Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank swasta buka suara mengenai fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat masih cukup besar pada Desember 2025, yakni mencapai Rp2.439,2 triliun atau 22,12% dari plafon kredit yang tersedia.
Menanggapi kondisi ini, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan bahwa pertumbuhan kredit pada prinsipnya akan sejalan dengan kondisi perekonomian.
“Pada prinsipnya, pertumbuhan kredit akan sejalan dengan kondisi perekonomian,” kata Hera kepada Bisnis, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Hera mengungkapkan, tren pertumbuhan kredit BCA hingga saat ini masih terjaga. Tercatat per November 2025, kredit BCA secara bank only tumbuh sehat mencapai Rp921 triliun.
“Pada saat yang bersamaan, BCA juga mengelola dengan baik pembiayaan yang belum ditarik (undisbursed loan) secara pruden,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) Eri Budiono mengatakan bahwa perseroan tengah mencoba mendorong pertumbuhan kredit melalui produk dan mitra-mitra baru. Saat ini, BNC masih berfokus pada segmen retail.
Baca Juga
- BCA & Allo Bank Ungkap Alasan Penurunan Bunga Kredit Masih Tertinggal dari BI Rate
- Data BI: Kredit UMKM Mulai Menggeliat, Prospek Ekonomi 2026 Bakal Cerah?
- Porsi Kredit Nganggur Masih Besar, OJK ungkap Pemicunya
“Kita berharap pertumbuhan kredit meningkat di semester kedua 2026 dengan produk dan mitra baru tersebut,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Kredit Nganggur Diprediksi TurunDi sisi lain, undisbursed loan diperkirakan cenderung bergerak turun perlahan pada kuartal I/2026. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengatakan, aktivitas usaha pada awal 2026 diperkirakan meningkat, terutama terkait musim panen, kebutuhan logistik, serta dorongan musiman jelang Ramadan dan Idulfitri, yang biasanya membuat perusahaan menarik modal kerja lebih cepat.
“Untuk kuartal I/2026, kecenderungannya lebih mengarah ke turun perlahan namun tetap tinggi, bukan jatuh tajam,” ungkap Josua kepada Bisnis, dikutip pada Sabtu (24/1/2026).
Dari sisi kebijakan, Josua menuturkan bahwa Bank Indonesia (BI) tetap memasang bauran yang pro pertumbuhan lewat insentif likuiditas makroprudensial dan target pertumbuhan kredit 2026 yang lebih tinggi, sehingga dorongan pencairan kredit tetap ada.
Namun, Josua melihat adanya penahan yang membuat levelnya berpotensi bertahan tinggi, yaitu ketidakpastian pasar dan kehati-hatian dunia usaha dalam memulai proyek baru, serta bank yang cenderung lebih selektif pada segmen berisiko lebih tinggi.
“Bila pencairan modal kerja musiman lebih cepat daripada pembentukan plafon baru, rasio diperkirakan cenderung turun; tetapi bila bank banyak menyetujui plafon untuk proyek besar yang pencairannya bertahap, rasio bisa sempat naik walau kredit tetap tumbuh,” tuturnya.




