Penguatan pasar saham nasional belakangan ini memperlihatkan arah yang tidak seragam. Saat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melonjak drastis, indeks Q45 dan IDX30 justru kesulitan mengikuti laju yang sama.
Pergeseran indeks harga saham gabungan atau IHSG beberapa waktu belakangan menarik untuk dicermati. Beberapa hari sejak berhasil menembus angka 9.000 pada perdagangan intraday, Kamis, 8 Januari lalu, IHSG secara konsisten pada kurun 14-21 Januari 2026 berada di kisaran 9.000-9.134. Meskipun demikian, seiring dinamisnya pasar modal, pada 23 Januari 2026 pasar modal ditutup melemah 41 poin atau 0,46 persen di angka 8.951,01.
Terkoreksinya sebagian besar sektor “kuat” di pasar saham membuat IHSG mulai meninggalkan level 9.000. Dari total 11 sektor yang terindeks di Bursa Efek Indonesia, sembilan sektor di antaranya kompak terjun ke zona merah. Sektor-sektor yang terkoreksi cukup dalam antara lain bidang teknologi, sektor transportasi dan logistik, energi, industri, hingga sektor konsumen siklikal dan keuangan.
Beberapa contohnya seperti saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Pacifik Tbk (BRPT), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT GoTo GoJek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Di balik dinamisnya bursa saham setiap hari, terdapat suatu fenomena yang menarik dicermati, yakni disparitas di pasar modal. Ketenangan di level indeks gabungan, seringkali tidak sejalan dengan kinerja indeks LQ45 maupun IDX30. LQ45 dan IDX3 merupakan gabungan sekelompok saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi serta kapitalisasi pasar yang besar.
Berkaca pada perdagangan pekan lalu, misalnya. Sepanjang 16-21 Januari 2026, rata-rata perubahan harga seluruh emiten saham masih di angka positif, yakni 0,14 persen. Namun, pada periode yang sama indeks LQ45 dan IDX30 justru terkoreksi masing-masing minus 0,17 persen dan 0,14 persen pada periode yang sama. Sementara untuk perdagangan pekan ini, ketika IHSG terkoreksi sebesar 1,14 persen, LQ45 tercatat terkoreksi lebih dalam, yakni sebesar 1,46 persen.
Saat ditarik dalam tren waktu yang lebih panjang, yakni sepanjang Januari 2026 maupun sepanjang satu tahun terakhir, polanya cenderung sama. Sepanjang 2025, pergerakan LQ45 dan IDX30 menunjukkan perubahan yang jauh lebih rendah ketimbang IHSG. LQ45 hanya tumbuh 2,41 persen Year-to-Date (YtD) begitu juga dengan IDX30 yang hanya tumbuh 3,25 persen YtD.
Selain itu, disparitas saham di pasar modal Indonesia juga dapat diliah dari lebih banyaknya saham spekulatif yang terjual daripada saham fundamental kuat. Artinya, para investor cenderung lebih aktif melakukan transaksi harian (spekulasi) guna mengejar keuntungan dalam waktu singkat.
Sehingga saham-saham dengan resiko tinggi menjadi semakin diminati dan mengerek harganya menjadi cukup tinggi. Sementara saham yang memiliki fundamental kuat dan relatif stabil kesulitan dalam mencapai peningkatan harga yang signifikan, meskipun telah mencatatkan laba tahunan yang cukup besar.
Tentu komponen emiten di dalamnya sangat menentukan. IHSG adalah cerminan dari gabungan seluruh perusahaan yang masuk dalam bursa, baik perusahaan besar dengan likuiditas tinggi hingga ke perusahaan lapis kedua atau bahkan ketiga. Keragaman ini membuat kenaikan satu atau sebagian emiten mampu menutupi koreksi dari sejumlah emiten lainnya. Dengan demikian, fluktuasinya relatif lebih terjaga karena kombinasi dua kondisi tersebut.
Dalam gabungan saham secara keseluruhan, banyak investor dengan toleransi risiko tinggi yang cenderung reaktif terhadap sentimen pasar sehingga bisa mendorong kenaikan saham secara masif. Namun, pada saat yang sama, terdapat juga sejumlah emiten andalan yang cenderung mampu menjaga pasar.
