Menepi dan Menimba Inspirasi di Istana Cipanas

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Waktu seakan terhenti di Istana Kepresidenan Cipanas yang berada di tepi Jalan Raya Pacet, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hijau hamparan rumput dan pepohonan memeluk gedung-gedung bercat putih bergaya kolonial, tempat diukirnya sejarah bangsa dari masa ke masa. Kekal dalam hawa sejuk lereng Gunung Gede-Pangrango.

Lantai kayu ruang tamu Gedung Induk, salah satu bangunan di kompleks istana itu, menyambut hangat. Usianya yang hampir 300 tahun tak tampak pada permukaannya yang mulus dan kokoh, tanpa keropos. Sofa dan meja tamu berukuran besar, beserta hamparan karpet bermotif mewah, menjadi ”penghuninya”.

Lukisan pemandangan Gunung Gede-Pangrango karya S Abdullah yang tergantung di salah satu dinding menambah megahnya ruangan itu. Di sisi yang berseberangan, tampak lukisan Gunung Merapi yang juga karya S Abdullah pada 1966.

Mendung yang terus-menerus menggantung pada pekan lalu tak menyurutkan siapa pun yang berkunjung ke kompleks istana yang pertama kali dibangun oleh Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff pada 1742 ini. Hujan rintik yang turun sesekali, lebih terasa sebagai teman perjalanan di kompleks istana seluas 26 hektar ini.

Cerita sejarah kompleks istana yang dituturkan Bayu Asmoyo, pemandu perjalanan di kompleks istana ini, seakan membawa ke memori di masa lampau. ”Ini dulu tempat kediaman para gubernur jenderal,” tuturnya saat Kompas menjadi peserta acara Istana untuk Rakyat (Istura), Kamis (15/1/2026).

Pembangunan kompleks istana ini berangkat dari ekspedisi yang dilakukan Gustaaf Willem Baron van Imhoff untuk mengeksplorasi tanah Jawa. Pada ekspedisi itu, Van Imhoff mendirikan Buitenzorg yang kini dikenal sebagai Kota Bogor. Tempat itu dipilih sebagai tempat peristirahatan.

Kemudian, ekspedisi itu berlanjut ke arah Puncak, Bogor. Setelah beberapa hari perjalanan dari Buitenzorg, Van Imhoff menemukan sumber air panas alami yang keluar dari bawah pohon karet munding. Daerah tersebut kemudian disebut Cipanas atau air panas dalam bahasa Sunda.

Oleh Van Imhoff, di tempat itu didirikan bangunan untuk menjadi tempat tetirah dan beristirahat dari kesibukannya sebagai Gubernur Jenderal VOC. Bangunan itu kini merupakan Gedung Induk di Istana Cipanas. Hingga akhir hayatnya pada 1750, Van Imhoff sering mengunjungi tempat itu.


Pada abad ke-19, Istana Cipanas menjadi tempat favorit untuk beristirahat para Gubernur Jenderal Hindia-Belanda.

Pada 1808-1811, Herman Willem Daendels mulai membuat perkebunan dan peternakan di daerah Cipanas. Perkebunan dan peternakan itu kemudian dikembangkan oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang kala itu ditugasi menjadi Gubernur Jenderal di bawah kekuasaan Inggris (1811-1816). Raffles yang dikenal senang dengan tumbuhan mengembangkan perkebunan buah-buahan dan peternakan di daerah Cipanas yang dikelola oleh ratusan orang.

Kemudian pada 1826-1830, Gubernur Jenderal Leonard du Bus de Gisignies senang mengunjungi Istana Cipanas untuk berendam di air panas belerang. Sumber air panas di dalam kompleks istana ini diyakini memiliki khasiat untuk menyembuhkan banyak penyakit. Karena itu, Istana Cipanas juga dikenal sebagai gedung kesehatan kala itu.

Sumber air panas itu masih dapat dikunjungi hingga saat ini. Disediakan setidaknya dua bangunan khusus untuk berendam, yang masing-masing untuk presiden-wakil presiden dan untuk para menteri. Dalam rumah tempat berendam air panas bagi para menteri, contohnya, terdapat kolam berbentuk oval. Kolam itu dialiri air panas yang mengandung belerang. Pengunjung bisa mencoba hangatnya air itu untuk membasuh tangan.

Puas menjajal air panas alami, sofa rotan berukuran besar di beranda belakang bisa menjadi tempat untuk bersantai. Bahkan, sofa itu bisa digunakan pengunjung untuk foto bersama sambil menikmati hawa sejuk Cipanas.

Sofa rotan itu, menurut Bayu, sudah ada sejak pemerintahan Presiden Pertama RI Sukarno. ”Sofa ini sudah ada sejak Sukarno. Masih awet,” ujarnya.

Dulu, sofa diletakkan di belakang Gedung Induk tempat Sukarno menikmati pelangi yang kerap terbentuk dari bias cahaya matahari di air mancur. Pelangi yang kerap terbentuk membuat sudut itu disebut magic place.

