GenPI.co - Nyeri leher sering kali dianggap sepele, seolah hanya akibat salah posisi tidur.
Dilansir Your Tango, dalam beberapa kasus, nyeri leher bisa sangat mengganggu hingga menghambat aktivitas.
Nyeri leher bisa dipicu berbagai hal, mulai dari postur tubuh yang kurang baik, gerakan mendadak saat olahraga, kebiasaan menunduk terlalu lama saat bermain ponsel, hingga cedera.
Hampir semua orang pernah mengalaminya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih sering merasakan nyeri leher dibandingkan pria.
Studi dari Loyola University Medical Center dan Loyola University Chicago Stritch School of Medicine menemukan bahwa wanita memiliki kemungkinan 1,38 kali lebih besar untuk melaporkan nyeri leher akibat penyakit degeneratif diskus servikal.
Penyakit degeneratif diskus servikal merupakan salah satu penyebab paling umum nyeri leher.
Kondisi ini biasanya ditandai dengan leher kaku atau sulit digerakkan, sensasi terbakar, kesemutan, dan mati rasa.
Rasa nyeri sering muncul atau memburuk saat penderita berdiri tegak dan menggerakkan kepala.
Studi yang dipimpin Meda Raghavendra dan Joseph Holtman ini melibatkan 3.337 pasien di Pusat Manajemen Nyeri Loyola, dengan wanita mendominasi partisipan hingga 61 persen.
Temuan ini memperkuat bukti ilmiah yang menunjukkan adanya perbedaan cara pria dan wanita merasakan nyeri.
Secara biologis, wanita cenderung mengalami rasa sakit yang lebih intens karena perbedaan cara kerja otak.
Wanita memiliki lebih sedikit mekanisme penghambat rasa sakit, kadar testosteron lebih rendah, dan kepekaan lebih tinggi terhadap sinyal tubuh.
Oleh karena itu, keluhan nyeri leher pada wanita sebaiknya tidak dianggap remeh.
Cobalah pijat, terapi, dan perawatan relaksasi seperti spa untuk meredakan nyeri leher. (*)
Tonton Video viral berikut:


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471604/original/004210100_1768290584-John_Herdman_-13.jpg)


