Perundingan selama dua hari yang melibatkan perwakilan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat (AS) resmi berakhir pada Sabtu (24/1). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut pembicaraan tersebut berlangsung “konstruktif” dan membahas “parameter yang memungkinkan” untuk mengakhiri perang.
Menurut seorang pejabat AS, para negosiator akan kembali bertemu di Uni Emirat Arab pada 1 Februari mendatang untuk melanjutkan perundingan. Ia menggambarkan suasana pembahasan sebagai positif dan penuh optimisme, demikian seperti dikutip AP News pada Minggu (25/1).
Perundingan ini menjadi momen pertama yang diketahui publik ketika pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump duduk satu meja dengan Rusia dan Ukraina, seiring upaya Washington mendorong kemajuan nyata untuk mengakhiri invasi Moskow yang telah berlangsung hampir empat tahun.
“Semua pihak sepakat untuk melaporkan setiap aspek hasil negosiasi kepada pemerintah masing-masing dan mengoordinasikan langkah selanjutnya dengan para pemimpin negara,” tulis Zelenskyy melalui akun Telegram resminya.
Seorang pejabat AS menyebut pembahasan mencakup berbagai isu militer dan ekonomi. Salah satu opsi yang dibicarakan adalah kemungkinan gencatan senjata sebelum tercapainya kesepakatan damai menyeluruh.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan final terkait kerangka pengawasan dan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia, yang saat ini diduduki Rusia dan merupakan fasilitas nuklir terbesar di Eropa. Meski demikian, listrik yang dihasilkan dari pembangkit tersebut disebut akan dibagi “secara adil”, meski soal kendali operasionalnya masih belum diputuskan.
Zelenskyy juga menegaskan adanya kesepahaman terkait peran AS dalam proses perdamaian.
“Ada pemahaman mengenai perlunya pemantauan dan kendali Amerika Serikat dalam proses mengakhiri perang serta memastikan keamanan yang nyata,” ujarnya.
Dalam perundingan tersebut, AS diwakili oleh utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner. Dari pihak Ukraina hadir kepala negosiator Rustem Umerov serta Kepala Staf Presiden Kyrylo Budanov. Sementara Rusia mengirim perwakilan dari dinas intelijen militer dan angkatan bersenjata.
Meski Zelenskyy sebelumnya mengatakan di Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, bahwa kesepakatan damai “hampir siap”, sejumlah isu sensitif masih menjadi ganjalan. Salah satunya terkait persoalan wilayah.
Pejabat AS itu menyebut pejabat Ukraina dan Rusia kemungkinan masih perlu menggelar pembicaraan lanjutan di Rusia atau Ukraina sebelum pertemuan langsung antara Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat terwujud. Bahkan, pertemuan trilateral dengan Presiden AS Donald Trump dinilai masih memerlukan proses lanjutan. Meski begitu, ia menilai ada momentum menuju tahap pertemuan para pemimpin.
Beberapa jam sebelum perundingan tiga pihak dimulai pada Jumat, Putin lebih dulu menggelar pembicaraan maraton semalaman dengan Witkoff dan Kushner. Kremlin menegaskan, syarat utama perdamaian adalah penarikan pasukan Ukraina dari wilayah timur yang telah dianeksasi Rusia secara ilegal, meski belum sepenuhnya dikuasai.
Di tengah berlangsungnya perundingan, serangan drone Rusia terus terjadi. Pada hari kedua pembahasan, satu orang dilaporkan tewas dan empat lainnya luka-luka akibat serangan drone di Kyiv, menurut Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko. Di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina, serangan serupa melukai 27 orang.
“Menyedihkan, Putin memerintahkan serangan rudal besar-besaran terhadap Ukraina tepat saat delegasi sedang bertemu di Abu Dhabi untuk memajukan proses perdamaian yang dipimpin Amerika Serikat,” tulis Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha di X.
Konflik antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022. AS selama ini berperan sebagai pendukung utama Ukraina, baik melalui bantuan militer dan ekonomi maupun dorongan diplomasi untuk membuka jalur perundingan guna mengakhiri perang.



