Perubahan cuaca yang kian sulit diprediksi membuat intensitas hujan dapat meningkat dalam waktu singkat hingga memicu bencana, terutama di wilayah dengan kontur tanah labil dan daya dukung lingkungan yang menurun. Dalam situasi seperti ini, pemantauan curah hujan menjadi penanda awal yang krusial untuk membaca potensi risiko.
Curah hujan yang tinggi juga pada akhirnya dapat memicu bencana longsor. Data hujan harian, akumulasi curah hujan, hingga kejenuhan tanah merupakan indikator penting yang dapat membantu memahami kapan sebuah wilayah berada dalam fase rawan. Tanpa sistem pemantauan yang memadai, bencana kerap baru disadari setelah kerusakan terjadi.
Di sisi lain, kemajuan teknologi membuka peluang dalam upaya membaca gejala alam lebih presisi. Pemanfaatan teknologi digital dan internet memungkinkan pemantauan curah hujan dilakukan secara real time, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau. Data yang terkumpul dari sensor-sensor ini menjadi dasar penting untuk memahami pola hujan yang terjadi.
Dalam konteks pencegahan banjir dan longsor, dukungan teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis. Informasi curah hujan yang cepat dan akurat dapat diolah menjadi sistem peringatan dini sehingga memberi waktu bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan maupun mitigasi.
Kondisi tersebut melatarbelakangi periset Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Integrated Watershed Monitoring System atau sistem berbasis web yang mengintegrasikan beberapa aplikasi untuk memantau air, udara, lahan, dan sosial kelembagaan.
Salah satu alat atau instrumen yang dikembangkan dalam sistem ini yaitu Modathus. Alat ini merupakan instrumen peringatan sangat dini bencana longsor berbasis internet yang dirancang untuk mendeteksi potensi banjir dan gerakan tanah secara real-time.
Modathus dapat mengukur berbagai parameter penting, mulai dari curah hujan, kelembapan tanah, suhu, kelembapan udara, hingga pergerakan tanah.
Periset Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN Hunggul Yudono mengemukakan, mitigasi bencana tidak selalu harus dilakukan dengan sistem yang kompleks. Modathus merupakan contoh inovasi murah dan sederhana yang dapat menjadi alat pendukung sistem peringatan dini banjir maupun longsor secara cepat dan akurat.
“Modathus kami kembangkan untuk menjembatani sains dan kebutuhan lapangan. Ini adalah sebuah alat sederhana yang mendukung sistem peringatan dini banjir dan longsor secara lebih inklusif,” ujarnya dalam rilis BRIN dikutip Minggu (25/1/2026).
Menurut Hunggul, sistem Modathus dikembangkan dengan pendekatan very early warning system untuk memberikan peringatan bencana lebih dini dibandingkan instrumen peringatan konvensional yang selama ini digunakan. Hal ini berbeda dengan alat early warning system (EWS) yang umumnya bekerja saat tanda-tanda fisik bencana sudah muncul.
Sebagai contoh, pada pemantauan banjir sistem peringatan yang ada selama ini bertumpu pada pengukuran tinggi muka air sungai. Namun, rentang waktu antara peringatan berbasis tinggi muka air dengan terjadinya banjir di wilayah hilir relatif singkat sehingga ruang untuk mitigasi menjadi terbatas.
Pendekatan serupa juga diterapkan dalam peringatan dini longsor. Selama ini, sistem peringatan longsor umumnya bergantung pada deteksi gerakan tanah, di mana alarm baru berbunyi saat pergerakan sudah terjadi. Kondisi ini membuat waktu evakuasi masyarakat menjadi sangat terbatas karena peringatan datang dalam jarak waktu yang pendek.
Modathus mengintegrasikan berbagai sensor berbiaya terjangkau guna mendukung upaya mitigasi bencana hidrometeorologi dan gerakan tanah. Sistem ini memanfaatkan sensor tekanan udara dan sonar untuk akuisisi data curah hujan, serta sensor suhu dan kelembapan udara untuk memprediksi potensi hujan di suatu wilayah.
