Bencana longsor disertai banjir bandang menerjang Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026. Peristiwa yang terjadi saat warga terlelap ini mengakibatkan belasan orang tewas dan lebih dari 80 orang dilaporkan hilang tertimbun material tanah. Hingga Minggu 25 Januari, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 25 kantong jenazah, sementara ratusan warga lainnya terpaksa mengungsi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti penyebab utama petaka ini: alih fungsi lahan yang tak terkendali. Berdasarkan pantauan di lokasi, kawasan yang seharusnya menjadi hutan lindung di lereng hingga puncak bukit telah berubah drastis menjadi perkebunan sayur.
"Jelas kebun sayur di kemiringan, dan di atasnya kebun sayurnya sudah naik ke puncak, pohon-pohonnya sudah mulai ditebangin," tegas Dedi.
Baca juga:
Pengungsi Longsor Cisarua Bertambah Jadi 680 Orang
Praktik pertanian yang tidak memperhatikan mitigasi bencana ini membuat tanah menjadi labil dan tak mampu menahan curah hujan ekstrem. Dedi menyebut tata ruang di kawasan tersebut sudah salah sejak awal.
Relokasi dan Reforestasi Mutlak Dilakukan
Merespons tragedi ini, pemerintah pusat dan daerah bergerak cepat. Bupati Bandung Barat menetapkan status darurat bencana untuk memaksimalkan pencarian korban. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang meninjau lokasi menginstruksikan percepatan penanganan korban, khususnya kelompok rentan, serta merencanakan relokasi hunian yang tidak jauh dari tempat asal.
Senada dengan Wapres, Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kawasan terdampak tidak lagi layak huni. Solusi jangka panjang yang akan ditempuh adalah merelokasi warga dan melakukan reforestasi atau menghutankan kembali area tersebut untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa depan.


