Jakarta: Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy, menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam pola makan sehat. Sebab, masalah gizi bukan semata soal ketersediaan makanan, tetapi juga kebiasaan.
"Pedoman gizi seimbang jelas. Tapi edukasi gizi tidak mudah. Kita punya pepaya, mangga, alpukat di pasar, tapi konsumsi buah dan sayur kita sejak 2007 itu rendah, cuma sekitar 5 persen,” kata Doddy, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 24 Januari 2026.
Ia mencontohkan, meski banyak masyarakat bisa menanam pepaya atau singkong, tetap saja tidak semua mau mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Bahkan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih ditemukan buah dan sayur yang terbuang karena tidak dimakan.
"Padahal buah dan sayur itu sumber vitamin dan mineral. Kita harus biasakan lihat konsep Isi Piringku, berapa persen karbohidrat, berapa persen protein, vitamin, dan mineralnya. Ini soal perubahan perilaku," ungkap Doddy.
Baca Juga :
Kalender Musim Buah 2026: Jadwal dan Tips Memilih Buah SegarDi sisi lain, ia menekankan Indonesia telah mencatat kemajuan besar dalam menurunkan angka stunting selama satu dekade terakhir. "Dari 30,8 persen tahun 2018, sekarang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia sudah turun menjadi 19,8 persen," sebut Doddy.
Ilustrasi sayur dan buah. Foto: bettaveg.co.uk.
Namun, ia mengingatkan tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan capaian tersebut. Melainkan menurunkannya lebih jauh sesuai target nasional.
"Target kita 2029 itu 14,2 persen, dan menuju 2045 kita ingin di angka 5 persen. Bagaimana inovasinya? Di sinilah peran PERSAGI dan tenaga gizi untuk melakukan edukasi yang terus-menerus," ujar Doddy.


