Banyak warga Indonesia mengalami tekanan darah tinggi. Hal itu ditunjukkan dari hasil pemeriksaan cek kesehatan gratis yang setidaknya sudah dilakukan pada 70 juta orang. Kasus tekanan darah tinggi juga banyak ditemukan pada usia remaja.
Berdasarkan hasil cek kesehatan gratis (CKG), Kementerian Kesehatan memaparkan satu dari lima remaja peserta CKG atau sekitar 3,6 juta remaja terdeteksi mengalami tekanan darah di atas normal.
Selain itu, kasus tekanan darah tinggi atau hipertensi banyak pula ditemukan pada kelompok dewasa usia 18-59 tahun. Terdapat tujuh juta orang dewasa dengan hasil pemerikaan tekanan darah atau tensi yang tinggi.
Persentase yang lebih besar ditemukan pada usia lanjut. Dari 5,5 juta lansia yang diperiksa tekanan darahnya, sebanyak 51,7 persen di antaranya atau lebih dari separuhnya mengalami tekanan darah tinggi. Tekanan darah normal seharusnya di bawah 120 per 80 milimeter air raksa (mmHg).
Dalam konferensi pers ”Capaian dan Evaluasi Program CKG 2025 dan Rencana CKG 2026” di Jakarta, pada Jumat (23/1/2026), Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Endang Sumiwi menyampaikan, angka hipertensi yang tinggi di semua kelompok usia dari warga Indonesia mesti diwaspadai.
Tingginya angka hipertensi pada usia muda juga membutuhkan perhatian khusus. Jika hipertensi sudah terjadi sejak usia muda, risiko kesehatan yang lebih berat menjadi lebih tinggi di kemudian hari.
”Hipertensi ini disebut sebagai silent killer (pembunuh dalam sunyi) karena nanti bisa menyebabkan (penyakit) jantung, bisa menyebabkan stroke. Karena itu, (hipertensi) ini butuh penanganan segera untuk segera mendapatkan obat,” katanya.
Hipertensi ini disebut sebagai silent killer karena nanti bisa menyebabkan (penyakit) jantung, bisa menyebabkan stroke.
Besarnya beban tekanan darah tinggi pada populasi penduduk Indonesia konsisten sejak lebih dari satu dekade lalu. Angkanya justru semakin tinggi. Pada 2013, prevalensi hipertensi dari hasil pengukuran darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 25,8 persen.
Angka itu meningkat signifikan menjadi 34,1 persen pada 2018 dan cenderung stagnan pada 2023 sebesar 30,8 persen. Dari jumlah itu dapat diartikan setidaknya satu dari tiga orang Indonesia memiliki tekanan darah tinggi.
Angka tekanan darah tinggi yang besar ini patut menjadi perhatian. Sebab, mengutip data dari IHME Global Burden of Disease, hipertensi menjadi faktor risiko kematian terbanyak di Indonesia pada 2017. Sebanyak 23,7 persen dari 1,7 juta kematian terjadi akibat hipertensi.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena faktor risiko kesehatan lain juga tinggi ditemukan pada penduduk Indonesia. Itu mulai dari kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, serta tinggi konsumsi gula, garam, dan lemak.
Hipertensi disebut sebagai pembunuh senyap atau silent killer karena biasanya tidak menunjukkan gejala. Orang dengan hipertensi yang tidak terdeteksi baru akan merasakan tanda bahaya saat sudah terjadi komplikasi, seperti stroke, gangguan ginjal, maupun penyakit jantung.
Karena itu, pemeriksaan untuk deteksi dini menjadi sangat penting. Hal tersebut pula yang diharapkan dari adanya program cek kesehatan gratis. Pemeriksaan akan membantu masyarakat mendeteksi penyakit sejak dini, termasuk mendeteksi hipertensi.
Persoalannya, pencegahan komplikasi akan tercapai jika hipertensi bisa terkendali. Hipertensi tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol dengan mengubah gaya hidup serta minum obat.
Dari evaluasi program CKG, Kementerian Kesehatan melaporkan tata laksana hasil temuan hipertensi di masyarakat belum berjalan optimal. Dari kasus hipertensi yang ditemukan, masih ada 34 persen yang tidak datang ke fasilitas kesehatan untuk menindaklanjuti penyakitnya. Selain itu, dari 30 persen kasus yang mendapat tindak lanjut juga dilaporkan tidak rutin kontrol dan minum obat.
Endang menyebutkan, orang yang sudah terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi harus segera mendapatkan obat. Setelah mendapatkan obat, pemantauan dilakukan setidaknya selama tiga bulan selanjutnya.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, pemerintah berencana mengubah pendekatan tata laksana Cek Kesehatan Gratis mulai tahun 2026.
”Jadi sekarang yang terdeteksi hipertensi akan langsung dikasih obat. Pengobatannya pun akan diberikan secara gratis selama 15 hari setelah terdeteksi. Selanjutnya bisa dilanjutkan dengan (biaya) BPJS (Kesehatan),” tuturnya.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Siloam, Vito A Damay, saat dihubungi pada Sabtu (24/1/2026), mengatakan, hipertensi pada dasarnya memang bukan penyakit usia tua. Hipertensi bisa terjadi tanpa penyebab yang dipengaruhi oleh faktor genetik ataupun penuaan. Namun, ada pula hipertensi yang terjadi karena kelainan bawaan dan bisa terjadi sejak usia muda.
Meski begitu, ia menyebutkan, sebagian besar kasus hipertensi dipengaruhi oleh pola hidup. Itu meliputi, antara lain, asupan garam berlebihan, terutama dari konsumsi makanan olahan dan siap saji, kurang aktivitas fisik, obesitas dan diabetes sejak usia muda, serta stres kronik dan kurang tidur.
”Peran gaya hidup modern sangat besar jadi penyebab hipertensi. Studi populasi menunjukkan lebih dari 60-70 persen kasus hipertensi berkaitan dengan pola hidup. Jadi tidak tiba-tiba muncul, tetapi karena pola hidup tidak sehat,” tuturnya.
Pada usia muda, hipertensi sering tanpa keluhan. Biasanya hanya ditunjukkan dengan kondisi yang tidak khas, seperti cepat merasa lelah. Sementara pada dewasa dan lansia, keluhan yang terjadi seperti bengkak kaki pada sore hari, mudah sesak saat aktivitas ringan, serta sering pusing dan pandangan kabur.
Kewaspadaan terhadap hipertensi ini perlu ditingkatkan jika memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, mengalami obesitas, dan jarang berolahraga. Hipertensi tidak bisa hanya dilihat dari keluhan yang muncul. Itu sebabnya, cek kesehatan rutin menjadi sangat penting.
Jika ditemukan mengalami hipertensi, pasien harus dipastikan mendapatkan pengobatan rutin sampai kondisi hipertensi terkendali.
Namun, upaya paling baik adalah mencegah jangan sampai mengalami hipertensi. Kebiasaan hidup sehat mesti diterapkan sejak usia anak, mulai dari rutin beraktivitas fisik, tidur cukup, serta menjaga pola makan dengan membatasi gula, garam, dan lemak.





