Jakarta: Bencana tanah longsor menimpa Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, sekitar pukul 04.00 WIB.
Hujan deras yang turun sejak malam sebelumnya disertai angin kencang memicu longsor susulan, memaksa warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat merelokasi puluhan warga ke kantor desa untuk menghindari dampak longsor lanjutan.
Desa Pasirlangu terletak di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, desa ini memiliki luas wilayah sekitar 702,15 m². Jumlah penduduk Desa Pasirlangu tercatat sekitar 7.040 jiwa, terdiri dari 3.541 laki-laki dan 3.499 perempuan.
Desa ini mulai dikenal berkat objek Wisata Alam Hutan Pinus dan Situ Kabuyutan, sebuah destinasi wisata berbasis alam yang terletak di kawasan hutan pinus dan danau kecil alami.
Berikut adalah profil lebih lanjut terkait dengan potensi desa yang kini tengah menghadapi bencana alam.
Sejarah Desa Pasirlangu Desa Pasirlangu memiliki sejarah pembentukan yang dimulai pada awal 1980-an. Desa ini merupakan hasil pemekaran dari Desa Depok yang sebelumnya memiliki wilayah sangat luas. Sekitar tahun 1983, Pasirlangu resmi berdiri sebagai desa tersendiri, dengan kepala desa pertama dijabat oleh Bapak U. Suryana (alm.).
Nama Pasirlangu berasal dari kata “langeu” dalam bahasa setempat yang berarti “melihat untuk mengawasi musuh”.
Pada masa perjuangan, warga setempat kerap berjaga (ngalangeu) di wilayah bukit untuk memantau pergerakan penjajah.
Setelah masa penjajahan berakhir, istilah “ngalangeu” berubah menjadi “Pasirlangu”, melambangkan kewaspadaan dan harapan menuju masa depan yang lebih baik.
Pada awalnya Pasirlangu merupakan bagian barat daya Desa Depok. Karena perkembangan jumlah penduduk dan kebutuhan administrasi, wilayah tersebut kemudian dimekarkan.
Selain Pasirlangu, juga terbentuk Desa Sukapura di bagian timur, yang kemudian dimekarkan lagi menjadi Desa Neglasari dan Desa Sukamulya pada tahun 1982. Sejak saat itu, Desa Pasirlangu berkembang secara mandiri.
Wisata Desa Pasirlangu
Situ Kabuyutan. (Facebook/@Wisata di Garut)
Desa Pasirlangu mulai dikenal luas sebagai destinasi wisata berkat keberadaan Wisata Alam Hutan Pinus dan Situ Kabuyutan. Sejak tahun 2020, pemerintah desa mengembangkan kawasan hutan pinus (Wardoy) sebagai destinasi wisata berbasis alam di ketinggian sekitar 900 mdpl.
Tempat ini menawarkan panorama pegunungan dengan pemandangan langsung ke Samudra Hindia, udara sejuk, dan suasana hutan yang asri.
Di kawasan tersebut juga terdapat Situ Kabuyutan, sebuah danau alami kecil yang menambah pesona lanskap. Wisatawan dapat menikmati keindahan alam, berjalan menyusuri jalur hutan pinus, serta menyaksikan langsung aktivitas warga seperti bercocok tanam di lereng bukit dan penyadapan getah pinus.
Wisata Hutan Pinus. (Dok. Desa Pasirlangu)
Kuliner tradisional yang disajikan oleh warga turut melengkapi pengalaman berwisata budaya di desa ini.
Objek wisata ini telah terdaftar dalam jaringan Wisata Desa Nusantara dan terus dipromosikan untuk meningkatkan kunjungan. Pengembangan sektor pariwisata ini diharapkan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Pasirlangu.
Baca Juga:
23 Warga Selamat dari Longsor di Cisarua Bandung Barat Direlokasi ke Kantor Desa Bencana Menimpa Desa Pasirlangu
Longsor di Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
Nahasnya, desa yang penuh potensi ini kita tertimpa bencana tanah longsor. Salah seorang korban selamat, Yaya (45), menceritakan detik-detik peristiwa saat ia dan keluarganya terbangun oleh suara gemuruh.
"Sekitar jam 4-an dengar suara gemuruh, kenceng pisan. Terus yang di sebelah rumah teriak-teriak, longsor, longsor," ujar Yaya saat ditemui di kantor Desa Pasirlangu, Sabtu, 24 Januari 2026
Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, menyatakan bahwa pemerintah segera merelokasi korban selamat ke kantor desa.
"Untuk sementara warga yang diungsikan saya arahkan ke pihak kecamatan, agar segera direlokasi dulu ke Desa Pasirlangu," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menjelaskan bahwa longsor terjadi di wilayah kaki Gunung Burangrang yang dikenal rawan pergerakan tanah.
"Sesuai data sementara hingga saat ini, jumlah jiwa yang belum ditemukan atau belum terlacak keberadaannya sekitar 111 jiwa dari 34 Kepala Keluarga (KK). Sedangkan yang ditemukan selamat sebanyak 23 orang, dan sisanya masih dalam pencarian," ungkapnya.
Hingga Minggu, 24 Januari 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat tujuh orang ditemukan meninggal dunia akibat bencana ini. Kepala desa juga mengimbau agar pemerintah segera memberikan bantuan anggaran dan logistik kebencanaan untuk menangani dampak darurat.




