Jakarta, ERANASIONAL.COM —Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan bahwa penggunaan penyedap rasa atau Monosodium Glutamat (MSG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak menjadi masalah, selama digunakan sesuai dengan batas aman yang telah ditetapkan
Pernyataan tersebut disampaikan Dewan Pakar Bidang Gizi BGN, Ikeu Tanziha dalam acara Puncak Pekan Gizi 2026 di Jakarta, Minggu (25/01/2026).
Ikeu menekankan MSG merupakan bahan pangan yang telah dinyatakan aman oleh otoritas terkait, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), selama dikonsumsi tidak berlebihan.
“Apakah MSG tidak boleh dikonsumsi? Boleh. Makanya BPOM juga kan mengeluarkan nomor, nomor serinya ya, sebagai bahan makanan yang aman. Tetapi tentu saja dalam batas-batas tertentu. Gitu, ya,” ujar Ikeu seperti dikutip melalui siaran langsung YouTube BGN.
Lebih lanjut, Ikeu menjelaskan dalam pelaksanaan program MBG, penggunaan MSG diperbolehkan dengan takaran yang telah dihitung secara cermat oleh para ahli gizi.
“Nah, yang kami di MBG itu boleh enggak menggunakan MSG? Boleh. Tapi hanya satu gram per satu kilo. Gitu, ya. Udah dihitung nih, satu gram per satu kilo. Artinya itu tidak akan berdampak kepada kesehatan,” katanya.
MSG untuk Cita Rasa
Menurut Ikeu, MSG hanya berfungsi untuk meningkatkan cita rasa makanan, bukan sebagai komponen utama dalam menu MBG.
Ia juga menyinggung keluhan sebagian masyarakat yang menilai menu MBG terasa hambar atau anyep.
“Hanya apa? MSG itu hanya untuk meningkatkan cita rasa saja. Kan katanya anyep nih sekarang ini ya, enggak ‘Kok makanan MBG anyep?’ Karena semua ahli gizi takut enggak pakai MSG,” tuturnya.
Dengan kebijakan tersebut, Ikeu menegaskan penggunaan MSG tetap dibatasi secara ketat. Seperti yang disinggung di awal, penyedap digunakan hanya sekitar satu gram per satu kilo makanan.
“Nah, kenapa harus ada MSG? Bapak Ibu sekalian, kalau makanan itu masuk ke lidah dan terasa enak, itu akan mengeluarkan hormon-hormon yang dibutuhkan,” kata Ikeu.
“Gitu, ya. Jadi nanti di lidah itu akan keluar misalnya untuk mencerna protein atau kah karbohidrat. Sehingga makanan enak akan membuat metabolisme juga sempurna. Nah, itu. Jadi yang jelas adalah tidak boleh berlebihan. Itu ya, Bapak. Boleh,” tandas Ikeu.



