Kawasan Industri Bintan Bidik Investasi Blue Ocean Mulai 2026

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BINTAN - PT Bintan Inti Industrial Estate (BIE) memperkuat strategi pengembangan kawasan industri dengan membidik investasi blue ocean alias sektor industri yang tingkat persaingannya masih rendah berorientasi ekspor mulai 2026.

General Manager BIE Aditya Laksamana mengatakan, BIE memiliki kawasan untuk industri seluas 4.000 hektar di Lobam, Bintan. “Ini mencakup fokus pada produk-produk manufaktur yang bernilai tambah tinggi untuk tujuan ekspor,” ujar Aditya kepada Bisnis belum lama ini.

Aditya menjelaskan, klaster prioritas yang dikembangkan meliputi industri offshore marine, industri halal berbasis pangan, serta sektor teknologi tinggi seperti pusat data (data center). Seluruh pengembangan tersebut ditopang oleh fasilitas pelabuhan sendiri dan layanan one stop service untuk memudahkan investor sejak tahap perizinan hingga operasional.

“Kami fokus pada sektor-sektor yang belum padat persaingan di Bintan. Investor cukup datang membawa modal, seluruh perizinan dan kebutuhan kawasan kami fasilitasi,” ujar Aditya.

Memasuki 2026, BIE menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat posisinya sebagai kawasan industri terintegrasi di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Fokus diarahkan pada penarikan investasi baru, percepatan pembangunan infrastruktur kawasan, serta peningkatan kontribusi ekspor nasional. Penguatan infrastruktur dilakukan melalui penyelesaian jalur transportasi internal, peningkatan jaringan utilitas, serta optimalisasi fasilitas logistik. BIE juga melakukan perbaikan pelabuhan kawasan untuk mendukung kelancaran ekspor, termasuk pemasangan solar light dan pengoperasian Tempat Pemeriksaan Sementara (TPS) berbasis daring yang terintegrasi dengan Bea Cukai dan otoritas pelabuhan.

“Kami memiliki pelabuhan sendiri dan status FTZ, sehingga bahan baku bisa masuk dan keluar tanpa hambatan. Ini membuat proses logistik lebih cepat dan efisien,” kata Aditya.

Baca Juga

  • Arsari Group Milik Hashim Djojohadikusumo Mulai Alirkan Gas West Natuna ke Batam pada 2027
  • Jelang Akuisisi INET, Alih Daya (PADA) Tarik Utang Rp165 Miliar dari BCA
  • HGU Produsen Gulaku (Sugar Group) Seluas 85.244 Ha Dicabut Kementerian Nusron, Nilainya Rp14,5 Triliun

Dalam tiga tahun terakhir, kinerja kawasan menunjukkan tren pertumbuhan. Jumlah tenaga kerja meningkat dari sekitar 4.000 orang menjadi 6.000 orang atau tumbuh 35%, sementara realisasi investasi naik sekitar 40%.

Menurut Aditya, pertumbuhan tersebut didukung oleh strategi pemasaran aktif, penerapan standar internasional, serta komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. “Kami sudah mencatat lebih dari 3,5 juta jam kerja tanpa kecelakaan dan menargetkan lima juta jam kerja nihil kecelakaan. Ini menjadi nilai tambah bagi investor,” ujarnya.

Dari sisi sektor, industri elektronik dan peralatan kesehatan menjadi yang paling berkembang dengan investor berasal dari Jerman, Singapura, dan Jepang. Selain itu, industri halal berbasis kelapa juga menunjukkan pertumbuhan dengan orientasi ekspor ke China dan India.

“Kapasitas produksi kelapa mencapai 250.000 butir per hari dan ditargetkan meningkat menjadi 1 juta butir per hari dalam 2 tahun ke depan. Produk turunan seperti santan dan ampas kelapa dipasarkan ke luar negeri maupun domestik,” kata dia.

BIE juga menjalin kerja sama internasional dengan investor dari Singapura, Jepang, Australia, dan China, termasuk pengembangan kawasan halal hub, offshore marine, serta konsep twin city dan twin park dengan mitra China untuk memperkuat arus perdagangan dua arah.

“Jadi kerjasamanya itu produk kita bisa ke Cina begitu juga sebaliknya, ini bagus untuk perekonomian kita,” jelas dia.

Namun demikian, Aditya mengakui pengembangan kawasan masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek regulasi dan rantai pasok. Perubahan kebijakan yang dinilai cepat, keterbatasan insentif dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, serta sistem perizinan OSS yang belum sepenuhnya stabil menjadi kendala.

“Kami berharap ada sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, serta percepatan pembangunan infrastruktur pendukung seperti Jembatan Babin untuk memperkuat ekosistem industri Bintan,” katanya.

Untuk periode 2026–2030, BIE menargetkan investasi baru sebesar US$400 juta  dengan orientasi utama pada industri ekspor bernilai tambah tinggi.

“Target tersebut kami optimistis bisa terealisasi hingga 2030 dan menjadi penggerak utama pertumbuhan industri di Kepulauan Riau,” kata Aditya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Soal Impor Daging, APPDI Minta Perlakuan Setara bagi Swasta dan BUMN
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
BRI Super League: Persebaya Beraroma Revans, Francisco Rivera Pede Raup Poin Penuh di Markas PSIM
• 17 jam lalubola.com
thumb
Said Aqil Siradj Dinilai Paling Penuhi Kriteria Rais Aam PBNU
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Link Live Streaming Persijap Jepara Vs PSM Makassar: Incar Kemenangan, Tomas Trucha Bertaruh pada Reza Arya dan Alex Tanque
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Honda Prelude Siap Mengaspal di Indonesia, Harga di Bawah Rp1 Miliar
• 19 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.