TABLOIDBINTANG.COM - Keberanian Aurelie Moeremans membuka luka lama lewat buku memoar Broken Strings ternyata membawa dampak besar dalam hidupnya.
Kisah kelam yang selama ini dipendam bukan hanya menjadi proses pemulihan diri, tetapi juga membuka peluang baru untuk menuntut keadilan yang sempat tertunda.
Aktris sekaligus istri Tyler Bigenho itu mengungkapkan bahwa kini dirinya telah mengantongi bukti tambahan terkait peristiwa pahit yang dialaminya di masa lalu.
Situasi ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun silam, ketika ia sempat berniat melaporkan kasus tersebut namun terhenti karena minimnya bukti.
“Dulu aku sebenarnya sudah pernah mau proses secara hukum bareng orang tua. Tapi waktu itu ada yang bilang bukti aku belum cukup kuat karena enggak ada rekaman atau dokumen pendukung,” ungkap Aurelie Moeremans di channel YouTube pribadinya, Minggu (25/1).
Saat itu, Aurelie yang masih berusia sangat muda merasa tidak memiliki posisi kuat untuk melawan. Tanpa bukti konkret, ia memilih mundur dan mencoba berdamai dengan trauma yang membekas.
Namun keadaan berubah setelah Broken Strings dirilis dan mendapat perhatian luas publik. Buku tersebut viral dan dibaca banyak orang, hingga tanpa disangka menghadirkan titik terang baru dalam perjalanannya mencari keadilan.
Aurelie mengaku mulai dihubungi sejumlah pihak yang mengaku memiliki bukti serta pengalaman serupa terkait perlakuan buruk sang pelaku di masa lalu.
“Setelah buku aku keluar, ada beberapa orang yang tiba-tiba menghubungi aku dan memberikan bukti-bukti yang sebelumnya aku enggak punya,” ungkap Aurelie Moeremans.
Bagi Aurelie, kemunculan bukti-bukti baru ini terasa seperti isyarat bahwa kebenaran memang memiliki jalannya sendiri. Meski waktu telah berlalu cukup lama, ia menilai perjuangan korban tetap layak diperjuangkan.
“Mungkin ini memang pertanda. Tapi tujuan utama aku menulis buku ini tetap untuk mengajak perubahan,” beber Aurelie.
Sorotan publik terhadap kisah Aurelie juga semakin menguat setelah anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, ikut angkat suara. Ia menyinggung pentingnya negara hadir dalam melindungi korban child grooming serta mendorong agar pelaku tidak terus diberi ruang di ruang publik.
Kini, Aurelie yang sebelumnya hanya ingin berdamai dengan masa lalu mulai membuka kemungkinan menempuh jalur hukum, terutama jika tekanan dan intimidasi masih terus ia terima. Dengan bukti baru yang telah dikantonginya, posisinya dinilai jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
“Dulu aku memang tidak mendapatkan keadilan yang seharusnya jadi hak aku. Tapi kalau buku ini bisa membantu orang lain mendapatkan keadilan, itu sudah jadi kemenangan buat aku,” pungkas Aurelie.