Guru Besar di bidang keuangan dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Eduardus Tandelilin mengatakan rotasi antarsektor dan penguatan saham yang bersifat siklikal juga turut membedakan pola gerak IHSG dengan LQ45 maupun IDX30. Pada fase tertentu, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke sektor yang bersifat siklikal. Saham-saham yang diuntungkan dari rotasi ini tidak selalu merupakan konstituen utama dari LQ45 ataupun IDX30 atau biasa disebut saham gorengan. Karenanya, dampaknya lebih terasa pada IHSG.
Adapun LQ45 dan IDX30 cenderung memiliki kapitalisasi besar dan valuasinya matang. Namun, koreksi kecil pada sekumpulan saham besar itu akan mampu memberikan tekanan yang cukup signifikan pada indeks kelompok tersebut. Apalagi, porsi saham pada LQ45 dan IDX30 mendominasi keseluruhan pasar saham. Ketika terjadi rotasi portofolio di luar indeks unggulan, dampaknya pada LQ45 dan IDX sangat signifikan. Karenanya, ketika IHSG menguat belum tentu akan seirama dengan pergerakan gabungan indeks andalan.
Meski demikian, Eduardus Tandelilin menilai bahwa saham pada indeks LQ45 masih tetap kuat secara fundamental. Relatif terjaganya bursa sejumlah saham besar itu pada saat yang sama juga turut menjaga pergerakan pasar tidak terlalu ketat.
Terbukti pada perdagangan pada Jumat lalu (23/01) ketika penutupan pasar justru mencatatkan hal sebaliknya. Saat IHSG ditutup melemah, IDX30 justru menguat sebesar 0,15 persen dari hari sebelumnya. Untuk indeks LQ45 sedikit melemah di angka negatif 0,17 persen, tetapi tidak sebesar pelemahan IHSG. Bla dikerucutkan pada indeks LQ45 khusus yang low carbon leader (LCL), indeksnya tetap menorehkan penguatan pada penutupan pekan lalu sebesar 0,15 persen.
Mohamad Andoko, perencana keuangan yang juga Founder Oneshildt dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia mengungkapkan bahwa aksi profit taking setelah euforia kenaikan saham yang masif di hari-hari sebelumnya menjadi salah satu penyebabnya. “Ketika harga sudah naik dan investor mencapai titik keuntungan tertentu, maka aksi jual akan cenderung tinggi. Naik saat harga rendah, investor akan beli lagi, sehingga terus bergerak,” ungkap Andoko saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis lalu (22/1/2026).
Di atas semuanya itu, Andoko menekankan bahwa di balik fluktuasi pasar saham, ada kecenderungan seirama dengan apa yang terjadi di sektor riil. Pergerakan sejumlah saham besar di sektor keuangan seperti BBRI dan BBCA, misalnya, turut menggambarkan kelesuan permintaan di sektor keuangan. Kendati pada triwulan ketiga pemerintah menggelontorkan dana lebih dari Rp 200 triliun ke bank umum, tidak cukup mampu meningkatkan permintaan kredit lantaran daya beli masyarakat juga melemah.
Senada, Eduardus menyampaikan hal serupa. “Ditambah lagi peralihan penguasaan bank-bank Himbara di bawah Danantara, bisa jadi membuat investor mereset kembali portofolionya, dengan menjual saham bluechip itu,” ungkapnya (22/1/2026). Kendati demikian tren panjang bursa menunjukkan bahwa saham-saham unggulan tersebut terbukti kuat secara fundamental dan akan tetap terus diminati pasar.
Karenanya, di tengah gejolak tak menentu, para investor harus melengkapi dirinya dengan penguasaan yang baik akan analisis fundamental setiap emiten yang diliriknya.
Peran pemerintah dalam menjaga ritme pasar melalui berbagai kebijakan yang pro-investasi juga perlu diperkuat, terutama untuk mendorong perekonomian di sektor riil. Setidaknya, penguatan IHSG yang berulang kali mencatatkan rekor ini juga harus dibarengi dengan penguatan ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. (LITBANG KOMPAS)





