Jurang Menganga Nilai TKA

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan Indonesia baru saja melewati momen krusial dengan diumumkannya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025. Sebagai asesmen perdana yang melibatkan sekitar 3,56 juta siswa jenjang SMA, SMK, MA, hingga Paket C, TKA sebagai upaya untuk memotret capaian akademik nasional.

Namun, ketika data tersebut dipaparkan ke publik, yang terlihat adalah kenyataan pahit mengenai kualitas pendidikan kita saat ini. Hasil rerata nasional menunjukkan angka yang mencengangkan di antaranya Bahasa Inggris hanya mencapai 24,92, Matematika berada di angka 36, dan Bahasa Indonesia di skor 55.

Rendahnya nilai ini sering kali dianggap sebagai kegagalan sistemik atau indikasi soal yang terlalu sulit. Namun, pihak kementerian menegaskan bahwa hasil ini adalah potret jujur dari kemampuan akademik aktual siswa setelah sekian lama sistem evaluasi nasional terlalu terjebak pada capaian administratif dan nilai rapor semata.

TKA disebut menggunakan pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dan sistem penilaian Item Response Theory (IRT), di mana skor tidak hanya ditentukan oleh jumlah jawaban benar, tetapi juga tingkat kesulitan dan daya beda soal. Dengan sistem ini, terungkap bahwa banyak siswa kita yang masih terbiasa dengan soal prosedural, namun sangat lemah dalam hal penalaran, interpretasi, inferensi, serta pemecahan masalah kontekstual.

Ketimpangan pendidikan di Indonesia terlihat sangat nyata melalui data distribusi nilai ini. Terjadi "jurang menganga" yang memisahkan kualitas pendidikan antara Pulau Jawa, luar Pulau Jawa, hingga daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terpencil (3T).

Provinsi-provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi papan atas capaian nasional. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), misalnya, mencatatkan prestasi gemilang dengan rerata nilai Bahasa Indonesia mencapai 65,89 dan Matematika sebesar 43,09, memimpin di posisi teratas nasional. DKI Jakarta dan Jawa Tengah menyusul di posisi berikutnya dengan skor yang jauh melampaui rata-rata nasional.

Kontras yang tajam terlihat ketika kita menoleh ke arah timur Indonesia atau daerah-daerah 3T. Di Papua Pegunungan, rerata nilai Bahasa Indonesia hanya berada di angka 44,26, sedangkan Matematika di angka 34,37. Kondisi serupa ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana rerata nilai Bahasa Inggris sangat memprihatinkan, yakni hanya 19,71.

Kesenjangan ini menunjukkan adanya learning gap yang bersifat struktural, yang dipengaruhi oleh perbedaan fasilitas satuan pendidikan, kualitas sumber daya pengajar, hingga latar belakang sosial-ekonomi siswa. Data ini menjadi alarm keras bagi pemerintah bahwa pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar dan mendesak.

Di tengah masyarakat, hasil ini menuai pro dan kontra, terutama terkait rencana penggunaan TKA sebagai validator nilai rapor dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Langkah ini diambil untuk meningkatkan objektivitas dan keadilan antar-sekolah yang memiliki standar penilaian berbeda. Meskipun terdapat kritik mengenai kendala teknis seperti pemadaman listrik atau isu kebocoran soal di media sosial, kementerian menjamin bahwa integritas asesmen tetap terjaga melalui penegakan sanksi tegas hingga pemberian nilai nol bagi pelanggar berat.

Hasil TKA ini harus dipandang sebagai baseline yang menunjukkan di mana posisi pendidikan kita sebenarnya agar pemerintah dapat merancang intervensi berbasis data yang tepat sasaran. Fokus ke depan bukan lagi pada perubahan kurikulum secara drastis, melainkan pada perbaikan cara mengajar, penguatan kompetensi guru, serta implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) dan metode teaching at the right level.

Di tengah mendungnya rapor pendidikan nasional, Provinsi Bali muncul sebagai secercah harapan. Bali berhasil membuktikan diri sebagai kekuatan pendidikan yang mampu bersaing di kancah elite nasional. Dengan rerata keseluruhan mencapai 41,83, Bali sukses menempati peringkat ke-4 nasional, mengungguli provinsi besar di Pulau Jawa seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.

Keunggulan pelajar di Pulau Dewata terlihat sangat nyata pada kompetensi linguistik, di mana nilai Bahasa Inggris mereka mencapai 28,73 dan Bahasa Indonesia sebesar 58,85. Prestasi Bali ini memberikan optimisme bahwa kualitas pendidikan yang mumpuni tidak hanya terpusat di jantung pemerintahan atau pusat pendidikan di Jawa, tetapi juga dapat diwujudkan melalui konsistensi dan komitmen di daerah lain.

Melihat jurang nilai yang ada, hasil TKA 2025 adalah panggilan untuk bertindak. Keberhasilan Bali dan DIY harus menjadi inspirasi, sementara keterpurukan di daerah 3T harus menjadi prioritas intervensi. Hanya dengan mengakui kenyataan pahit ini, Indonesia dapat mulai membangun fondasi pendidikan yang lebih adil, di mana kemampuan bernalar siswa menjadi orientasi utama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lula Lahfah yang Meninggal Dunia di Apartemen Jaksel...
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Parisada Hindu Dharma Indonesia Menang Gugatan Ke-10 atas PHDI MLB
• 5 jam laludetik.com
thumb
Bandung bjb Tandamata Siap Tuntaskan Misi Ganda Seri Ketiga Proliga 2026
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Lagi Flu di Musim Hujan, Boleh atau Tidak Minum Kopi?-Tips Kesehatan
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Drama lima gol, Valencia menang dramatis
• 12 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.