FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Setelah 10 tahun memimpin, Rusdi Masse (RMS) akhirnya benar-benar mundur dari partai Nasdem. Isu kemundurannya sudah beredar luas di platform media sosial sejak awal tahun 2025.
Hingga akhirnya pada Kamis 22 Januari 2026, Bendahara Umum DPP Partai Nasdem Ahmad Sahroni membenarkan bahwa RMS telah resmi mengundurkan diri dari partai.
Posisi yang ditinggalkan RMS kemudian diserahkan kepada Syaharuddin Alrif sebagai ketua DPW Nasdem Sulawesi Selatan (Sulsel) didampingi Andi Rachmatika Dewi atau Cicu yang dipercaya sebagai sekretaris DPW Nasdem Sulsel.
Surat Keputusan (SK) itu diterbitkan satu hari setelah munculnya kepastian Rusdi Masse mundur. SK tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Ketua Umum DPP Partai Nasdem Saan Mustopa di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Sepeninggal RMS, apakah nyata efek RMS di partai Nasdem di Pemilu lalu 2024 ataukah partai Nasdem tetap bisa menjadi partai pemenang tanpa efek RMS?
Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia, Ras MD menyebut dua pertanyaan ini tentu akan menjadi perbincangan yang selalu menarik walaupun pemilu masih tergolong lama. Menurutnya paling tidak ada tiga potensi efek risiko terhadap partai Nasdem Sulsel.
Pertama, kata Ras, gelembung prestasi partai Nasdem Sulsel bisa runtuh.
“Kita harus akui di bawah kepemimpinan RMS, partai Nasdem Sulsel mencatat prestasi luar biasa. Untuk kali pertama, partai Golkar Sulsel di Pemilu 2024 lalu tersingkir dari dominasi partai Nasdem. RMS efek bekerja maksimal terutama di dapil IX yaitu Sidrap, Pinrang dan Enrekang,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Kedua, risiko koordinasi dan mobilisasi politik melemah. Hilangnya figur karismatik seperti RMS, menurut Ras, bisa membuat partai kehilangan mesin politik yang telah berjalan efektif.
“Interaksi antar kader, strategi lokal, serta mobilisasi suara di tingkat desa/kelurahan hingga kabupaten/kota rentan melemah apalagi jika kadernya ikut bermigrasi,” jelasnya.
Ketiga, potensi reorientasi dukungan ke partai dimana RMS berlabuh. Jika RMS memutuskan gabung di partai PSI, tentu simpatisan maupun loyalisnya berpotensi mengubah dukungan.
“Artinya partai Nasdem Sulsel akan mengalami defisit dukungan sebesar efek yang ditinggalkan RMS. Potensi efek resiko partai Nasdem Sulsel akibat hilangnya RMS efek membuat partai Golkar Sulsel bisa bernafas lega. Peluang Golkar merebut kejayaannya kembali terbuka lebar apalagi jika partai golkar sulsel berbenah dalam momentum musda mendatang,” pungkasnya. (*)





