Stok Diklaim Aman, Mengapa Harga Daging Sapi Bergejolak?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?

  1. Berapa harga jual daging sapi di tingkat konsumen?
  2. Faktor apa saja yang membuat harga daging sapi bergejolak belakangan ini?
  3. Bagaimana dampak kenaikan harga daging sapi pada pedagang daging?
  4. Bagaimana respons pemerintah?
  5. Bagaimana ketersediaan daging nasional tahun ini?
Berapa harga jual daging sapi di tingkat konsumen?

Merujuk data Panel Harga Pangan Bapanas, per 23 Januari 2025 pukul 09.45 WIB, harga rerata nasional daging sapi di tingkat konsumen sebesar Rp 135.333 per kg. Harga tersebut berada di bawah harga acuan penjualan di tingkat konsumen yakni Rp 140.000 per kg.

Harga acuan merujuk pada Peraturan Bapanas Nomor 12 Tahun 2024 tentang harga acuan pembelian di tingkat produsen dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen. Harga acuan penjualan daging di tingkat konsumen diatur per bagian potongan. Daging segar di tingkat konsumen untuk paha depan dipatok Rp 130.000 per kg, paha belakang Rp 140.000 per kg, dan paha depan beku Rp 105.000 per kg.

Adapun berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), per 23 Januari 2025 pukul 09.45, harga rerata nasional daging sapi kualitas 1 dan 2 di pasar tradisional masing-masing Rp 142.500 per kg dan Rp 140.000 per kg. Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan tiga hari sebelumnya, yakni harga daging sapi kualitas 1 sebesar Rp 142.250 per kg dan kualitas 2 Rp 134.600 per kg.

Di Jakarta, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Hasudungan Sidabalok, Kamis (22/1/2026), mengatakan, harga daging sapi tingkat eceran naik 0,17 persen (Rp 240 per kg) menjadi Rp 138.227 per kg. Harga ini tetap masih di bawah harga pokok penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah senilai Rp 140.000 per kg.

Faktor apa saja yang membuat harga daging sapi bergejolak belakangan ini?

Gejolak harga daging sapi di tingkat eceran di Jakarta disebut bukan karena kelangkaan daging sapi. Akan tetapi disinyalir karena mengatakan kenaikan harga sapi impor.

Hasudungan Sidabalok mengungkapkan, pada November 2025 harga sapi dari Australia mencapai Rp 53.000 per kg berat hidup. Sebulan kemudian, Desember 2025, harganya naik ke Rp 61.000 per kg karena kelangkaan sapi dari Australia dan perubahan nilai tukar rupiah.

Sementara di Lampung, harga daging sapi disanyalir dipicu oleh berkurangnya stok sapi di kandang peternak akibat merosotnya jumlah peternak lokal. Sarjono (49), peternak sapi asal Desa Astomulyo, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, mengatakan, saat ini, harga jual daging sapi lokal di tingkat peternak Rp 51.000-Rp 53.000 per kilogram hidup. Harga itu naik dibandingkan dengan tahun lalu yang berkisar Rp 43.000-Rp 44.000 per kg.

Menurut Sarjono, saat ini, stok sapi hidup di tingkat peternak memang jauh lebih sedikit. Di Desa Astomulyo, misalnya, jumlah sapi yang dipelihara berkurang drastis karena banyak peternak yang menutup usaha. Sebelumnya, ada sekitar 85 peternak di Desa Astomulyo dengan total sapi yang dipelihara mencapai 15.000 ekor. Kini, hanya ada 25 peternak yang bertahan. Jumlah sapi yang tersisa hanya sekitar 700 ekor.

Bisnis peternakan sapi di sentra-sentra Lampung berkurang karena para peternak menjual sapi-sapi di kandang ketika di sejumlah tempat merebak penyakit mulut dan kuku (PMK). Di samping itu, banyak peternak lokal yang bergantung pada modal usaha kredit perbankan. Kondisi itu membuat sejumlah peternak memilih menutup kredit dengan cara menjual sapi.

Sementara itu, Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, Jumat (23/1), mengaku mendapat informasi ada yang menjual sapi hidup dan daging sapi tidak sesuai harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah tidak akan membiarkan praktik spekulasi dan gangguan distribusi yang merugikan masyarakat.

Baca JugaStok Sapi di Kandang Peternak Lampung Merosot, Harga Daging Naik
Bagaimana dampak kenaikan harga daging sapi pada pedagang daging?

Meskipun harga daging di tingkat eceran masih lebih rendah dari harga penjualan acuan, para pedagang daging tetap merasa rugi. Hal itu dikarenakan harga daging yang pedagang beli di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) terus naik.

Muchtar (60), pedagang daging sapi di Pasar Palmerah, Jakarta, misalnya, mengungkapkan, satu bulan terakhir ini, harga daging sapi potong dari rumah pemotongan hewan (RPH) naik dari Rp 85.000-Rp 90.000 per kilogram (kg) menjadi Rp 110.000 per kg. Sementara harga jual daging sapi di tingkat eceran sekitar Rp 130.000 per kg. Situasi ini membuat keuntungan bersih yang diterima pedagang sangat tipis. Bahkan, sebagian pedagang mengaku tekor.

