REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG, – Capt. Andy Dahananto, pilot pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu malam (24/1), dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam profesinya. Sahabat almarhum, Capt. Djarot Harnanto, mengenang Andy sebagai pilot senior yang loyal dan penuh dedikasi.
Capt. Andy Dahananto dan Capt. Djarot Harnanto berkenalan saat menempuh pendidikan di Juanda Flying School pada 1985-1987. Kedekatan mereka terjalin karena satu kamar dan satu angkatan di asrama. Menurut Djarot, Andy dikenal sebagai sosok humoris, cerdas, dan santun.
Sejak lulus dari pendidikan penerbangan, Andy berkarir di Indonesia Air Transport (IAT) dan tidak pernah berpindah perusahaan. Dedikasi dan loyalitasnya yang tinggi menjadikannya panutan bagi para pelaku profesi penerbangan di Indonesia.
Capt. Djarot mengenang kenangan konyol bersama Andy, seperti saat ia menjahili Andy dengan mengganti sampo dengan kecap. Kebersamaan tersebut menunjukkan betapa akrab dan menyenangkan hubungan persahabatan mereka.
Sebelum tragedi terjadi, Capt. Andy sempat berkomunikasi melalui panggilan video grup bersama rekan-rekan penerbang. Dalam komunikasi tersebut, mereka saling bertukar kabar dan informasi terkini mengenai dunia penerbangan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah Capt. Andy Dahananto dan sembilan korban lainnya dari kecelakaan pesawat tersebut. Jenazahnya diterbangkan ke Jakarta dan diserahkan kepada keluarga di Tangerang untuk dikebumikan di TPU Ranca Sadang, Desa Sodong.
Capt. Djarot berharap keluarga yang ditinggalkan dapat tabah menghadapi cobaan ini dan mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik. "Saya yakin, ini adalah 'happy ending' untuk almarhum," ujarnya.