Baru 3 Bulan Menjabat, PM Jepang Sanae Takaichi Bubarkan Parlemen

viva.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Tokyo, VIVA – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi membubarkan majelis rendah parlemen pada hari Jumat, 24 Januari 2026, membuka jalan bagi pemilihan umum sela pada tanggal 8 Februari, guna mendapatkan mandat publik bagi agenda kebijakan ekonomi dan keamanan pemerintahannya.

Langkah ini merupakan upaya untuk memanfaatkan popularitasnya guna membantu partai yang berkuasa mendapatkan kembali dukungan setelah mengalami kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi akan menunda persetujuan parlemen untuk anggaran yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian yang sedang kesulitan dan mengatasi kenaikan harga yang melonjak.

Baca Juga :
Bursa Asia Kinclong, Investor Pantau Keputusan Bank Sentral Jepang dan Geopolitik
Pentagon Ungkap Rencana Ekspansi China di Taiwan hingga Senkaku: Beijing Diam Tanda Setuju

Terpilih pada bulan Oktober sebagai pemimpin perempuan pertama yang menjabat PM Jepang, Takaichi baru menjabat selama tiga bulan, tetapi ia telah memperoleh dukungan yang kuat sekitar 70%.

Kabinet Takaichi pada Jumat pagi menyetujui pembubaran majelis rendah beranggotakan 465 kursi tersebut, menyusul pembentukan koalisi baru antara Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Partai Inovasi Jepang.

Pembubaran ini merupakan yang pertama dilakukan pada awal masa sidang reguler dalam hampir 60 tahun. Masa jabatan anggota parlemen sejatinya baru akan berakhir pada 2028.

Takaichi menyatakan keputusan itu diambil karena pemerintahannya, yang mulai menjabat pada Oktober 2025, belum memperoleh mandat langsung dari publik, termasuk bagi koalisi baru yang dibentuk pada bulan yang sama.

Pembubaran majelis rendah secara otomatis memulai masa kampanye singkat. Pemerintah dan oposisi diperkirakan akan menyoroti isu penghapusan atau penangguhan pajak konsumsi atas bahan pangan untuk meringankan beban rumah tangga akibat inflasi.

Pemilu ini juga akan diikuti kandidat dari blok oposisi baru, Aliansi Reformasi Sentris, yang dibentuk oleh Partai Demokrat Konstitusional Jepang dan Partai Komeito, mantan mitra koalisi LDP selama 26 tahun.

Isu pendanaan negara diperkirakan menjadi perdebatan utama, seiring usulan penghapusan penuh pajak konsumsi atas makanan oleh oposisi dan wacana penangguhan oleh kubu pemerintah, di tengah tekanan inflasi yang berkelanjutan.

Selain itu, isu politik dan pendanaan partai, menyusul skandal dana gelap yang menimpa LDP dalam beberapa tahun terakhir, serta persoalan terkait warga asing dan pariwisata, juga diperkirakan menjadi bagian dari kampanye.

Baca Juga :
Ketegasan Tiongkok dan Perubahan Tempo Politik di Asia Timur
Mobil SUV Ini Punya Nilai Jual Kembali Terbaik
Puti Guntur Soekarno Sebut Masyarakat Jepang Telah Menjalankan Nilai-Nilai Pancasila

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gap Kredit Perbankan Tetap Tinggi, Prospek Pinjol Diramal Masih Cerah Tahun Ini
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Trump Kerahkan Armada Kapal Perang ke Timur Tengah, Diyakini untuk Awasi Iran
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Alan Cardoso Terancam Tergusur di Persija Jakarta? Begini Jawaban Mauricio Souza
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Tiba di Indonesia Usai Lawatan ke Inggris, Swiss, dan Prancis
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Neo Letto: Biasanya Kalau Pemerintah Dikritik, Marah atau Kirim Buzzer, Padahal...
• 18 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.