JAKARTA, KOMPAS — TNI Angkatan Laut telah menahan dan tengah memeriksa lima anggotanya yang diduga terlibat penganiayaan terhadap Berkam Saweduling, warga di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, yang berprofesi sebagai guru. TNI AL juga telah mengevakuasi korban ke Manado, untuk mendapatkan penanganan medis lebih intensif.
Evakuasi korban dilakukan oleh Tim Kesehatan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII, Minggu (25/1/2026). Korban, yang menderita luka-luka akibat insiden tersebut, dibawa menggunakan kapal penumpang dari Talaud menuju Manado. Setibanya di Manado, korban langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Dr RD Kandou untuk perawatan lanjutan.
”Proses evakuasi dilakukan cepat mengingat kondisi korban memerlukan penanganan medis lebih intensif. Kondisi korban terpantau stabil selama perjalanan,” demikian keterangan Dinas Kesehatan Kodaeral VIII mewakili Komandan Kodaeral VIII Laksamana Muda Dery Triesananto Suhendi melalui siaran pers yang diterima Kompas di Jakarta, Minggu.
Kekerasan ini terjadi di kawasan Pelabuhan Melonguane, Kamis (22/1/2026) malam, sekitar pukul 23.30 Wita. Peristiwa ini melibatkan anggota TNI AL dan warga setempat. Dalam keterangan persnya di Manado, Sabtu (24/1/2026), Laksda Dery membenarkan bahwa insiden tersebut dipicu oleh pengaruh minuman beralkohol yang dikonsumsi anggotanya.
Warga yang menjadi korban penganiayaan itu adalah Berkam Saweduling, yang disebut oleh beberapa pihak sebagai seorang guru SMK. Berdasarkan video-video yang beredar di media sosial, Berkam babak belur dengan mata kanan yang tertutup kain kasa. Berbagai luka gores terlihat di punggungnya, sementara kedua lututnya juga terluka.
Adapun Berkam menegur lima prajurit TNI AL yang sedang berkaraoke sekitar pukul 23.30 Wita, tetapi teguran tersebut tidak diindahkan. Meski begitu, Kodaeral VIII tak mengonfirmasi dugaan tersebut.
Proses evakuasi dilakukan cepat mengingat kondisi korban memerlukan penanganan medis lebih intensif. Kondisi korban terpantau stabil selama perjalanan.
Akibat kejadian tersebut, situasi di area pelabuhan sempat tidak kondusif dan memicu reaksi masyarakat setempat. Situasi akhirnya kondusif setelah TNI AL menahan lima oknum anggota Pangkalan TNI AL (Lanal) Melonguane yang terlibat.
Dery menegaskan, pihaknya tidak akan mentoleransi segala bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan prajurit, apalagi yang merugikan rakyat. Saat ini, kelima oknum tersebut telah ditahan oleh Detasemen Polisi Militer (Pomal) TNI AL untuk menjalani pemeriksaan intensif.
”Kami memohon maaf kepada masyarakat Melonguane atas ketidaknyamanan yang terjadi. Peristiwa ini menjadi bahan evaluasi serius dalam pembinaan personel agar lebih disiplin dan humanis,” kata Dery.
Selain penegakan hukum, Lanal Melonguane telah memberikan bantuan pengobatan dan tali asih kepada korban. Mediasi juga telah dilakukan dengan melibatkan pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh agama setempat untuk meredam ketegangan. TNI AL memastikan situasi di wilayah perbatasan tersebut telah kembali kondusif.
Menanggapi kejadian ini, pemerhati militer Fauzan Malufti menilai eskalasi kemarahan warga yang terjadi sangat cepat perlu menjadi perhatian khusus. Aksi warga yang sampai menyerbu markas hingga melepas tali tambat sehingga kapal TNI AL terdampar dan rusak, mengindikasikan adanya potensi keresahan yang sudah lama terpendam.
”Perlu investigasi mendalam apakah ini bukan insiden pertama. Apakah memang warga selama ini sudah resah dengan oknum-oknum di sana sehingga akhirnya amarah tak terbendung lagi,” kata Fauzan saat dihubungi dari Jakarta, Minggu.
Fauzan juga mengingatkan, evaluasi disiplin prajurit menjadi krusial mengingat rencana ekspansi satuan TNI dalam beberapa tahun ke depan. Ini seperti penambahan batalyon infanteri dan skadron baru terkait teritorial pembangunan.
”Jika tidak ada perbaikan kualitas dan disiplin, dikhawatirkan gesekan antara prajurit dan masyarakat sipil akan semakin sering terjadi seiring bertambahnya jumlah personel” ujarnya.




