DUA panggung yang terpisah ratusan kilometer menyedot perhatian publik pada 15 Januari 2026 lalu. Pertama berlangsung di Istana Kepresidenan Jakarta. Dan kedua digelar di Balai Senat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Di panggung pertama, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan 1.200 akademisi ---sejumlah media massa melaporkan mereka memiliki atribusi rektor, dekan hingga guru besar. Orang kampus ini berkecimpung di bidang sosial humaniora.
Di panggung kedua, seorang anak bangsa, Zainal Arifin Mochtar, dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang hukum kelembagaan negara Fakultas Hukum UGM.
Dengan itu ia menyandang gelar profesor--atribusi yang menandakan kecemerlangan seorang akademikus dan menggambarkan perjalanan intelektual tokoh yang identik dengan aktivitas dan advokasi antikorupsi itu.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan orang kampus, terlebih dengan 1.200 orang, terbilang kolosal, bersejarah dan menandai relasi penguasa dengan akademisi yang dibalut dalam tajuk dialog.
Sejak menakhodai Republik, 20 Oktober 2024, Prabowo suka mengumpulkan menteri, kepala daerah hingga orang kampus dalam jumlah besar di satu lokasi. Tidak biasanya kepala daerah hasil Pilkada 2024 dilantik secara berbarengan dan serentak di Jakarta.
Para menteri dikumpulkan di Hambalang, lalu Magelang untuk memperoleh materi pembekalan dan tak lupa visi dan misi besar dari presiden.
Baca juga: Guru Besar yang Tidak Besar
Pada kasus menteri, itu dilakukan karena menteri adalah pembantu presiden. Dalam kasus kepala daerah, ini agak mengejutkan sebab mereka berasal dari partai politik berbeda, dan punya agenda serta janji-janji tak sama dengan presiden ketika berlaga di Pilkada.
Hadirnya 1.200 orang kampus di Istana Kepresidenan mungkin bagus untuk menyimak kiblat kebijakan Presiden Prabowo.
Dengan mengenal visi dan misi presiden, akademikus di kampus diharapkan memahami arah kebijakan presiden memimpin negara ini di tengah geopolitik yang terus berubah, khususnya ditandai gebrakan ugal-ugalan Amerika Serikat menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, karena tuduhan kasus narkoterorisme.
Berkat pertemuan di Istana itu, Presiden Prabowo bakal menambahkan dana riset sebesar Rp 4 triliun. Naik 50 persen dari pagu awal. Jadi, kini dana riset untuk perguruan tinggi naik menjadi Rp 12 triliun.
Ini layak disyukuri kendati dana itu cuma 0,51 persen dari APBN. Jangan bandingkan dengan dana riset Korea Selatan yang mencapai 4 persen dari produk domestik bruto (PDB). Indonesia pun bercita-cita dapat mengalokasikan dana riset hingga 1 persen PDB di masa depan.
Dana riset sangat penting untuk kampus. Namun, ada yang lebih penting dari itu, yakni independensi dan keberpihakan orang kampus.
Akademisi kampus adalah bagian yang absah dari golongan cendekiawan. Ini golongan yang berdiri--secara metaforik--di atas menara gading dalam konstruksi Julien Benda (La trahision des clercs).
Golongan ini seyogianya menjaga jarak dengan organisasi politik, termasuk penguasa. Dengan menjaga jarak, kaum cendekiawan akan lebih jernih dalam melihat situasi dan kondisi negara dan bangsanya. Sang cendekiawan bakal obyektif, tidak bias, dan terbelit konflik kepentingan.
Dukungan negara dalam bentuk dana riset itu kewajaran belaka dalam memajukan perguruan tinggi (universitas, institut, sekolah tinggi dan lain-lain).
Dengan itu, perguruan tinggi tak boleh dikatakan sedang "berutang" kepada negara dan membayarnya dalam bentuk "kesetiaan" atau loyalitas kepada mereka yang berkuasa.
Sebab, loyalitas tertinggi kampus adalah kepada negara dan masyarakat. Dan itu tak tergantung kepada siapa yang sedang berkuasa--terlebih kekuasaan eksekutif berganti saban lima tahun.
Dengan elegan Mohammad Hatta mengatakan "dasar bagi berdirinya universitas adalah bahwa ia menjadi jembatan antara pengetahuan dan sari penghidupan. Universitas memberi petunjuk, tapi petunjuk yang disertai dengan ciptaan" (Cendekiawan dan Politik,
LP3ES, 1983).
Baca juga: Demokrasi Rusak, Kegagalan Partai, dan Korupsi Daerah yang Berulang
Riset yang disokong pembiayaan ideal oleh negara bakal membantu perguruan tinggi untuk mencapai ucapan proklamator: Jembatan antara pengetahuan dan sari penghidupan.
Outputnya adalah apa yang disebut oleh Hatta sebagai "ciptaan"--sebuah inovasi, temuan yang bermanfaat untuk masyarakat.





