Peringati Hari Gizi Nasional 2026, Wakil Ketua MPR Ibas Ingatkan Amanat Konstitusi

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas menegaskan pemenuhan gizi bukan semata isu kesehatan, melainkan amanat konstitusi dan bagian tak terpisahkan dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan Ibas dalam sambutannya pada peringatan Hari Gizi Nasional 2026 yang mengusung tema 'Gizi, Konstitusi, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia'.

BACA JUGA: Edukasi Gizi Serentak di 1.800 Sekolah, Persagi Pecahkan Rekor MURI

Menurut Ibas, gizi merupakan fondasi kemanusiaan dan peradaban.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR itu mengutip pandangan Nelson Mandela yang menegaskan kualitas sebuah bangsa dapat dilihat dari cara negara memperlakukan anak-anaknya, termasuk dalam menjamin kecukupan gizi.

BACA JUGA: Peringati Hari Gizi, TBIG Gelar Edukasi Kesehatan dan Bagikan Makanan di 25 Lokasi

“Tidak ada cermin yang lebih jujur tentang jiwa suatu bangsa selain bagaimana bangsa itu memperlakukan anak-anaknya,” ujar Ibas dalam keterangannya, Minggu (25/1).

Dalam konteks Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, Ibas menekankan pemenuhan gizi adalah hak konstitusional warga negara.

BACA JUGA: Ahli Ingatkan Risiko Miskonsepsi Gizi Anak, Simak Penjelasan Ini

Ibas merujuk Pasal 28H dan Pasal 34 UUD 1945 yang mewajibkan negara menjamin kesejahteraan dan pelayanan kesehatan yang layak bagi seluruh rakyat.

“Keadilan gizi adalah bagian dari keadilan sosial,” tegasnya.

Lulusan Program Doktor IPB University ini juga menyoroti kesinambungan kebijakan gizi lintas pemerintahan.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pemerintah meletakkan fondasi melalui penguatan sistem kesehatan nasional, melalui Program Keluarga Harapan (PKH), perbaikan gizi masyarakat, swasembada pangan dan perikanan, serta penguatan posyandu serta unit kesehatan sebagai basis pelayanan kesehatan dan gizi komunitas.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa pembangunan manusia harus dimulai dari kesehatan dan gizi.

Sementara pada era Presiden Prabowo Subianto, komitmen tersebut diperkuat melalui kebijakan yang lebih progresif, antara lain Program Makan Bergizi Gratis sebagai investasi jangka panjang sumber daya manusia, penegasan gizi sebagai strategi ketahanan nasional, serta integrasi kebijakan gizi dengan agenda pembangunan manusia unggul dan pengentasan kemiskinan struktural.

Meski demikian, Anggota Dapil Jawa Timur VII ini mengingatkan bahwa setiap kebijakan publik harus terus dievaluasi dan disempurnakan agar tepat sasaran.

Dia mengutip pemikiran peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen yang menyatakan bahwa kelaparan bukan disebabkan oleh kekurangan pangan, melainkan oleh ketimpangan akses, keadilan, dan hak.

“Kita tidak boleh menghalangi negara membantu rakyatnya, tetapi kita juga tidak boleh menutup mata jika ada kebijakan dan program yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Ibas menegaskan tugas MPR tidak hanya menjaga teks konstitusi, tetapi juga menghidupkan nilai-nilainya melalui sosialisasi Empat Pilar MPR, penguatan nilai keadilan sosial Pancasila, serta pengawalan arah pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, MPR memiliki peran strategis dalam memastikan kebijakan gizi nasional berlandaskan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Ibas juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi tantangan gizi, mulai dari pemenuhan gizi sebagai hak konstitusional, pengurangan ketimpangan akses antarwilayah—khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)—hingga penanganan beban gizi ganda seperti stunting, obesitas, dan penyakit tidak menular.

“Pembangunan gizi adalah pembangunan manusia, bukan sekadar statistik. Gizi adalah titik temu antara ilmu pengetahuan, kebijakan negara, dan nilai konstitusi. Tanpa gizi yang adil, keadilan sosial hanya menjadi slogan,” tegas Ibas.

