Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia sebagai negara dengan sumber daya nikel terbesar dunia memiliki tantangan utama dan terbesar dalam mengembangkan industri nikel, yaitu teknologi.
Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Bernadus Irmanto mengatakan mayoritas investasi sektor nikel di Indonesia adalah teknologi, yang notabene kemampuan itu dimiliki oleh China.
Mengutip buku berjudul Mining is Dead, Long Life Geopolitics, Irmanto menjelaskan terdapat satu frasa yang relevan dengan kondisi di Indonesia, yakni 'if you have ore you have resources, if you have technology you have power'.
"Karena selama kita tidak memiliki teknologi dalam tanda kutip power yang diharapkan dari resources yang besar itu tidak akan pernah kita miliki," ujarnya dalam forum Indonesia Weekend Miner by Indonesia Mining Summit di Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Dalam konteks PT Vale sendiri, Irmanto mengatakan sumber daya yang dimiliki perseroan menjadi bergaining position yang sangat besar bagi Vale untuk berkontribusi dalam program hilirisasi nikel, termasuk akses menuju teknologinya.
Irmanto mengungkap, dalam forum London Metal Exchange yang dia ikuti, mayoritas pelaku pasar di Eropa sampai Amerika Utara sebenarnya menginginkan pasokan hasil hilirisasi nikel Indonesia, namun produk yang murni diproduksi oleh entitas bisnis Indonesia.
Baca Juga
- Indeks Bisnis-27 Ditutup Menguat Terdorong Saham ADMR, MYOR, INCO & BUMI
- Imagining UNTR Without Agincourt (Martabe) Gold Mine
- United Tractors (UNTR) Tanggapi Kabar Pencabutan Izin Agincourt Resources
"Bapak bisa tidak supply nikel tapi dengan less Chinese component? Sementara realitanya, ini sebagian besar, kalau tidak semuanya, itu pasti ada Chinese component kan," ujarnya.
Irmanto menilai sebuah entitas bisnis Indonesia secara penuh mengontrol operasi pabrik hilirisasi nikel juga memiliki risiko, yakni seberapa jauh kapabilitas perusahaan dalam negeri menguasai teknologinya.
Menurutnya, faktor tersebut harus menjadi pertimbangan utama apabila perusahaan akan melakukan joint venture maupun menandatangani perjanjian kerja sama investasi. Sedangkan bagi Vale Indonesia sendiri, Irmanto menegaskan pihaknya selalu mencari peluang bagaimana bisa me-leverage sumber daya yang dimiliki perseroan untuk bisa memiliki akses kepada teknologi.
"Paling tidak saya mempunyai target dalam 2-3 tahun ke depan, paling tidak, bisa tidak katakan lah bisa mengontrol operasi itu. Paling tidak mengontrol dan me-maintenance. Kemudian kita mensyaratkan ada research dan development yang ada di situ, terkait dengan teknologi itu. Jadi kita mempunyai akses," tegasnya.
Adapun, saat ini Vale Indonesia memiliki proyek kerja sama dengan Ford dan Huayou dalam pembangunan smelter high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa Sulawesi Tenggara.
Proyek dengan nilai investasi US$4,5 miliar tersebut dapat menghasilkan produk mixed hydroxide precipitate (MHP) dengan kapasitas 120 ktpa. Di satu sisi, tambang di Pomalaa ditargetkan mampu memproduksi 7 juta ton bijih nikel saprolite (kadar tinggi) dan 21 juta ton limonite (kadar rendah). Ditargetkan proyek ini pada Agustus 2026 sudah bisa melakukan mechanical completion.
Vale Indonesia juga sedang menggarap proyek tambang dan smelter HPAL Morowali di Bahodopi. Proyek dengan nilai investasi US$2 miliar ini dikerjakan bersama perusahaan China GEM dan perusahaan Korea Selatan Ecopro. Targetnya proyek ini akan bisa melalukan mechanical completion pada kuartal IV 2026.
Ketiga, Vale Indonesia juga sedang menggarap proyek smelter HPAL Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan. Proyek dengan nilai investasi US$2,2 miliar ini dikerjakan bersama Huayou dan ditargetkan beroperasi pada 2027.





