Jakarta, IDN Times - Prosesi pemakaman Dwi Murdiono, teknisi pesawat ATR 42-500 yang digelar di TPU Menteng Pulo 2, Tebet, Jakarta Selatan, pada Minggu (25/1/2026), tidak hanya dihadiri keluarga, tetapi juga oleh sejumlah pegawai Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Ditjen PSDKP) Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Berdasarkan pantauan IDN Times, pada pukul 09.45 WIB, terlihat sepuluh personel Ditjen PSDKP KKP berseragam dinas menggotong keranda jenazah dari ambulans ke lokasi pemakaman.
Selain mengangkat keranda, sejumlah personel lainnya juga menghadiri prosesi pemakaman hingga selesai. Mereka mengiringi jenazah sejak tiba di lokasi dan turut memberikan penghormatan terakhir.
Lebih lanjut, proses pemakaman dimulai sekitar pukul 10.02 WIB, diiringi tangis pilu sanak keluarga yang ditinggalkan.
Dwi Murdiono meninggalkan seorang istri, Shinta Jayanti, serta tiga orang anak yang menjadi buah hati mereka yaitu dua putra dan seorang putri. Anak pertama mereka, berinisial R, saat ini duduk di kelas 2 SMP. Putra kedua, berinisial F, masih di kelas 5 SD, sementara putri bungsu mereka, A, masih bersekolah di kelas 2 SD.
Sebelumnya, adik almarhum, Tarmizi mengatakan, keluarga memutuskan untuk memakamkan almarhum di TPU Menteng Pulo agar dekat dengan pusara sang ibunda.
"Saya mengucapkan terima kasih banyak yang sebesar-besarnya mewakili keluarga besar dari keluarga saya sendiri, sekaligus keluarga Mbak Shinta. Mengucapkan maaf juga kalau misalkan ada kurang-kurang selama ini. Terima kasih atas ikhtiarnya, mohon doanya terus untuk abang saya," kata Tarmizi di kediaman almarhum, Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, Minggu.
Berita duka ini menyusul pengumuman resmi penghentian operasi pencarian dan pertolongan (SAR) untuk kecelakaan pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT. Operasi dinyatakan selesai setelah seluruh korban berhasil ditemukan dan dievakuasi oleh tim gabungan.
Keputusan ini diumumkan oleh Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, usai rapat evaluasi pada Jumat, 23 Januari 2026 malam di Makassar, menandai berakhirnya fase pencarian tujuh hari pasca-kecelakaan.