Ibas menegaskan MPR akan terus mengawal nilai keadilan sosial Pancasila, memastikan arah pembangunan nasional berpihak pada manusia, serta menjadikan gizi sebagai bagian dari narasi besar kebangsaan demi masa depan Indonesia yang sehat, cerdas, dan bermartabat.

Diskusi kemudian diperkaya oleh pandangan para pakar gizi dan kesehatan. Dr. dr. Tan Shot Yen menekankan bahwa persoalan gizi tidak lepas dari pola konsumsi dan literasi gizi keluarga.

Dia menyoroti pentingnya kembali pada pangan lokal yang beragam dan segar serta mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-proses.

Prof. Evy Damayanti menyoroti pentingnya keamanan dan kualitas pangan, khususnya dalam pelaksanaan Program MBG. Ia mengingatkan perlunya pengawasan mutu pangan, rantai pasok, dan edukasi berkelanjutan agar program tersebut benar-benar berdampak positif.

Dalam kesempatan yang sama, Anugrah Novianti menyoroti pentingnya ketepatan sasaran dalam pelaksanaan program gizi, khususnya bagi kelompok lansia.

“Di Amerika Serikat, program gizi bagi lansia tidak diberikan secara menyeluruh, melainkan difokuskan kepada mereka yang sudah tidak mampu memasak dan memiliki keterbatasan aktivitas,” ungkapnya.

Adapun Gia Pratama Putai menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam isu gizi melalui literasi digital, kampanye kreatif, dan pendekatan yang relevan dengan gaya hidup anak muda, agar kebijakan gizi tidak hanya bersifat top-down.

Sementara itu, Dr. Rita Ramayulis DCN MKes menegaskan urgensi pembatasan konsumsi gula dan garam sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit tidak menular.

Dia juga mengajak seluruh pihak untuk kembali menguatkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang menekankan konsumsi gizi seimbang dan buah-buahan sebagai bagian dari pola hidup sehat.

Sejumlah Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat turut menyampaikan penguatan.

Marwan Cik Asan menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan dan konsistensi anggaran agar program gizi dan kesehatan menjangkau hingga kelompok rentan.

Tutik Kusumawardhani menyoroti perlunya pendekatan berbasis data dan penguatan peran tenaga kesehatan serta komunitas lokal.

Sementara Lucy Kurniasari menegaskan peran sentral keluarga, khususnya ibu, dalam keberhasilan program gizi nasional serta pentingnya pengawasan pelaksanaan di lapangan.

Diskusi juga memunculkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari pembatasan konsumsi gula dan garam, diversifikasi pangan lokal, peningkatan literasi gizi, penguatan peran kader posyandu, hingga perlunya kebijakan yang lebih adil bagi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Audiensi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, di antaranya Anggota DPR RI Marwan Cik Asan, Lucy Kurniasari, dan Tutik Kusumawardhani; para pakar gizi dan kesehatan Dr. dr. Tan Shot Yen, Prof. Dr. Rimbawan, Prof. Evy Damayanti, serta Gia Pratama Putai; akademisi, tenaga kesehatan, organisasi profesi, serta perwakilan masyarakat sipil yang bersama-sama berkomitmen mengawal penguatan kebijakan gizi dan pembangunan manusia Indonesia secara berkelanjutan. (mrk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemenuhan Gizi dan Layanan Kesehatan Jadi Prioritas dalam Penanganan Banjir Sumatra


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pasangan Bercerai, Mufti Menk: Menangislah, Itu Tidak Haram
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hasil, Klasemen, dan Top Skor Liga Spanyol: Madrid Kudeta Barcelona, 21 Gol Mbappe Makin tak Terkejar
• 12 jam laluharianfajar
thumb
Pemkot Surabaya Ubah Aturan Penerimaan Beasiswa Pemuda untuk Murid SMA Sederajat
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Cabuli Bocah, Pemuda di Tangsel Ditangkap
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Atasi Banjir Jakarta, Kenneth DPRD DKI Dorong Pembenahan Drainase hingga Tata Ruang
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.