”Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata” artinya hanya dengan kerja keras rahmat Tuhan dapat diraih. Sebuah petuah tua yang bukan sekadar rangkaian kata, melainkan napas hidup bagi mereka yang percaya bahwa rahmat Tuhan hanya akan turun melalui titian doa dan kerja keras. Dalam panggung besar Sulawesi Selatan hingga kancah nasional, nama Rusdi Masse Mappasessu—atau yang akrab kita sapa RMS—muncul bukan sekadar sebagai fenomena politik. Ia adalah sebuah benchmark, sebuah narasi baru tentang bagaimana kesuksesan dibentuk di tanah Bugis-Makassar.
Sejarah kita mencatat perubahan zaman melalui para tokohnya. Pasca-kemerdekaan, Sulawesi Selatan mengidolakan ketegasan generasi militer; kita mengenal Jenderal Yusuf hingga Andi Bau Massepe. Lalu muncul era para Saudagar, tokoh-tokoh seperti Hadji Kalla hingga Aksa Mahmud yang membangun ekonomi. Di sisi lain, muncul pula generasi birokrat dan cendekiawan berintegritas seperti Baharuddin Lopa hingga Syahrul Yasin Limpo. Lalu, datanglah RMS—sang generasi baru!
Dari kesunyian ke kemenangan. Kisah RMS tidak dimulai dari karpet merah. Ia berangkat dari kesunyian Rappang, menantang nasib di Makassar, hingga akhirnya berlabuh di kerasnya Tanjung Priok, Jakarta. Ia tidak jatuh dari langit. Kelahiran sosok RMS yang kita kenal sekarang adalah hasil dari malam-malam panjang perenungan di tanah perantauan. Di sela hiruk-pikuk pelabuhan, ia melawan takdir dengan peluh dan kerja keras. Ia percaya bahwa senja tidak selalu indah bagi mereka yang hanya berpegang pada doa tanpa berkorban dan kerja keras. RMS percaya hanya kerja keras dan doa yang khusyuk yang mampu mengetuk pintu restu Ilahi. Reso Temmangingngi! Namun, kerja keras saja tidak cukup.
Dalam falsafah Lontara Bugis-Makassar, dikenal prinsip ”Macca na Malempu, Warani na Magetteng” cerdas dan jujur, berani dan teguh dalam pendirian. Jalan hidup RMS barangkali akan kandas jika hanya bermodal mimpi. Namun RMS juga membekali diri dengan kecerdasan membaca peluang, kejujuran dalam memegang amanah, keberanian mengambil risiko, serta teguh dalam pendirian atau Magetteng . Inilah inti Siri’ yang sebenarnya, Tak mungkin punya pendirian yang teguh tanpa kecerdasan, kejujuran dan keberanian. Pakta integritas manusia Bugis Makassar yang menjadi modal utama RMS dalam hidup, nilai yang kemudian membawanya berlayar dari seorang perantau, menjadi pengusaha, hingga akhirnya berdiri di Senayan sebagai “Sang Juara Politik” dari Sulawesi Selatan.
Apakah perjalanan RMS sudah berhenti? Tentu tidak. Bagi manusia Bugis Makassar, tujuan akhir dari pengembaraan hidup adalah ”Mancaji Tau” menjadi manusia paripurna. Satu-satunya jalan menuju kesempurnaan itu adalah dengan ”Sipakatau” memanusiakan manusia lain: Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge.
Bagi RMS, politik melampaui sekadar absensi di DPR atau hitungan kursi partai. Memanusiakan manusia adalah kasta tertinggi dari nilai keberadaan kita di bumi. Nilai inilah yang membuatnya begitu mengakar di hati rakyat. Dukungan politik yang ia terima bukan datang tiba-tiba; ia lahir dari jejak kebaikan yang diingat. Orang Bugis-Makassar adalah pengingat yang setia atas kebaikan sesama.
Melalui berbagai aksi sosial, bedah rumah, hingga Jumat Berkah, RMS merajut hubungan yang egaliter dengan masyarakatnya. Ia membuktikan bahwa untuk membantu sesama, kita tidak perlu menunggu kaya dan tersohor. Diperkuat lagi sosok persona keseharian RMS yang sederhana, hemat bicara, santun dan ringan tangan membantu sesama. RMS adalah sebuah buku nilai dari masa lalu tana Ugi, juga sebuah pesan untuk masa depan.
Kisah RMS belum menemui titik akhir. Namun, narasi hidupnya penting untuk dikabarkan, terutama bagi anak muda Bugis Makassar yang berani bermimpi besar namun tetap ingin berpijak pada akar tradisi. Kisah RMS adalah pelajaran tentang Reso, Magetteng, dan Sipakatau. Ia adalah wujud nyata dari ”Siri’ na pesse’ temmappasilaing” di mana harga diri dan rasa empati menyatu tanpa sekat.
Salam rantau,
Andi Saiful Haq



