Bisnis.com, BANDA ACEH — Letusan super Toba sekitar 74.000 tahun lalu tercatat sebagai salah satu peristiwa geologi paling dahsyat yang pernah terjadi di Bumi dan dampaknya masih dapat ditelusuri hingga hari ini.
Letusan tersebut membentuk Danau Toba sebagai kaldera raksasa hasil runtuhan puncak gunung api. Struktur geologi ini menjadi penanda kuat bahwa peristiwa tersebut berskala megakolosal dan melibatkan proses tektono-volkanik yang sangat besar.
“Katastrofi geologi yang memicu katastrofi iklim ini telah mereduksi evolusi dan migrasi manusia, membunuh 90 persen manusia saat itu, sehingga menyebabkan kepunahan massa,” tulis Awang H. Satyana dan tim dalam artikel yang terbit di Ikatan Ahli Geologi Indonesia.
Danau Toba merupakan kaldera terangkat kembali atau resurgent cauldron terbesar di dunia. Setelah letusan besar terjadi, bagian gunung yang runtuh mengalami pengangkatan kembali dan membentuk Pulau Samosir serta Blok Uluan atau Parapat, menjadi bagian penting bentang alam Sumatera Utara.
Letusan Toba diklasifikasikan memiliki indeks ledakan volkanik di atas nilai maksimum VEI 8. Material letusan yang terlontar diperkirakan mencapai minimal 2.800 kilometer kubik dan membentuk kolom abu hingga ketinggian lebih dari 40 kilometer ke atmosfer.
Sebaran abu vulkanik Toba sangat luas dan ditemukan di daratan Asia Selatan hingga dasar laut Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Endapan tersebut menutupi area sekitar empat juta kilometer persegi, menjadikannya salah satu peristiwa letusan dengan jangkauan terluas yang pernah tercatat.
Baca Juga
- Bosan ke Danau Toba? Intip 5 Hidden Gem di Sumut, Wajib Masuk Bucket List 2026
- Dari Danau Toba untuk Indonesia dan Dunia
- Transportasi Baru di Danau Toba, Bobby Nasution Jajal Pesawat Amfibi
Dampak terbesar dari letusan ini bukan hanya bersifat lokal, tetapi global. Aerosol sulfur dan abu halus yang terlontar ke stratosfer secara signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi hingga hanya tersisa 0,001 sampai 10 persen.
Kondisi tersebut memicu musim dingin vulkanik selama enam hingga sepuluh tahun dan diikuti periode dingin yang berlangsung sekitar seribu tahun. Penurunan cahaya Matahari menyebabkan fotosintesis terhenti dan memutus rantai makanan secara global.
Penurunan temperatur global diperkirakan mencapai tiga hingga lima derajat Celsius. Pada saat yang sama, penguapan menurun drastis, hujan menjadi jarang, dan muka air laut dilaporkan turun hingga sekitar 40 meter dibandingkan kondisi sebelum letusan.
Dalam jangka panjang, perubahan iklim ekstrem ini diduga mempercepat penciutan populasi manusia atau genetic bottleneck. Populasi manusia kala itu diperkirakan turun sangat tajam hingga hanya tersisa ribuan individu yang bertahan.
Warisan letusan Toba masih nyata hingga kini. Struktur Danau Toba dan Pulau Samosir menjadi pengingat bahwa peristiwa geologi purba dapat meninggalkan dampak panjang bagi evolusi Bumi dan kehidupan manusia.




