Wall Street Pekan Depan Dibayangi Laporan Keuangan dan Arah Suku Bunga Acuan

idxchannel.com
20 jam lalu
Cover Berita

Investor di bursa saham AS, Wall Street, pada pekan depan bakal mengalihkan fokusnya kepada prospek keuntungan terkait AI dan arah suku bunga acuan.

Wall Street Pekan Depan Dibayangi Laporan Keuangan dan Arah Suku Bunga Acuan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Investor di bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, pada pekan depan bakal mengalihkan fokusnya kepada prospek keuntungan terkait kecerdasan buatan (AI) dan arah suku bunga acuan oleh Federal Reserve.

Dilansir dari Reuters, Minggu (25/1/2026), saham di AS mengalami penurunan tajam sepekan akibat dampak dari sikap agresif Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland, yang mengancam perang dagang baru dengan Eropa.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menghijau Imbas Meredanya Kekhawatiran Tarif Trump Soal Greenland

Pasar awalnya terguncang. Harga saham, obligasi, dan dolar AS semuanya merosot, menjadikannya sebuah kejadian yang tidak biasa. Namun, indeks ekuitas utama pulih kembali di akhir pekan setelah Trump menarik kembali ancaman tarif, menunjukkan kesepakatan untuk Greenland sudah di depan mata.

"Ini seperti perjalanan roller coaster yang singkat namun curam selama beberapa hari terakhir," kata Kepala Strategi Investasi PNC Financial Services Group, Yung-Yu Ma.

Baca Juga:
Wall Street Tutup Pekan di Zona Merah, Laba Intel Jadi Pemberat

Investor Mencari Info tentang Manfaat AI terhadap Keuntungan

Baca Juga:
Trump Gugat Raksasa Wall Street JPMorgan Rp84 Triliun

Pekan pelaporan mendatang dapat mengalihkan perhatian ke prospek keuntungan perusahaan AS, dengan pendapatan secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat secara substansial tahun ini termasuk keuntungan dari kelompok perusahaan yang lebih luas.

Dari indeks S&P 500, sejumlah perusahaan akan melaporkan hasil kuartalan, termasuk Apple, Microsoft, Meta Platforms, dan Tesla, dari tujuh perusahaan megakapitalisasi Magnificent 7.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Mixed Tertekan Prospek Kinerja Intel yang Suram  

Setelah mencatatkan kenaikan dua digit untuk tahun ketiga berturut-turut bagi S&P 500, indeks acuan ini naik sekitar 1 persen di awal 2026. Valuasi indeks juga di atas 22 kali lipat dari perkiraan pendapatan perusahaan S&P 500, jauh lebih tinggi dari rata-rata jangka panjangnya sebesar 15,9.

Tema penting pada musim pendapatan ini adalah apakah perusahaan mulai menuai manfaat dari investasi terkait AI. Keraguan bahwa pengeluaran besar-besaran untuk pusat data dan infrastruktur lainnya akan menghasilkan keuntungan membebani saham teknologi dan saham terkait AI lainnya pada akhir 2025, setelah kelompok tersebut menjadi pendorong utama pasar bullish saham AS yang memasuki tahun keempatnya.

Prospek Suku Bunga The Fed

Investor secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil ketika memberikan keputusan kebijakan moneternya pada Rabu. Setelah bank sentral AS menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada masing-masing dari tiga pertemuan terakhirnya di 2025, kontrak berjangka Fed Funds memperkirakan setidaknya satu lagi penurunan suku bunga tahun ini, menurut data LSEG.

"Kami memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal akan mengambil jeda yang lebih lama karena suku bunga Fed Funds mendekati netral, risiko penurunan pasar tenaga kerja telah mulai mereda, dan inflasi telah mencapai puncaknya," kata Kepala Ekonom AS di Oxford Economics, Michael Pearce dalam sebuah catatan.

Prospek suku bunga jangka pendek dapat menjadi prioritas kedua dibandingkan isu-isu seputar independensi politik Fed. Pertemuan ini menyusul pengungkapan bulan ini bahwa Ketua Fed Jerome Powell menghadapi ancaman hukum dari pemerintahan Trump, yang oleh Powell disebut sebagai dalih untuk mendapatkan penurunan suku bunga dramatis yang diinginkan Trump.

Sementara itu, Trump sedang mempertimbangkan keputusannya tentang calon pengganti Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada Mei. Keputusan tersebut mungkin akan segera diambil.

Investor akan tetap waspada terhadap perubahan geopolitik yang tak terduga atau usulan kebijakan lain dari pemerintah.

"Jika situasi di Greenland, misalnya memburuk, dan kemudian kita menghadapi ancaman tarif dan hal-hal semacam itu, itu tentu akan merusak kepercayaan dan mungkin menekan pasar saham," kata Senior Market Strategist at Franklin Templeton, Chris Galipeau.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Fakta Medis: Wanita Lebih Berisiko Mengalami Nyeri Leher
• 20 jam lalugenpi.co
thumb
Kajari Sampang dan Kajari Magetan Diperiksa Kejagung, Dibawa ke Jakarta
• 20 jam laludetik.com
thumb
Antisipasi Banjir, Gubernur Pramono Tinjau Pengerukan Kali Sepak di Kembangan | JMP
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Strategis di Hambalang Usai Lawatan Luar Negeri
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Bunuh Anak Kandungnya, Pria di Sukodadi Lamongan Terancam Hukuman Seumur Hidup
• 6 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.