EtIndonesia. Pada Maret 1940, Qian Weichang—seorang fisikawan dan matematikawan Tiongkok—berangkat ke Kanada, tepatnya ke University of Toronto, untuk melanjutkan studi.
Yang jarang diketahui orang, Qian Weichang pada awalnya bukan mahasiswa sains. Saat berkuliah di Tsinghua University, dia mengambil jurusan sastra Tiongkok. Sejak kecil, impiannya adalah menjadi seorang sastrawan—itulah mimpi terindah dalam hidupnya.
Namun, baru hari kedua dia memasuki bangku universitas, sebelum mimpinya benar-benar dimulai, terjadi peristiwa yang mengguncang Tiongkok dan dunia: Insiden 18 September..
Pada 18 September 1931, Jepang menginvasi tiga provinsi di Tiongkok Timur Laut. Pemerintahan Chiang Kai-shek saat itu menerapkan kebijakan tidak melawan, sehingga wilayah tersebut jatuh ke tangan Jepang. Tanah air yang luas dan subur pun terinjak-injak oleh pasukan penjajah.
Dalam sekejap, kaum muda di seluruh negeri turun ke jalan, melakukan demonstrasi menuntut perlawanan terhadap Jepang.
Ketika mendengar kabar itu, Qian Weichang bangkit dengan penuh emosi dan berseru lantang: “Aku juga ingin membuat senjata dan meriam, untuk melawan penjajah Jepang!”
Dia segera mendatangi pihak universitas dan meminta pindah ke jurusan fisika. Keputusan pindah jurusan inilah yang mengubah seluruh jalan hidup Qian Weichang.
Di Universitas Toronto, Qian Weichang memusatkan penelitiannya pada mekanika elastis. Saat pertama kali bertemu pembimbingnya, Profesor Eric Reissner (dikenal dalam teks sebagai Singer), sang pembimbing mengetahui bahwa Qian tengah meneliti persamaan terpadu pelat tipis dan selubung tipis—sebuah masalah ilmiah besar yang saat itu sangat mendesak untuk dipecahkan di tingkat dunia.
Profesor pembimbingnya sangat mengapresiasi hasil awal penelitian Qian. Dia mengatakan bahwa dirinya meneliti masalah tersebut dari sudut pandang makroskopis, sementara Qian menelitinya dari sisi mikroskopis. Jika kedua pendekatan itu digabungkan menjadi satu makalah, nilainya akan jauh lebih besar dan bermakna.
Mendengar usulan itu, Qian Weichang menyetujuinya dengan penuh antusias. Maka, dibawah bimbingan sang profesor, dia pun terjun lebih dalam ke penelitian rinci di bidang mekanika elastis.
Akhirnya, makalah berjudul “Teori Intrinsik Pelat Tipis dan Selubung Tipis” disusun oleh Qian Weichang sebagai draf awal, kemudian disunting oleh pembimbingnya, dan diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan makalah yang disusun untuk memperingati ulang tahun ke-60 ilmuwan Amerika terkenal Theodore von Kármán.
Dalam kumpulan makalah yang sama, juga dimuat tulisan dari ilmuwan terbesar abad ke-20, Albert Einstein.
Ketika Einstein membaca makalah Qian Weichang, dia langsung berseru dengan penuh kekaguman: “Qian dari Tiongkok—luar biasa! Dia telah memecahkan persoalan yang selama ini mengganggu pikiranku.”
Pada saat itu, Einstein sedang meneliti fisika nuklir. Hasil penelitian Qian Weichang memberinya inspirasi dan rujukan penting, sehingga mempercepat proses dan kemajuan riset Einstein.
Makalah Qian Weichang tersebut merupakan teori intrinsik pelat dan selubung pertama di dunia, memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi. Teori itu kemudian dikenal sebagai “Persamaan Umum Qian Weichang” dan “Persamaan Qian Weichang untuk Selubung Silinder”.
Selama Perang Dunia II, Jerman melancarkan serangan roket mutakhir ke London. Banyak roket jatuh dan meledak di pinggiran kota, situasinya sangat genting. London terancam, Inggris terancam, bahkan seluruh Eropa berada dalam bahaya.
Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill pun meminta bantuan darurat kepada Amerika Serikat.
Setelah mengetahui situasi tersebut, Einstein memanfaatkan hasil penelitian Qian Weichang tentang teori intrinsik pelat dan selubung. Dia mengusulkan kepada Churchill agar dibuat sejumlah titik palsu di pusat kota London yang seolah-olah telah terkena serangan roket. Dengan demikian, Jerman tidak akan mengubah jarak tembak roketnya, sehingga roket-roket berikutnya tetap jatuh di luar pusat kota.
Strategi ini terbukti sangat efektif. Roket-roket Jerman seluruhnya jatuh di pinggiran London, dan keselamatan pusat kota London pun terjaga.
Setelah Perang Dunia II berakhir, Einstein mengenang peristiwa itu dengan penuh perasaan dan berkata: “Penelitian Qian Weichang dari Tiongkok telah sangat membantu saya. Teori dan kontribusinya bahkan dapat dikatakan mengubah jalannya Perang Dunia II. Qian Weichang akan selalu menjadi ilmuwan terbesar yang paling saya hormati.”
Qian Weichang mendedikasikan kecintaannya pada tanah air melalui pengabdian pada ilmu pengetahuan. Dalam hampir satu abad perjalanan hidupnya, apa pun perubahan nasib yang dia alami—bahkan saat dipenjara dan menjalani kerja paksa—api di dalam hatinya tidak pernah padam.
Api itu adalah cinta pada tanah air dan tekad untuk mengabdi kepada bangsa.
Dia menjadi monumen abadi di dalam hatinya— tak pernah berubah, dan tak akan pernah pudar.(jhn/yn)





