh proses tersebut menegaskan bahwa produksi truk dan bus Hino di Purwakarta bukan sekadar perakitan, melainkan manufaktur menyeluruh dari rangka, mesin, hingga kendaraan siap pakai. Dari lini inilah, kendaraan niaga Hino tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga diekspor ke 13 negara, dengan Filipina dan Vietnam menjadi tujuan utama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kalahkan Sabar/Reza di Istora, Raymond/Joaquin Melaju ke Final Indonesia Masters 2026
• 41 menit lalurepublika.co.id
thumb
Sorgum Tak Dilirik sebagai Pangan, Perusahaan Ini Kembangkan Jadi Biomassa
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pemerintah Optimis Prospek Perekonomian Indonesia Tetap Tangguh ke Depan
• 3 jam laludisway.id
thumb
Paragon & Shopee Hadirkan Pengalaman Belanja Hybrid di Hyper Brand Day di 2026
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Yusril Buka Suara Soal RUU Propaganda Asing: Arahan Presiden Sudah Turun, Tapi Drafnya Masih Misteri!
• 5 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.