Perangkat ini adalah manifestasi fisik dari visi Microsoft untuk membawa ekosistem Xbox ke saku, tanpa meninggalkan fleksibilitas PC. ROG Xbox Ally X menjanjikan performa monster berkat chipset AMD Ryzen AI Z2 Extreme terbaru. Namun, apakah penambahan nama "Xbox" dan peningkatan jeroan ini cukup untuk menjustifikasi harganya? Mari kita bedah lebih dalam.
Perubahan pertama yang langsung terasa saat memegang ROG Xbox Ally X adalah fisiknya. Asus tidak lagi berusaha membuat perangkat setipis mungkin. Mereka kini memprioritaskan kenyamanan genggaman (grip).
Secara dimensi, perangkat ini lebih tebal (50,7 mm) dibandingkan pendahulunya, ROG Ally X (36,9 mm). Ketebalan ekstra ini difokuskan pada bagian handgrip yang kini berkontur dalam, sangat mirip dengan geometri kontroler Xbox Wireless. Bagi gamer dengan tangan besar, perubahan ini menguntungkan. Telapak tangan dapat mengisi ruang dengan sempurna, mengurangi kram saat sesi bermain panjang.
Estetikanya mengusung tema Blackout yang serba hitam dan elegan. Perubahan fisik paling ikonik terletak pada tombol wajah (face buttons). Selain Armoury Crate telah yang ada di seri sebelumnya, kini hadir tombol Xbox fisik. Bukan cuma kosmetik, tombol ini memberikan akses instan ke dashboard sistem, mempertegas identitasnya sebagai konsol portabel.
Bobotnya meningkat menjadi sekitar 715 gram. Meskipun lebih berat dari Steam Deck OLED, distribusi massanya sangat seimbang berkat grip yang besar, sehingga perangkat tidak terasa jatuh ke depan saat dipegang. Kualitas tombol ABXY dan D-pad juga telah direvisi untuk memberikan umpan balik taktil yang lebih responsif, cocok untuk game fighting maupun platformer.
Pada sektor I/O, ROG Xbox Ally X memanjakan pengguna dengan dua port USB-C di bagian atas. Port pertama mendukung standar USB4 (kompatibel dengan Thunderbolt 4), yang memungkinkan transfer data ultra-cepat hingga 40Gbps dan dukungan untuk GPU eksternal (eGPU).
Port kedua adalah USB 3.2 Gen 2 yang mendukung pengisian daya dan display out. Konfigurasi ini sangat krusial karena memungkinkan pengguna mengisi daya perangkat sambil tetap menghubungkan aksesori lain atau monitor eksternal tanpa perlu dongle yang rumit.
Untuk konektivitas nirkabel, perangkat ini dilengkapi dengan Wi-Fi 6E untuk unduhan game cepat dan latensi rendah saat cloud gaming, serta Bluetooth 5.2 untuk koneksi audio dan kontroler nirkabel yang stabil.
Isu slot microSD yang sempat menghantui ROG Ally generasi pertama (2023) dipastikan tidak akan terulang. Slot microSD UHS-II pada unit ini ditempatkan jauh dari ventilasi pembuangan panas, memastikan kartu memori Anda aman dari kerusakan termal bahkan saat mode Turbo aktif.
Jika perangkat keras adalah tubuhnya, maka perangkat lunak adalah jiwanya. Di sinilah ROG Xbox Ally X membedakan dirinya dari kompetitor. Fitur unggulan utamanya adalah Xbox Full Screen Experience (FSE). Berbeda dengan Armoury Crate SE yang terasa seperti launcher aplikasi di atas Windows, FSE adalah mode antarmuka yang mendalam. Saat perangkat dinyalakan, kita tidak disambut desktop Windows seperti menyalakan PC biasa, melainkan antarmuka yang dirancang 100% untuk kontroler, mirip dashboard konsol Xbox Series X.