Di halaman belakang ini, bisa ditemukan pula dua pohon cempaka telur (Magnolia grandiflora L.) yang ditanam oleh Sukarno pada 1959. Selain itu, pohon karet munding tinggi menjulang menjadi penanda sumber air panas di belakangnya.

Seluruh bangunan ataupun furnitur yang ada di kompleks istana ini dirawat dengan apik. Saking terawatnya, dinginnya lereng pegunungan tak membuat hawa ruangan di tiap-tiap bangunan itu menjadi lembab. Ruangan-ruangan itu terasa segar, tak tercium bau apek. Justru wangi kayu yang manis dan lembut menyeruak serta mengesankan ingatan dari setiap ruangan.

Kepala Istana Cipanas Darmastuti Nugroho menyebut aroma redwood yang digunakan. ”Saya pilih redwood supaya sesuai dengan kayu-kayu yang banyak digunakan di bangunan-bangunan di Istana Cipanas,” ujarnya.

Dari masa kolonial, ada empat bangunan utama. Apabila Gedung Induk dibangun tahun 1742, tiga paviliun—Bima, Yudhistira, dan Arjuna—dibangun pada 1916. Di masa pemerintahan Presiden Soeharto, ditambahkan dua paviliun—Nakula dan Sadewa—pada 1984.

Di masa pemerintahan Presiden Sukarno, dibangun Gedung Bentol pada 1954. Bangunan mungil yang dirancang arsitek RM Soedarsono dan F Silaban ini menjadi tempat Presiden Sukarno menggali inspirasi untuk menyusun naskah pidato.

Hampir semua bangunan di kompleks istana ini menyimpan catatan sejarah. Gedung Induk, contohnya, selain memukau karena usianya yang hampir 300 tahun, gedung ini juga kerap digunakan Sukarno untuk rapat terbatas, salah satunya rapat Sanering pada 13 Desember 1965, yakni rapat yang membahas perubahan nilai mata uang dari Rp 1.000 ke Rp 1.

Rapat itu bertempat di ruang makan yang berada di bagian samping Gedung Induk. Ruangannya cukup luas. Di tengahnya ditempatkan meja pertemuan berbentuk memanjang beserta kursi-kursi untuk peserta rapat. Bagian interior peninggalan Belanda yang tak hilang di ruangan itu adalah perapian. Hanya saja, menurut Bayu, cerobong asap perapian itu telah ditutup karena perapian itu sudah tak digunakan lagi.

Selain itu, ada cermin berukuran besar setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter lebih, yang berdiri di atas perapian, juga merupakan peninggalan Belanda.

Menurut Bayu, Presiden Soeharto hanya dua kali mengunjungi Istana Cipanas sepanjang 32 tahun menjabat. Namun, di masa pemerintahan Soeharto, diresmikan masjid dan dibangun dua paviliun baru yang kemudian dinamakan Nakula dan Sadewa.

Pada 14-17 April 1993, gedung itu juga digunakan untuk pertemuan mediasi kelompok yang bertikai di Filipina—Moro National Liberation Front (MNLF). Perundingan ini dipimpin Menteri Luar Negeri saat itu, Ali Alatas.

Pada masa Presiden Megawati juga dibangun satu paviliun yang disebut Abimanyu. Mega sering berkunjung ke Istana Cipanas. Dia juga menanam banyak pohon buah-buahan.

Baca Juga”Dunia Lain” di Istana Kepresidenan

Presiden Yudhoyono juga cukup sering mengunjungi Istana Cipanas. Biasanya, Presiden Yudhoyono datang di hari Jumat sembari menggelar rapat terbatas. Setelahnya, baru dia menghabiskan akhir pekan di Istana yang ayem ini.

Presiden Yudhoyono juga sempat menonton bareng (nobar) final kejuaraan dunia bulu tangkis bersama Nyonya Ani Yudhoyono dan para menteri pada 11 Agustus 2013. Saat itu, pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menaklukkan Xu Chen dan Ma Jin dari China pada 11 Agustus 2013. Presiden Yudhoyono, Nyonya Ani, dan para menteri bahkan sempat berdoa bersama untuk kemenangan tim Indonesia.


Sembari melepas lelah, Presiden Yudhoyono juga melukis, membuat lagu dan puisi di Istana Cipanas. Gedung Bentol menjadi tempat SBY mendapatkan inspirasi untuk lagu-lagunya.

Istana Cipanas juga menjadi tempat SBY menikahkan putra keduanya, Edhie Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal sebagai Ibas. Ibas pun menjadi orang kedua yang menikah di Istana Cipanas. Sebelumnya, Presiden Soekarno pernah menikahi Ibu Hartini pada 7 Juli 1953.

Tak hanya itu, karena saat itu SBY baru memiliki cucu dari putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Anisa Pohan, taman bermain anak pun disiapkan. ”Makanya, Istana Cipanas satu-satunya istana yang punya taman bermain anak,” tambah Bayu.

