Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) membukukan hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai Rp39,72 triliun, Jumat (23/1/2026).
Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), hasil lelang senilai Rp39,72 triliun itu dimenangkan dari total nominal yang ditawarkan sebesar Rp41,8 triliun.
"Nilai lelang yang dimenangkan kali ini di atas nilai rata-rata lelang mingguan SRBI yang sebesar Rp15,6 triliun per lelang dan merupakan nilai lelang mingguan terbesar sejak 12 Juni 2024 (Rp46,33 triliun)," ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dikutip dari siaran pers, Minggu (25/1/2026).
Secara terperinci, hasil lelang SRBI yang dimenangkan terdiri dari SRBI tenor 6 bulan Rp4,13 triliun (dengan rate 4,66%); SRBI tenor 9 bulan Rp4,11 triliun (dengan rate 4,76%); serta SRBI tenor 12 bulan Rp31,49 triliun (dengan rate 4,84%).
Secara total, penerbitan (dan penerbitan kembali/reissuance) SRBI sejak pertama kali yakni 15 September 2023 sampai dengan 23 Januari 2026 mencapai Rp2.213,39 triliun.
Sementara itu, kepemilikan SRBI sampai dengan Desember 2025 lalu masih dipegang mayoritas oleh perbankan yakni Rp589,4 triliun atau 80,6%. Total aliran modal yang masuk atau inflow sebesar Rp28,6 triliun secara tahun berjalan atau year-to-date (YtD).
Baca Juga
- Modal Asing Rp7,71 Triliun Kabur RI, Investor Ramai Jual SBN & SRBI
- Saat Langkah Fiskal Menkeu Purbaya Tersenggol Strategi SRBI Bank Indonesia (BI)
- STRATEGI INVESTASI : Dapen BCA Incar Tambah SRBI
Kepemilikan terbesar kedua yakni dari nonresiden sebesar Rp114,1 triliun atau 15,6%. Total aliran modal yang keluar (outflow) tercatat Rp110,1 triliun (YtD).
Adapun kepemilikan residen atau investor domestik sebesar Rp20,1 triliun atau 2,8% dan mengalami outflow sebesar Rp70,9 triliun (YtD).
Di sisi lain, kepemilikan asing pada SRBI tercatat mengalami inflow sebesar Rp27,4 triliun secara month-to-date (MtD) pada Desember 2025.
Asing Masuk SRBIAndry mencatat bahwa berdasarkan posisi sampai dengan Desember 2025, investor asing kembali membeli instrumen utang yang diterbitkan BI tersebut.
Hal itu terlihat dari tren peningkatan kepemilikan asing di SRBI sebesar Rp86,7 triliun atau 12% dari total outstanding pada November 2025, menjadi Rp114,1 triliun atau 15,6% dari total outstanding.
Sementara itu, dia turut mencatat kepemilikan SRBI oleh perbankan pada periode yang sama justru turun dari Rp618,3 triliun atau 85,5% ke Rp589,4 triliun atau 80,6% pada Desember 2025.
Di sisi lain, suku bunga SRBI berbalik meningkat setelah tren penurunan dalam lima lelang terakhir. Sampai dengan Jumat lalu, rata-rata suku bunga SRBI untuk semua tenor naik sebesar 9 basis poin (bps) dari lelang minggu sebelumnya pada 15 Januari 2026, dengan suku bunga SRBI untuk tenor 12 bulan tercatat 4,84% atau -8 bps (YtD).
Dari sisi jatuh tempo, nilai SRBI yang mengalami maturity sampai dengan 23 Januari 2026 sebesar Rp1.479,6 triliun. Adapun posisi outstanding SRBI yakni Rp733,8 triliun atau naik dari posisi Desember 2025 sebesar Rp730,9 triliun.
"BI akan melanjutkan optimalisasi instrumen SRBI untuk menarik aliran dana asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini berada di kisaran 16.880 - 16.980 per USD," terang Andry.
Tren OutflowAdapun tren aliran modal asing keluar (outflow) dari pasar keuangan RI turut memicu pelemahan nilai tukar rupiah hingga nyaris mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Pada pekan ketiga Januari 206, BI melaporkan terjadi capital outflow dari pasar keuangan Indonesia senilai total Rp5,96 triliun. Hal itu berdasarkan data transaksi 19 sampai dengan 22 Januari 2026, di mana investor asing atau nonresiden tercatat jual neto senilai Rp2,67 triliun di pasar saham, Rp1,44 triliun di pasar SBN dan Rp1,85 triliun di SRBI.
Selama 2026, berdasarkan data setelmen sampai dengan 22 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp8,02 triliun di pasar saham dan Rp1,89 triliun di pasar SBN, serta jual neto sebesar Rp2,67 triliun di SRBI.
"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," terang Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso pada situs resmi BI, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Sementara itu premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 22 Januari 2026 tercatat sebesar 73,28 bps. Angka itu naik dari posisi 15 Januari 2026 sebesar 70,86 bps.
Untuk diketahui, premi CDS merujuk pada persepsi investor terhadap risiko gagal bayar utang atau default pemerintahan di suatu negara.
Pada sisi nilai tukar, mata uang Garuda dibuka menguat pada level (bid) Rp16.850 per dolar AS, Jumat (23/1/2026). Posisinya menguat dari hari sebelumnya ketika ditutup pada level (bid) Rp16.880 per dolar AS, Kamis (22/1/2026).
Sementara itu, imbal hasil atau yield SBN pemerintah tenor 10 tahun stabil di 6,3% pada Kamis dan Jumat lalu.
Adapun pada konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026, Rabu (21/1/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan terus melakukan intervensi di pasar non delivery forward (NDF) baik offshore maupun onshore, domestic non delivery forward (DNDF) serta pasar spot guna menjaga stabilitas rupiah.
"Ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat didukung imbal hasil menarik, inflasi yang rendah dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi indonesia," terang Perry.



