Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Desa-desa terpencil di Aceh yang sempat terisolasi akibat banjir dan longsor kini mulai bangkit. Jalur-jalur yang sebelumnya tidak dapat dilalui perlahan kembali tersambung.
Di sejumlah titik, jembatan penghubung telah berdiri, jalan mulai dibuka, dan aktivitas warga kembali bergerak, meski sebagian akses masih dalam tahap pengerasan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda turut terlibat dalam upaya pemulihan dengan bergotong royong bersama berbagai pihak. TNI, Dinas Pekerjaan Umum (PU), Polri, PLN, serta unsur terkait lainnya bekerja tanpa henti membuka kembali jalur-jalur yang sempat terputus akibat bencana.
Wilayah yang sebelumnya hanya menyisakan puing dan material longsoran kini perlahan berubah. Pemulihan ini menjadi bukti upaya pascabencana tidak hanya berfokus pada wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau desa-desa terpencil yang selama ini rentan terisolasi saat bencana melanda.
Di Kabupaten Aceh Timur, salah satu pembangunan yang menonjol adalah jembatan Armco di Desa Alue Gadeng Dua, Kecamatan Birem Bayeun.
Jembatan yang dibangun oleh prajurit TNI ini telah rampung dan menjadi penghubung vital antara Desa Alue Sentang dan Desa Alue Gadeng Dua, sekaligus membuka akses menuju jalur lintas Medan–Banda Aceh.
Pembangunan serupa juga dilakukan di Desa Alue Sentang I dan Desa Alue Sentang II, Kecamatan Birem Bayeun. Jembatan-jembatan tersebut berfungsi menghubungkan antardesa dan antardusun, serta memperkuat akses masyarakat menuju jalur utama.
Di wilayah lain Aceh Timur, jembatan dibangun di Desa Buket Kuta, Kecamatan Peudawa, yang menghubungkan Dusun Leupon dengan Simpang Damar, Desa Lhok Lemak, Kecamatan Darul Ihsan.
Infrastruktur ini menjadi urat nadi penting bagi mobilitas warga, termasuk untuk kegiatan ekonomi dan akses layanan dasar.
Pemulihan konektivitas juga berlangsung di Kabupaten Bener Meriah. Di Kecamatan Permata, ruas jalan KKA yang menghubungkan Aceh Utara dan Bener Meriah diperkuat melalui pembangunan jalur penghubung di Desa Burni Pase 3, Burni Pase 4 KM 61, serta Desa Pasar Buntul KM 45.
Sementara di Kecamatan Bandar, jalur penghubung dibangun dari Desa Bahgie Bertona menuju Desa Pondok Baru.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, pembangunan akses dilakukan di Desa Terban, Kecamatan Karang Baru, untuk menghubungkan Desa Tupah dengan Desa Terban menuju jalan nasional Medan–Banda Aceh. Selain itu, akses antardusun di Dusun Mawar, Desa Suka Mulia, Kecamatan Rantau, turut diperkuat.
Pembangunan jalur penghubung juga menyasar Desa Blangkandis, Kecamatan Bandar Pusaka, yang menghubungkan Dusun Bukit Karim dengan Dusun Sepakat di Desa Batang Ara. Jalur ini menjadi akses vital bagi warga pedalaman.
Sejumlah titik lain di Aceh Timur turut menjadi bagian dari pemulihan, di antaranya Desa Blang Gleum yang terhubung dengan Desa Proyek Sosial, Desa Buket Makmur yang terhubung dengan Desa Paya Pas, serta jalur antara Desa Lhok Seuntang dan Desa Kampung Baru di Kecamatan Julok.
Di Kecamatan Indra Makmur dan Nurussalam, pembangunan akses antardesa juga terus dilakukan.
Sementara itu, di Kabupaten Bireuen, jalur penghubung dibangun di Desa Batee Raya, Kecamatan Juli; Desa Juli Tambo Tanjong menuju Desa Paloh Panyang, Kecamatan Jeumpa; serta Desa Salah Sirong Jaya yang menghubungkan sejumlah desa di sekitarnya.
Di Kabupaten Aceh Utara, pembangunan akses tercatat di Desa Alue Capli, Kecamatan Seunuddon, Desa Matang Puntong, serta Desa Mesjid Meuraksa, Kecamatan Blang Mangat.
Meski sebagian akses masih dalam tahap pengerasan, masyarakat mulai merasakan dampaknya. Jalur transportasi kembali terbuka, mobilitas membaik, dan roda kehidupan perlahan kembali berputar.
Pemulihan konektivitas ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kebangkitan ekonomi dan sosial masyarakat Aceh pascabencana.
Editor: Redaksi TVRINews