Selain itu, Modathus juga dilengkapi sensor kelembapan tanah pada kedalaman tertentu untuk menilai risiko pergerakan tanah dan sensor orientasi tiga dimensi (3D) yang berfungsi mendeteksi perubahan posisi tanah secara dini.
Dalam satu kesatuan alat tersebut, Modathus dapat mengukur berbagai parameter penting, mulai dari curah hujan, kelembapan tanah, suhu, kelembapan udara, hingga pergerakan tanah. Jadi, Modathus dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan secara menyeluruh.
Modathus memiliki cara kerja yang sederhana. Data yang dikumpulkan oleh Modathus dikirim secara otomatis ke peladen (server) berbasis internet melalui microcontroller dan sistem transmisi data. Informasi tersebut kemudian dianalisis menggunakan Antecedent Precipitation Index (API) sebagai indikator utama untuk menilai tingkat risiko.
Dalam konteks cara kerja Modathus, penggunaan API dimaksudkan untuk menghubungkan data curah hujan yang tercatat oleh sensor dengan tingkat kelembaban tanah di lapangan. Indeks ini menghitung pengaruh hujan yang terjadi sebelum waktu pengamatan, sehingga sistem membaca kondisi sesaat sekaligus memahami akumulasi air di dalam tanah.
Jadi, secara sederhana indeks ini memungkinkan sistem menilai tingkat kejenuhan tanah akibat akumulasi hujan sebelumnya. Dengan begitu, potensi longsor dapat diprediksi lebih awal dan upaya mitigasi dapat dilakukan sebelum kondisi kritis terjadi.
Sebelum dikembangkan menjadi Modathus, sistem pemantauan ini dikenal sebagai Athus yang merupakan singkatan dari Alat Takar Hujan Sederhana. Sesuai namanya, Athus adalah alat pendataan curah hujan dan kondisi lingkungan yang masih bersifat sederhana dan mengandalkan partisipasi masyarakat melalui pendekatan citizen science.
Dalam acara Indonesia Research and Innovation Expo (INARI Expo) 2025 beberapa waktu lalu, Hunggul menyebut bahwa sains seharusnya bisa disentuh dan dipahami semua orang. Dengan Athus, BRIN ingin mengajak masyarakat untuk ikut mengamati alamnya sendiri.
“Dengan Athus, masyarakat bisa mencatat sendiri curah hujan di lingkungannya. Data ini sangat berharga untuk memahami pola hujan lokal dan membantu mitigasi bencana,” katanya.
Saat pengembangan awal, Athus dirancang dengan komponennya sederhana yakni pipa transparan dengan skala pengukur di bagian luar yang berfungsi menampung dan mengukur air hujan. Dengan konsep berbiaya rendah dan mudah dikembangkan, perangkat ini memungkinkan pemasangan secara massal di berbagai wilayah rawan bencana.
Alat ini juga telah ditempatkan di sejumlah sekolah dasar. Penempatan Athus di lingkungan sekolah tidak hanya bertujuan menghasilkan data curah hujan, tetapi juga sebagai sarana edukasi terkait kesadaran kebencanaan sejak dini. Anak-anak pun akhirnya akan memahami bahwa hujan dengan intensitas tinggi dapat memicu banjir maupun longsor.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto dalam sejumlah kesempatan juga selalu menekankan pentingnya kesadaran kebencanaan sejak dini, termasuk di kalangan pelajar. BNPB pun telah memasukkan materi tentang kesiapsiagaan bencana ke kurikulum pendidikan untuk diimplementasikan oleh setiap satuan pendidikan.
BNPB bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga telah mengedukasi anak didik dengan hal-hal sederhana namun sangat membantu ketika terjadi bencana alam. Beberapa di antarnya yakni langkah-langkah yang dilakukan ketika terjadi gempa bumi hingga anjuran menghindari pinggir bukti karena memiliki potensi longsor.




