Tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor energi dan tambang, menjadi salah satu faktor utama yang membebani IHSG sepekan.
IDXChannel - Tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya di sektor energi dan tambang, menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan.
Sejumlah saham seperti PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT United Tractors Tbk (UNTR), hingga Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tercatat masuk daftar top laggards dan memberi kontribusi negatif signifikan terhadap indeks.
Emiten bank Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi penurunan sekitar 40,27 poin seiring harga sahamnya turun 5,26 persen ke Rp7.650 per unit.
Tekanan besar juga datang dari AMMN yang menggerus IHSG sekitar 25,03 poin usai harga sahamnya merosot 10,28 persen ke Rp7.200 per unit, disusul PTRO sebesar 23,20 poin dan DSSA sekitar 23,00 poin.
Saham PTRO anjlok 28,88 persen ke Rp9.175 per unit sepekan, sedangkan DSSA ambles 5,86 persen ke Rp104.500 per unit.
Saham energi dan batu bara lainnya turut memperdalam koreksi indeks. BUMI menyumbang penurunan 12,98 poin, UNTR sekitar 11,13 poin, serta BRPT sebesar 13,77 poin.
Sementara itu, GOTO dan BREN masing-masing menekan IHSG sekitar 15,79 poin dan 14,81 poin, menandakan tekanan jual juga terjadi pada saham teknologi dan energi terbarukan.
Secara keseluruhan, sepuluh saham top laggards tersebut menyumbang penurunan sekitar 191 poin terhadap IHSG, menjelaskan besarnya tekanan indeks meski pelemahan tidak terjadi secara merata di seluruh saham.
Tekanan Pasar dan Arus Modal Asing
Tekanan di pasar saham domestik kian terasa seiring investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,50 triliun sepanjang pekan.
Dalam periode yang sama, IHSG terkoreksi 1,37 persen ke level 8.951,01, menjauh dari posisi tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di 9.174,47 yang sempat disentuh pada perdagangan intraday 20 Januari 2026.
Koreksi IHSG juga berlangsung di tengah melemahnya nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level krusial Rp16.980-Rp17.000 per dolar AS, atau mendekati rekor terlemah sepanjang sejarah.
Mengutip BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan rupiah ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran geopolitik global, tekanan fiskal, serta derasnya arus keluar modal asing, yang secara keseluruhan menekan sentimen pasar modal domestik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470664/original/001390300_1768214320-persib__1_.jpg)