GERD (gastroesophageal reflux disease) terjadi saat asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang. GERD biasanya dialami orang dewasa, tapi siapa sangka, anak juga bisa mengalaminya, lho!
Pada anak, hal ini bisa dipicu oleh katup lambung yang belum matang, obesitas, atau kebiasaan makan tertentu. Sayangnya sering kali GERD pada anak telat terdeteksi karena gejalanya mirip dengan masalah pencernaan biasa.
Faktor lain yang dapat memicu GERD pada anak antara lain berat badan berlebih, riwayat alergi makanan, konsumsi makanan berlemak atau asam, serta kebiasaan langsung berbaring setelah makan. Pada sebagian anak, GERD juga berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
GERD pada Anak: Gejala yang Perlu Anda WaspadaiGejala GERD pada anak dapat berupa muntah berulang, nyeri dada atau perut, batuk kronis, bau mulut, hingga sulit makan. Pada anak yang lebih besar, Anda mungkin mendengar keluhan rasa panas di dada.
Gejala GERD pada anak bisa berbeda-beda, tergantung usia. Pada bayi dan balita, keluhan yang sering muncul meliputi gumoh berlebihan, muntah berulang, rewel setelah makan, serta sulit tidur.
Sementara pada anak yang lebih besar, GERD dapat ditandai dengan nyeri atau rasa panas di dada, sakit perut, batuk kronis, suara serak, bau mulut, hingga penurunan nafsu makan. Karena gejalanya kerap menyerupai gangguan pencernaan biasa, GERD pada anak sering terlambat dikenali.
Dampak GERD pada Tumbuh Kembang AnakGERD pada anak yang tidak tertangani dengan baik dapat berdampak pada tumbuh kembangnya. Anak bisa mengalami kesulitan makan karena rasa tidak nyaman atau nyeri, sehingga asupan nutrisi menjadi tidak optimal.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menyebabkan berat badan sulit naik, gangguan pertumbuhan, serta keterlambatan perkembangan. Selain itu, GERD kronis juga dapat meningkatkan risiko peradangan kerongkongan dan gangguan pernapasan berulang.
Cara Penanganan yang TepatPenanganan GERD pada anak biasanya dimulai dengan perubahan gaya hidup. Anda dapat membantu anak dengan mengatur pola makan lebih teratur, memberikan porsi kecil tetapi sering, serta menghindari makanan pemicu asam lambung.
Posisi tubuh setelah makan juga penting—anak sebaiknya tidak langsung berbaring. Jika keluhan tidak membaik, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan dan pemberian obat sesuai kondisi anak.