Ribanto, pedagang daging sapi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, mengatakan hal sama. Harga dari pemasok terus naik sejak Desember 2025. Jelang Natal 2025, ia membeli daging sapi Rp 115. 000 per kilogram dari pemasaok. Sekarang naik jadi Rp 130.000 per kilogram atau sama dengan harga eceran di tingkat konsumen. Pedagang tidak mungkin menjual harga daging sapi lebih tinggi ke konsumen karena daya beli masyarakat sedang lemah.

Seiring kenaikan harga daging sapi, Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) Jakarta dalam surat edarannya pada 19 Januari 2026 menyampaikan rencana aksi mogok pada 22-24 Januari 2026. Surat ditandatangani oleh Ketua Dewan Pengurus Daerah APDI Jakarta Wahyu Purnama.

Dalam surat selebaran yang diterima pada Rabu (21/1/2026) malam, Ketua DPD APDI Jakarta Wahyu Purnama, menyebutkan, pemogokan dilakukan sebagai salah satu bentuk protes dan keprihatinan terhadap terus naiknya harga daging sapi di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

APDI Jakarta berharap Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga demi hajat hidup orang banyak dan keberlangsungan UMKM di hilir.

 

Baca JugaPedagang Daging Sapi Mogok, Stok Diklaim Normal
Bagaimana respons pemerintah?

Menyusul pemogokan pedagang daging sapi, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengambil kebijakan menurunkan harga acuan pembelian sapi hidup di tingkat pelaku usaha penggemukan sapi (feedloter) dari Rp 56.000-Rp 58.000 per kg menjadi Rp 55.000 per kg. Hal itu dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga daging sapi menjelang Ramadhan-Lebaran 2026.

Kebijakan itu disepakati dalam rapat koordinasi di Kementerian Pertanian yang digelar di Jakarta pada 22 Januari 2026. Rapat yang dipimpin Menteri Pertanian dan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman itu melibatkan Satuan Tugas Pangan Polri; asosiasi pedagang, pemotong, dan feedloter; dan importir daging sapi/kerbau beku.

Akan tetapi, kebijakan ini hanya sementara waktu yakni mulai berlaku 22 Januari 2026 hingga menjelang Lebaran 2026. Tahun ini lebaran diperkirakan jatuh pada 21-22 Maret 2026.

Di Jakarta, Pemprov melalui Perumda Dharma Jaya telah menyediakan 500 sapi dengan harga Rp 54.000 per kg berat hidup untuk menstabilkan harga daging. Sejauh ini sudah terjual 350 sapi.

Langkah lainnya dengan menyediakan daging sapi pada kegiatan pangan bersubsidi bagi lebih kurang 1 juta masyarakat tertentu dengan harga Rp 35.000 per kg. Kemudian, ada gerakan pasar murah oleh badan usaha milik daerah (BUMD) dengan harga Rp 128.000 per kg (paha depan), Rp 139.000 kg (paha belakang), Rp 109.000 per kg (daging sop), dan Rp 125.000 kg.

Baca JugaRespons Pemogokan Pedagang Daging, Harga Sapi Hidup Diturunkan Sementara 
Bagaimana ketersediaan daging nasional tahun ini?

Bapanas menyatakan ketersediaan daging sapi/kerbau untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional, yakni sekitar 794.300 ton pada tahun ini, masih cukup. Selain itu, pemerintah juga telah mengalokasikan kuota impor sapi bakalan hidup dan daging sapi beku pada 2026.

Merujuk Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, Bapanas menyebutkan, stok daging sapi/kerbau pada awal 2026 sebanyak  41.700 ton. Stok tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat hingga Ramadhan-Lebaran tahun ini.

Ketersediaan daging sapi/kerbau secara nasional sepanjang 2026 ini diperkirakan mencapai 949.700 ton. Hal itu mengingat masih ada tambahan potensi produksi daging sapi dalam negeri sekitar 421.200 ton, pasokan daging dari pemotongan sapi bakalan 189.700 ton, dan impor daging sapi/kerbau beku pada 2026.

”Ketersediaan daging sapi/kerbau yang mencapai 949.700 ton itu lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan komsumsi daging sapi/kerbau secara nasional yang sekitar 794.300 ton sepanjang tahun ini,” kata Amran.

Pemerintah juga masih memiliki cadangan daging sapi/kerbau beku yang dikelola Perum Bulog dan ID Food. Per 22 Januari 2025, Perum Bulog memiliki stok daging sapi/kerbau beku masing-masing sekitar 18 ton dan 11.000 ton.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sempat Sentuh ATH, IHSG Pekan Ini Melemah 1,37 Persen ke 8.951
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Tito Karnavian Apresiasi Progres Pemulihan Pascabencana di Tapteng
• 6 jam lalukompas.com
thumb
WNI Disebut Jadi ”Scammer” di Kamboja, Ahli: Bukti Harus Valid agar Tidak Salah Tangkap
• 47 menit lalukompas.id
thumb
Beasiswa S2 Double Degree Kemenag Dibuka, Cek Syarat-Jadwal Seleksinya
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Banjir Bandang di Purbalingga Bawa Kayu Gelondongan
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.