Keunggulan FSE tidak hanya pada tampilan. Mode ini secara cerdas mengelola sumber daya sistem. Laporan teknis menunjukkan bahwa saat FSE aktif, penggunaan RAM sistem berkurang sekitar 9% dibandingkan mode desktop Windows biasa. Ini berarti lebih banyak memori yang tersedia untuk game, mengurangi risiko stuttering. Selain itu, integrasi dengan Xbox Game Pass sangat mulus, memungkinkan sinkronisasi save data (Play Anywhere) antara konsol rumahan dan handheld Anda tanpa friksi.
Fitur masa depan yang juga disematkan adalah kesiapan AI. Berkat NPU XDNA 2, perangkat ini siap mendukung fitur AutoSR (Automatic Super Resolution) dari Microsoft yang dijadwalkan hadir penuh pada 2026. Fitur ini menjanjikan upscaling game berbasis AI tanpa membebani GPU utama.
Di atas kertas, spesifikasi ROG Xbox Ally X adalah handheld terkuat di pasaran saat ini. Layar: Layarnya menggunakan panel IPS 7 inci, resolusi 1920x1080 (FHD), refresh rate 120Hz, kecerahan 500 nits, dengan dukungan FreeSync Premium (VRR). Prosesor AMD Ryzen AI Z2 Extreme menggunakan arsitektur CPU Zen 5 (8 Core, 16 Thread) yang memberikan efisiensi instruksi per siklus (IPC) jauh lebih tinggi dibanding Zen 4. Untuk GPU AMD Radeon 890M berbasis arsitektur RDNA 3.5 dengan 16 Compute Units (CU). Peningkatan dari 12 CU pada Z1 Extreme memberikan tenaga grafis 33% lebih besar secara teoritis.
Dengan RAM 24GB LPDDR5X dan penyimpanan 1TB PCIe Gen 4 NVMe SSD, ia sudah memiliki kapasitas yang besar. Nantinya kita juga bisa mengupgrade SSD ini, dan Asus memberikan fleksibilitas yang baik tanpa merusak garansi.
Dalam pengujian game berat seperti Cyberpunk 2077 (preset Steam Deck/Medium), Z2 Extreme mampu mencapai rata-rata 63fps dalam mode Turbo. Ini adalah peningkatan signifikan dari Z1 Extreme yang biasanya berkutat di angka 45-50fps. Black Myth: Wukong, judul Unreal Engine 5 yang sangat berat, kini dapat dimainkan secara stabil di 35-40fps native, atau lebih tinggi dengan bantuan frame generation. Sisanya, kita sangat bisa menikmati game lainnya yang tidak menuntut spesifikasi berat yang tersimpan di library Steam pada rata-rata 70fps.
Soal baterai, kapasitasnya kini sudah 80Wh, memastikan jam bermain lebih lama. Dalam penggunaan harian, kita bisa bermain hingga lima jam nonstop. Pengaktifan mode efisien akan membuat waktu bermain bertambah hingga satu jam. Bagaimana dengan panasnya?
sistem pendingin Zero Gravity dengan kipas ganda bekerja sangat baik. Meskipun menjalankan daya 30W, perangkat tetap relatif hening dengan karakteristik suara desisan angin yang halus, bukan dengungan nada tinggi yang mengganggu. Suhu pada area pegangan tangan tetap dingin, memastikan kenyamanan pengguna.
Kesimpulan
Jika kamu adalah seorang gamer yang menginginkan performa terbaik tanpa kompromi, mencintai ekosistem Xbox Game Pass, dan menginginkan perangkat yang terasa seperti konsol premium alih-alih laptop yang dipaksa masuk ke bodi kecil, Asus ROG Xbox Ally X adalah pilihan mutlak.
9.7
Asus ROG Xbox Ally X
Plus
- Performa bagus untuk kelas handheld gaming
- Grip sangat ergonomis
- Panas tidak mengganggu pada sesi intens
- Antarmuka Xbox intuitif dan enteng
Minus
- Harga
- Layar masih IPS
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