Presiden berikutnya, Joko Widodo, sempat beberapa kali singgah di Istana Cipanas. Salah satunya seusai meninjau lokasi bencana gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, pertengahan November 2022.

”Setelah meninjau, langsung rapat dadakan, seperti itu biasanya,” kata Bayu lagi.

Selain presiden dan wakil presiden, putra-putri Presiden pun terkadang mengunjungi Istana Cipanas. Guntur Soekarnoputra adalah salah satu anak Bung Karno yang kerap menginap di Istana Cipanas.

Bagi Guntur, Istana Cipanas merupakan tempat paling menyenangkan untuk menginap dan beristirahat. Sebab, banyak kegiatan bisa dilakukan di sana.

”Istirahat paling enak emang Istana Cipanas deh. Soalnya, kan, di sana banyak yang bisa kita kerjain, kita lihat segala macam. Di sana kan ada Rumah Bentol, kalau mau shalat atau mau nulis-nulis artikel di Rumah Bentol itu enak. Terus kalau mau mandi air panas, air belerang, itu ada. Mau masuk ke hutan lindung masih ada," tuturnya, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Hutan lindung saat ini masih mendominasi bagian belakang Istana Cipanas sehingga banyak sumber air di Istana Cipanas. Sebagian besar air mancur yang ada di Istana Cipanas pun tak digerakkan listrik, tetapi beroperasi karena tekanan air yang kuat.

Menggagas ide

Seperti disinggung sebelumnya, agak berbeda dari bangunan lainnya, di kompleks istana ini juga berdiri Gedung Bentol. Jika gedung lainnya bercat putih, tembok gedung ini bercat abu-abu dengan hiasan batu alam seperti bentol-bentol di dindingnya. Gedung yang lebih menyerupai guest house ini menjadi tempat Sukarno menggali inspirasi.

Gedung ini seukuran rumah mungil dengan ruang terbuka di dalamnya, dan dilengkapi satu kamar mandi. Meja kerja diletakkan di depan jendela kaca yang langsung menghadap Gunung Gede-Pangrango.

”Jendela ini langsung menghadap Gunung Gede-Pangrango. Zaman dulu, tidak ada pohon tinggi sehingga dari jendela ini dapat langsung memandang gunung," ucap Bayu.

Di Gedung Bentol itu, pada 1959, Sukarno pernah menerima Presiden Vietnam, Ho Chi Minh. Keduanya bertemu dengan duduk mengelilingi meja bundar.

Karya seni dan legenda Cipanas

Tak hanya bangunan bergaya kolonial beserta interior dan furniturnya, di komplek istana ini juga terdapat museum yang menyimpan berbagai karya seni yang pernah diterima kepala negara. Salah satu yang memukau adalah lukisan-lukisan karya Lee Man Fong, di antaranya lukisan berjudul ”Margasatwa dan Puspita Nusantara”.

Lukisan Margasatwa yang memuat berbagai aneka satwa di Nusantara itu direproduksi dalam bentuk mural di dinding Hotel Indonesia. ”Lukisan ini dibuat menjadi mural di dinding Hotel Indonesia,” ujar Bayu.

Terlepas dari keelokan bangunan dan keasriannya, Istana Cipanas tak lepas dari cerita legenda. Menurut Guntur, ada penunggunya yang bernama Mbah Pincang di Istana Cipanas. Sosok penunggu itu tidak berwujud manusia, tetapi macan berkaki tiga.

”Mbah Pincang itu wujudnya, kalau memperlihatkan diri itu macan, tapi kakinya cuma tiga,” tuturnya.

Mbah Pincang diyakini biasanya berkeliling di kompleks Istana Cipanas. Sekali waktu, menurut Guntur, Bung Karno pernah melihat macan tersebut. Saat itu, Bung Karno melihat sosok penunggu itu dari balik jendela di bagian belakang Gedung Induk.

”Kan, ada jendela tuh. Bapak lagi mau keluar gitu, mau cari udara segar gitu. Eee… ada yang ketok-ketok di kaca gitu kan. Waktu Bapak lihat rupanya Mbah Pincang, macan,” tutur Guntur.

Saat itu, menurut Guntur, Bung Karno hanya tertawa saja. ”Cuma dibilangin aja, 'Nanaonan maneh ka dieu (Kenapa kamu ke sini), gitu,” ucap Guntur menirukan ucapan ayahnya kepada Mbah Pincang.




Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil, Pendidikan dan Karier Reza Arap, YouTuber yang Menjadi Kekasih Lula Lahfah
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Menkes: Cek Kesehatan Gratis adalah Mimpi Presiden Prabowo untuk Menyehatkan Rakyat
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Pin Prioritas LRT Jabodebek Jadi Instrumen Atur Hak Pengguna Rentan di Ruang Publik
• 16 jam lalumediaapakabar.com
thumb
KPK Sita Uang Ratusan Juta Usai Geledah Kantor PMPTSP Madiun
• 8 jam laluokezone.com
thumb
PBB berharap tak terjadi eskalasi militer di Iran
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.